Showing posts with label Articles. Show all posts
Showing posts with label Articles. Show all posts

Friday, June 20, 2014

Friendship? (Cerpen)

            “Kamu sudah makan?”
            “Sudah. Kamu?”
            “Sudah sebelum jemput kamu kesini. Mau kemana kita?”
            “Bukannya kita tidak pernah berencana tiap kali akan pergi bersama?”
            “Tapi aku yang menyetir, Sayang. Lalu akan dikemanakan mobil ini?”
            “Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kamu bukan pacarku”

         Ada senyum simpul yang mengembang di bibir laki-laki itu saat aku mengucapkan kalimat barusan. Aku hanya memalingkan wajah sembari tertawa tanpa suara. Kami selalu seperti ini. Mendeklarasikan diri tidak sebagai sepasang kekasih. Memang, kami bukan sepasang kekasih. Kami hanya dua orang yang saling terjebak dalam zona berteman yang kami ciptakan sendiri. Tapi apa ada dua orang berteman yang menyebut diri mereka sebagai “kami”? Bukan Aku dan Dia? Entahlah. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kami merasa nyaman berada di pusaran yang sama tanpa satu pun ingin melepaskan diri.
            “Tadi sebelum aku kesini.....”
            Ia mulai bercerita. Aku akan dengan sendirinya memutar kepala ke arah kanan meskipun aku tahu ia takkan melakukan hal yang sama melihat ke kursi penumpang di sebelah karena fokus dengan jalanan di depan. Ia hanya akan sesekali menoleh beberapa detik, tersenyum atau tertawa, lalu akan bertanya mengapa aku memandanginya seperti itu. Konyol bukan? Aku hapal mati urutan kejadian yang biasa terjadi diantara kami.

     “Kamu kenapa sih ngelamun gitu? Galau?”, oloknya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi.
          “Aku cuma bingung akan kemana kita”
        “Astaga!”, serunya sembari menepuk dahi. Ia lalu tertawa renyah menertawakan kebodohannya yang belum mengaktifkan aplikasi peta di ponsel. Ia dan aku sama-sama tidak mengenal daerah ini. Kota ini. Kota yang meskipun lalu lintasnya salah satu yang terpadat di dunia, tapi masih terlalu asing bagiku yang baru saja menjadikannya tempat menuntut ilmu sementara waktu. Seperti biasanya ia akan menyetir lalu aku akan membaca peta –tidak benar-benar membaca karena sesekali kuperlihatkan rute perjalanan ini padanya, aku tidak pandai membaca peta-, lalu hari kami akan berjalan cepat seperti biasanya. Matahari akan begitu egois ingin berganti tugas dengan bulan, membiarkan kami meratapi mengapa begitu cepat malam datang. Saat berjalan beriringan, kami akan bercerita mengenai apa saja. Lalu kami akan berbagi senyum dan tawa. Entah apa yang dirasakannya, tapi menurutku saat-saat berbagi rindu seperti ini sangat menyenangkan. Aku tidak bisa melihatnya setiap hari, begitupun dia. Kami tidak terpisah jarak yang terlampau jauh, tapi kami tidak bisa menemui satu sama lain setiap harinya. Aneh, bukan? Tapi itu yang membuat setiap pertemuan terasa berkesan. Kenyataan bahwa kami tidak akan bertatap muka langsung setiap harinya membuat kami menghargai setiap detik dari pertemuan.

            Saat duduk berdampingan lagi di jalan pulang, kami akan diam. Mengunci bibir dengan ekpresi wajah datar agar satu sama lain tidak tahu jika sebenarnya kami tidak ingin pertemuan hari ini berakhir. Saat puluhan mobil berjalan merambat di lalu lintas yang padat, tangan kirinya akan menggenggam jemariku. Bukan genggaman yang kuat, namun jenis genggaman yang didalamnya terdapat banyak kata yang tidak tersampaikan.
            “Kamu hati-hati ya. Jangan melamun kalau sedang menyetir. Beritahu aku kalau sudah sampai di rumah”, ucapku lirih ditelan suara penyiar radio. Ucapan selamat tinggal yang begitu ku benci tapi harus ku ucapkan juga.
            “Bisa tidak ya waktu dihentikan?”, ujarnya pelan.
            “If you could do that, would you?”. Aku balik bertanya.

           Saat mobil ini berhenti di tempatku tinggal, kami akan bertatapan sesaat. Lalu aku akan menyesali begitu banyak kata yang tidak bisa ku ucapkan selama beberapa jam bersamanya tadi. Entah mengapa lidahku kelu saat bersamanya hingga begitu sulit hanya untuk sekedar berkata ‘rindu’ atau ‘butuh’. Kemudian bisikan-bisikan kecil kembali menelusup ke sela-sela otakku mengatakan bahwa tidak seharusnya aku merasa begini. Tidak seharusnya aku merasa rindu berlebihan pada seorang teman. Tidak seharusnya aku menatap kosong pada dirinya yang semakin menjauh dan jarak  yang semakin merentang luas diantara kami. Dia itu temanku. Sekat antara kami sangat tipis hingga orang lain terkadang salah sangka dan harus melihat lebih dekat bahwa kami sebenarnya tidak lebih dari dua orang yang sering menghabiskan waktu bersama tanpa ikatan apa-apa.

            “Are you guys in a relationship?”. Begitulah kira-kira yang selalu dipertanyakan orang-orang ketika melihat kebersamaan kami. Terkadang aku pun heran, apa salahnya jika temanku ini tahu benar kebiasaanku dan aku pun hapal makanan kesukaannya. Apa yang salah dari teman yang setiap harinya mengucapkan selamat pagi dan tidak lupa mengingatkan makan? Tapi aku mengerti benar, jika kami punya cukup keberanian, tidak sulit untuk membuat hubungan ini “berbentuk”. Lalu jika diberondong pertanyaan demikian, dia hanya akan tertawa jahil dan aku hanya akan menjawab, “Not that kind of relationship.” Tapi tidak satupun diantara kami berniat mendeklarasikan Ya atau Tidak, karena kami memang berdiri di tengah-tengah sekat pembatas yang jelas, namun tidak kasat mata.
           



Saturday, November 3, 2012

Acquisence

Siang yang sepi. Aku suka kesunyian. Tapi berbagai suara di pikiranku merusak semuanya. Ia berseliweran tanpa henti menggaungkan kata-kata yang sama. Sebegitu menusuknya sampai yang bisa kurasakan hanya sakit dan otakku tidak bisa berpikir. Sebegitu tidak bisa berpikirnya sampai kubiarkan saja tetes demi tetes bening itu keluar begitu saja dari kelopak mata sampai membasahi kaus.

Aku lelah mencoba merelakan. Kenapa kita harus merelakan? Apa sesuatu itu sebegitu tidak pantas digenggam hingga harus dilepaskan? Tapi aku ingin merelakan. Karena mungkin jika berhasil, aku bisa menyebut namamu dengan lancar lalu bisa memandang fotomu dengan senyum. Aku bisa terbangun dengan memikirkan hal lain, bukan dirimu. Aku bisa memimpikan yang lain, bukan sosokmu. Kau kira aku tidak pernah mencoba merelakan? Aku sudah bosan melakukannya. Tapi semakin aku mencoba membuang sosokmu jauh-jauh, bayangan itu malah mengejar. Seolah menarik supaya aku terjatuh dan tidak bisa berdiri. Padahal aku sudah lelah mencoba bangkit. Padahal aku sudah lelah menangis. 

Aku ingin bisa merelakan. Seperti kau yang dengan mudahnya berkata bahwa kita tidak bisa bersama, bahwa tidak akan ada lagi 'kita'. Sementara kau sudah pergi, melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan.

Wednesday, February 22, 2012

Perpisahan itu... (repost)

"Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam di tempat yang sama. tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyian ini bernama tanpamu."

Sebenarnya aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan itu harus terjadi untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.

Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentang waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, kamu menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, kamu sekedar mengingatkanku untuk tidak terlambat makan. Saat sore, kamu menyapaku lagi, lalu bercerita tentang harimu, lelahmu dan bahagiamu pada hari itu. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk terfokus pada suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin ponselku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.

Dan akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa tau kapan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Namun kita masih berpegang pada satu janji yang sama. Kita memang berbeda dan tak harus selalu berjalan beriringan.

Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku. Lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku. Selamat menemukan jalanmu.

Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk kebaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada perasaan bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak pernah sia-sia. Aku banyak belajar darimu, dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat dan kebersamaan ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang sudah terbiasa kau rasakan. Baik-baik ya :')


By: dwitasarii.blogspot.com

Thursday, February 16, 2012

Sajak Perempuan Kecil

Perempuan kecil ini berlari menyusuri ladang ilalang
Melangkahkan kaki-kaki kecilnya yang kotor tanpa alas
Walau banyak bekas ranting tajam, apa pedulinya?
Toh rasa sakit sebesar apapun pernah dirasakannya...

Perempuan kecil ini menengadah dibawah terik surya
Tanpa tujuan. Hanya ingin sedikit membebaskan raga dari jiwa yang makin lelah
Menari tanpa peduli panas membakar kulitnya
Untuk apa? Toh perasaan sepanas apapun pernah dialaminya...

Lalu perempuan kecil ini jatuh. Terdiam.
Dan mulai menangis sesunggukan
Ia sadar ia bukannya tidak butuh siapa-siapa
Ia hanya perlu satu bahu hangat yang menopang beban beratnya

Sunday, February 12, 2012

Bahagia itu... (article)

Dulu aku pernah penuh tanya tentang apa yang kita sebut sebagai 'bahagia'. Begitu memenuhi otakku karena tanpa ditanya pun semua orang ingin memilikinya. Puncak dari segala rasa dan mungkin tujuan hidup. Aku coba bertanya pada sinar matahari yang menembus tirai tipis kamarku disetiap paginya, tapi tentu saja ia tidak menjawab. Aku coba bertanya pada malam sepi tapi yang kudapat hanya hening. Lalu aku harus bertanya pada siapa? Lucu sekali bagaimana sebuah kata membuat rasa penasaranku membludak tak tertahan.

Baiklah aku mengalah. Jika tidak ada yang bisa menjawab maka mungkin lebih bijaksana jika aku mengganti pertanyaanku hingga yang lebih mudah. Sebenarnya apa bentuk sebuah 'kebahagiaan'? Tercetak tebal di otakku. Berkeliaran ia disana mencari jawaban. Dan aku mulai bertanya pada siapa saja yang bisa mendengar atau malah bisa menjawab. Tapi yang kudapat malah gamang karena begitu banyak jawaban dengan bentuk yang berbeda.

"Bahagia itu saat kita mendapat apa yang kita inginkan"

"Bahagia itu saat aku bisa mencapai cita-cita"

"Bahagia itu menikmati hidup!"

"Bahagia itu relatif. Kebanyakan karena materi atau hal-hal yang berbentuk nyata"

Kalimat yang terakhir itu kudengar dari salah seorang teman di bimbingan belajar. Iseng saja aku bertanya tapi itulah jawaban yang paling aku ingat dari seluruhnya. Apakah benar 'bahagia' itu berbentuk materi, benda, atau sebagainya? Rasanya tidak mungkin semudah itu. Sedangkal itu. Kemudian aku bertanya padanya. Pada dia.

"Lalu jika kebahagiaan itu bukanlah hal yang berbentuk materi, benda nyata yang berbentuk atau yang lainnya, lantas kebahagiaan itu seperti apa?"

"Kebahagiaan itu seperti lengkung indah senyummu.."

Tuesday, February 7, 2012

Kepada siapa saja diluar sana

Kepada siapa saja di luar sana,
yang dengan kejinya menganggap orang lain tidak berharga


Kepada siapa saja di luar sana
Artikel kecil ini hanya selingan diantara secangkir kopi yang mulai dingin karena belum sempat diminum. Hitam. Setidaknya aku sudah tidak bisa melihat jejak gula di pinggirannya. Begitu juga dengan kita nantinya. Blur.

Kepada siapa saja di luar sana yang dengan angkuhnya menegakkan kepala diantara yang tertunduk. Menginjak yang lain dengan langkahnya yang besar. Kau sesungguhnya juga mengerti bahwa belum jelaslah juga masa depanmu nanti. Siapa yang bisa menjamin kau akan sebesar yang kelihatannya sekarang? Lalu apa gunanya kau berlagak seolah tau segalanya? Seolah dunia berputar mengelilingimu dan hanya akan berhenti jika kau yang meminta? Kau kira siapa kau ini?

Kita semua hanya makhluk kecil dimata Tuhan yang hanya dengan jentikan jari bisa membinasakan seluruh alam. Apa dasarnya kau memberikan teori bahwa yang bersinarlah yang menang? Bahwa yang kusam dan belum terasah ini adalah calon-calon pecundang? Omong kosong! Bukankah Tuhan berkata bahwa seluruh manusia derajatnya sama? Lalu kau berusaha berdiri di tangga yang satu tingkat diatas kami dengan cara menginjak punggung kami?. Tidak.

Selamat malam kau yang di luar sana. Kau tau aroganmu luar biasa.

Monday, February 6, 2012

Lihat Aku, Mama.. (cerpen)

Aku tak peduli seberapa lama Tuhan memberikan sisa waktu
Bagiku ada mama disini sudah cukup..



Teriknya matahari siang mengerutkan keningku. Panas sekali disini! Belum lagi aku harus berjalan kaki pulang ke rumah. Memang tidak terlalu jauh tapi tetap saja lima belas menit. Ku tendang terus menerus kaleng bekas minuman ringan itu. Mood-ku sedang jelek. Sepertinya memang selalu. Aku benci mengapa mama tidak mengizinkanku membawa kendaraan ke sekolah, padahal motor dirumah tidak pernah dipakai. Anak laki-laki dijemput sepulang sekolah? Kedengarannya terlalu...manja.

Aku tau jelas alasan mama melakukan ini. Mama melarang keras untuk aku melakukan apapun yang berbahaya baginya. Yang bisa membuatku terluka. Bahkan aku tidak pernah mengikuti praktek olahraga di sekolah. Mama melarangku dan mengatakan bahwa itu terlalu beresiko. Sayangnya ini tidak bisa dijelaskan dengan mudah pada teman-teman di sekolah dan aku tetap saja seorang anak laki-laki manja yang bahkan fisiknya tidak kuat untuk sekedar bermain basket atau sepak bola. Padahal bukan seperti itu. Hah..sudahlah.

Akhirnya sampai juga!, teriakku dalam hati. Mama sedang membaca tabloid gosip saat aku memasuki ruang tengah. Sengaja tidak ku tegur, karena memang biasanya mama tidak akrab padaku ataupun papa. "Kenapa kamu jalan kaki? Mama kan udah bilang naek taksi aja. Kalo ada apa-apa gimana?", ujarnya seraya menoleh. Aku menjawab sekenanya, "Males ah. Toh juga ngabisin duit. Naek taksi kan mahal".
"Tapi kan mama khawatir, Rio! Sudahlah jangan bantah mama lagi. Pokoknya sekarang ganti baju kamu dan makan siang, setelah itu kita berangkat ke rumah sakit", kata mama. Nadanya acuh. Sama sekali tidak terdengar se-khawatir itu. Sama sekali tidak seperti itu. Seolah itu hanya kewajiban untuk mengatakannya.

Ah, ya. Mama memang seperti itu. Terkadang aku bingung sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya. Ia bukan tipe orang yang lembut dan berkata halus teratur. Ia selalu mengekspresikan kekhawatirannya padaku dengan kata-kata bernada tinggi. Rasanya sakit sekali. Tapi mengingat aku anak laki-laki, kadang kutelan saja pahitnya.
Di perjalanan pulang dari rumah sakit yang membosankan, aku menulis status terbaru di twitter. Hari ini jadi vampir lagi!, tulisku seperti itu. Seminggu sekali aku menulis seperti ini, kadang teman-temanku bingung sendiri lalu menanyakan. Tapi aku akan berpura-pura tertawa dan berkata bahwa itu hanya kalimat iseng pencari perhatian.

"Kamu tunggu disini, mama ada urusan sebentar. Jangan keluar mobil, Rio. Kamu ngerti?", kata mama setelah memarkirkan mobil di depan sebuah perusahaan besar. Aku mengangguk malas tanpa mengalihkan pandangan dari handphone.
Lalu ketika mulai merasa bosan, aku mencari kegiata lain sampai kutemukan agenda kecil yang selalu dibawa zmama kemana-mana, terselip diantara jok yang didudukinya tadi. Mengintip sedikit boleh kan? Ah, pasti boleh. Apa yang sih yang disembunyikan mama dariku? Pasti ini hanya daftar belanja bulanan dan jadwalnya mengikuti kelas yoga dan arisan ibu-ibu satu komplek. Tentu aku boleh lebih daripada sekedar mengintip.

Benar saja, catatan khas ibu-ibu seperti biasanya. Tapi aku tertegun ketika di halaman tengah bagian notes, mama menulis tentangku dan menyelipkan fotoku disana.

Maafkan mama, Rio..
Mungkin beginilah cara mama menyayangimu, dengan menjauhkanmu dari segala hal yang bisa membahayakanmu. Mungkin cara mama salah karena memperlakukanmu seperti anak TK dimana kenyataannya kamu sudah duduk di bangku SMA. Mama tau kamu malu, tapi ini semua untuk kebaikan kamu. Mama gak mau kehilangan kamu.. mama ingin memberikan waktu sebanyak-banyaknya agar mama bisa terus bersama kamu.
Kamu tau ini salah mama, Rio.. dan beginilah cara mama menebusnya.

Namaku Rio. Sejak lahir aku menderita penyakit keturunan bernama Hemofilia. Penyakit terkutuk yang hanya bisa dimiliki oleh laki-laki. Penyakit dimana penderitanya tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka di tubuh hingga pendarahan terus terjadi. Ini yang kusebut dengan menjadi vampir, karena aku harus menerima transfusi darah ketika tubuhku hanya tergores sedikit, darah akan mengucur deras dari bagian tubuhku yang terluka itu lalu akan lama berhenti. Melebihi luka seseorang yang mengalami kecelakaan. Tubuhku sering memar kebiruan hanya karena benturan kecil. Rasanya sakit sekali. Sekarang kalian tahu mengapa mama tidak pernah mengizinkanku mengikuti pelajaran olahraga.

Ini juga alasan mengapa aku terlahir sebagai anak tunggal. Aku seharusnya punya adik, tetapi bayi perempuan yang memiliki hemofilia tidak akan pernah bisa terlahir ke dunia. Ia akan meninggal saat masih menjadi janin sebelum dilahirkan. Anak laki-laki yang terlahir sebagai pengidap hemofilia pun tidak pernah ada bersejarah memiliki umur panjang. Itulah juga alasan mengapa mama menyalahkan dirinya sendiri untuk penyakit mengerikan ini. Karena ialah yang berperan sebagai pembawa penyakit ini sedangkan papa adalah laki-laki normal tanpa penyakit keturunan. Satu-satunya alasan mengapa ia merasa bersalah.

Tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin peduli lagi. Aku hanya ingin bersama mama, orang yang mungkin paling menyayangiku diseluruh dunia. Aku tidak ingin mama menebus kesalahan apapun, karena Tuhan memang sudah menggariskan seperti ini. Aku bahagia, karena aku adalah bagian dari diri mama.
Aku tak peduli seberapa lama Tuhan memberikan sisa waktu
Bagiku ada mama disini sudah cukup..

Monday, December 19, 2011

We never that understand

Apa yang kita lakukan jika sedang merasa sedih? Menangis? Berteriak? Atau hanya diam membisu membiarkan emosi itu meluap dengan sendirinya dalam hati? Disimpan dan dikubur sampai akhirnya benar-benar mati. Kebanyakan orang memilih untuk berbicara. Bicara, komunikasi paling jelas walaupun belum tentu terucap yang sebenarnya. Cukup cari siapa saja yang bersedia mendengarkan dan menampung keluh kesah. Tapi apakah hanya sebatas didengarkan lalu cukup? Tak perlukah kita dimengerti?

Masing-masing orang pasti pernah jadi pendengar seperti itu. Dan kebanyakan juga berkata, "Sabar ya...". 
Well, kita memang tidak pernah benar-benar mengertiMengerti bagaimana sakit itu menerpa diri seseorang, mengerti bagaimana rasa tertusuk itu, mengerti benar apa yang dirasakannya. Kita hanya mencoba memaklumi, berpura-pura merasakan. Pretend to understand. Karena kita memang tidak benar-benar berada di posisinya.

Atau lebih singkatnya, hidup akan terus berjalan tanpa pernah peduli seberapa badai itu menerpa kita. Orang-orang mungkin akan menoleh atau melirik, tapi tidak benar-benar mempedulikan. Manusia akan terus berjalan lurus ke arah jalannya masing-masing.