Showing posts with label Sehari-hari. Show all posts
Showing posts with label Sehari-hari. Show all posts

Friday, January 10, 2014

Welcoming 2014!

Walaupun sekarang udah lewat sepuluh hari dari awal tahun, tapi gue tetep mau ngucapin selamat tahun baru 2014! Ada  baaaanyak banget momen baik dan buruk yang bisa gue pelajarin dari tahun 2013. Ada waktunya sedih, tapi juga pasti banyak senengnya. I'm so thankful for everything. Kalo kita kilas balik, pasti ada kenangan dan orang-orang yang datang dan pergi di hidup kita selama satu tahun belakangan. Dari yang cuma sekedar say hi karena kebetulan satu kelas di mata kuliah yang sama, temen-kurang-akrab karena ngobrolnya cuma pas ada tugas kelompok doang, ada juga yang dari kenal berubah ke seolah-olah orang lain. Apapun dan dalam bentuk seperti apapun, gue berterima kasih untuk kenangan dari orang-orang yang pergi dan bersyukur untuk orang-orang yang masih tetap tinggal. You cannot force people to stay, can you?

Tahun 2013 adalah tenggang waktu dimana gue harus bisa berkaca bahwa seharusnya gue bersyukur lebih banyak untuk tambahan umur yang dikasih sama Allah SWT. Bisa ngelewatin satu tahun lagi, gue harus lebih bersyukur lagi. Bakal panjang banget kalo gue sebutin harapan-harapan di tahun 2014 ini. Ada banyak harapan untuk diri gue sendiri. Tapi yang jelas, dan ini beneran serius, gue mau perbaikin semua yang kurang baik di tahun lalu. Mungkin itu sifat, kelakuan, atau cara bergaul sama orang-orang disekitar. Gue mau lebih banyak bersyukur daripada ngeluh tapi gak menghasilkan apa-apa. Bismillahirahmanirahim, semoga bisa.

Whatever your resolutions are, I wish you a very happy new year. Cheers!

Thursday, July 25, 2013

Perkara Tulis Menulis

Semua orang pasti punya hobi. Mulai dari sekedar hobi-hobi standar semacem baca buku, tidur, nonton film, dan yang paling kompleks, hobi kepo-in orang. Nggak, gue lagi gak pengen bahas postingan nyinyir begituan. Berhubung lagi gak ada kerjaan dan bingung mau nulis apa, mendingan bahas perkara hobi tulis menulis yang udah gue suka sejak jaman pake seragam putih merah dulu.
Mungkin asal mula gue suka nulis bisa dibilang karena gue juga hobi baca. Mulai dari baca komik, cerpen, novel, sampe baca spanduk dan baliho di pinggiran jalan. Mungkin hobi ini juga terpengaruh sama pribadi gue yang sejak kecil ga terlalu sering main-main keluar rumah kecuali sama tetangga yang paling deket atau saudara. Waktu kecil gue orangnya lebih suka ngabisin waktu berjam-jam di kamar baca buku dongeng daripada keluyuran main sepeda atau ngejerin layangan. Karena sering baca, gue jadi berpikir gimana asiknya kalau ntar gue bisa nulis cerita yang bisa gue baca sendiri, syukur-syukur kalo ada orang lain yang mau baca. Bermodal diary, gue mulai rutin nulis. Walaupun dengan tulisan yang berubah-ubah karena waktu itu gue masih labil, tapi gue tetep konsisten nulis sampe gue udah berkali-kali ganti diary. And guess what, sampe sekarang gue masih suka nulis diary walaupun udah jarang banget dan cuma kalo lagi pengen atau ada kejadian penting. Mungkin terkesan kekanak-kanakan, umur udah hampir ninggalin belasan gini masih aja pake nulis diary. Sok imut lah. Alay lah. Tapi somehow gue ngerasa kalo disana adalah ruang paling pribadi dimana gue bisa nyeritain apa aja yang menurut gue agak sedikit awkward kalo diceritain di ruang publik. Alasan lain adalah, nulis diary terkadang bukan cuma sekedar nulis. Rasanya kita bener-bener tahu dan ngerti apa yang kita tulis melalui tulisan tangan. As simple as that.

Lalu semakin umur gue bertambah, semakin gue suka baca beberapa bacaan yang rada serius dan berpengaruh pula sama hobi nulis gue. Gue mulai nulis cerita-cerita fiksi semacem cerpen dan novel. Waktu awal-awal masuk SMP, gue punya project novel sama temen-temen deket waktu itu. Ceritanya ringan dan masih dalam ruang lingkup anak sekolahan. Tapi sayangnya sampe sekarang cuma itu satu-satunya project novel yang belom bisa gue selesain lantaran gue udah jarang ketemu dan  tuker pikiran sama temen-temen deket dulu. Gue coba lanjutin sendirian, tapi tetep aja belom pas. Mungkin karena dari awal niat gue novel itu project bersama, bukan milik pribadi.
Terlepas dari itu, gue sering bikin cerpen dan beberapa berani gue kirim dan dimuat di surat kabar atau diikutin ke lomba-lomba cerpen. Sisanya gue simpen sendiri dan beberapa di posting di blog. Mungkin gue lebih pro nulis cerpen karena biasanya ide itu datengnya tiba-tiba dan mendesak untuk cepet ditulis, kalau gak ya bakal cepet lupa. Lagipula cerpen lebih cepet selesai dan masa produktifnya bisa kapan aja. Masa-masa SMP yang paling labil inilah jaman dimana gue lagi suka banget nulis. Sabodo teuing lah tulisannya gak sesuai EYD atau gak jelas alurnya, yang penting ide harus tersalurkan.

Banyak orang yang pengen hobinya bisa jadi pekerjaan. Bakalan asik banget kalo kita bisa kerja sesuai dengan hobi, pasti perasaan jenuh bakalan lebih mudah diatasin karena kita ngelakuin pekerjaan sesuai dengan apa yang kita mau dan kita suka. Dulu gue pengen banget jadi penulis. Tapi mengutip kata-katanya Kugy di novel Perahu Kertas bagian awal, "Jadi penulis itu gak realistis!". Kalimat ini muncul karena waktu itu Kugy yang pengen jadi penulis dongeng dihalangi cita-citanya karena pendapat orang-orang kebanyakan bahwa jadi penulis itu gak akan bisa bikin hidup kamu serba berkecukupan dibandingkan pekerjaan-pekerjaan mainstream seperti dokter atau pegawai kantoran. Walaupun jaman sekarang udah banyak buktinya orang yang bisa sukses dengan menjadikan menulis sebagai pekerjaan, waktu itu lingkungan memaksa gue untuk ngelupain cita-cita sebagai penulis dengan alasan yang sama seperti diatas. Nyali gue payah, mental gue ciut. Gue ngerasa kurang bisa survive dengan cita-cita yang akarnya pun belom mantap. Tapi sampe sekarang gue masih terus suka nulis, baik cerpen, artikel, puisi, prosa, atau novel walaupun pengerjaannya gak bisa dipaksa tenggat waktu deadline. Walaupun gak jadi pekerjaan, gue tetep suka nyalurin hobi sekaligus belajar dari bacaan-bacaan lain.
 
Tapi pada akhirnya gue bersyukur karena dengan kuliah di jurusan Hubungan Internasional, gue semakin dekat dengan menulis. Jurusan gue ini gak pernah lepas dari yang namanya baca dan nulis. Walaupun beda dengan sastra yang mungkin lebih deket sama hobi tulis menulis gue, setidaknya dengan masuk di jurusan ini gue bisa belajar menulis dengan format yang formal dan akademis. Hobi gue baca dan nulis juga ngebantu banyak untuk terbiasa nulis sekarang ini, jadinya hobi gue itu gak sisa-sia. Jadi dengan menjadi apapun gue di masa depan nanti, gue pengen terus bisa nulis. Disimpan sebagai milik pribadi atau dipublikasikan, gue pengen terus menulis. Sampai kapanpun.

Sunday, June 23, 2013

Well Actually...I'm Just Saying

It's been a long time since my last post! Things changed, people changed, and many things I wanna share but when it comes to the 'compose page' I thought maybe I shouldn't share everything. I'm in a good situation overall and I'm happy to have another new experience everyday. Now why should I compose this post in English? Well for this moment, I'm just feeling comfortable with this. Especially today I wanna talk about one of friend of mine.

I knew 'this friend' not long ago and I think 'this friend' is a good friend to talk with because of the friendliness. I used to have a good friendship with 'this friend' but as time goes by, I found something wrong with 'this friend'. Let me summarize the main characteristics of 'this friend': friendly, easy going, and...highly super selfish. I know its bad to say anything negative of someone else, but let me just saying and I'm just sharing it here. One of the reason why I can't stand of 'this friend' is because of the selfishness. The meaning of selfishness can be enlarged in many ways. For this case, I found that 'this friend' firstly often said and did mean and rude things whenever 'this friend' is angry or feeling upset. FYI, I'm not kinda person who used to use some rude words so its really annoying when 'this friend' started to say many bad things. Can you imagine 'this friend' shouted loudly to me one day just because of a little mistake that I made? 'this friend' say rude words to me while I just could keep silent because I didn't wanna do the same way. I take people in honor that none deserve rude words whatever we do. Really, I'm feeling upset at that time. Even my parents never say it to me.
Second, 'this friend' often underestimates people. I know 'this friend' comes from the family background who has a big name and richness if I can say that. But just because of that doesn't mean you can underestimate people and consider yourself as the best one or the super-powerful one. Why should I found it as a bad thing? Its because 'this friend' did it to me. 'this friend' thought that I'm not even a half of him, I can't do anything, I can't do business as he planned to do, and 'this friend's family is better than mine. Like, come on you can say anything you want but not my family. You'll be on a big problem. Seriously, this kind of person is really annoying. I mean, really.

Now, something bad happening with 'this friend' and I'm posting it not because I hate 'this friend', but I hope there is a silver lining that 'this friend' can take from the big problem of his life now. Being a mean, rude, selfish are not good for you. I'm not perfect that I can judge people, but at least I'm perfect enough to be a person who never underestimate others. Well Actually...I'm Just Saying.

Tuesday, April 9, 2013

Hello Goodbye

Bukan. Ini bukan postingan review film semi Indonesia-Korea dengan judul diatas, bukan juga postingan galau karena gue bukan anak galauan. Seems like I'm bored doing nothing (padahal tugas lagi banyak-banyaknya), jadinya mending ada yang ditulis aja. Well actually it isn't topic that I used to post here. Instead of posting my 19th birthday moment as I wish, gue pengen cerita tentang pengalaman temen gue yang kisah cintanya udah kayak Cinta Fitri episode ke-574 (Iya, gue juga gak tau itu episode yang mana). Dia ini temen SMA gue dulu yang sampe sekarang masih suka kontak-kontakan walaupun kita udah kuliah di kota yang beda. Karena gue cuma dapet izin untuk mempublikasikan ceritanya, bukan orangnya, maka kita sebut saja dia Bunga. Gak mau tau, pokoknya sebut aja gitu.

Mungkin latar belakangnya dulu aja ya. Bunga ini orangnya ramah dan easy going. Dia pinter banget bergaul sama siapapun. I mean, siapa aja. Dia bisa dengan mudah akrab dengan orang lain meskipun baru kenal. Saking gaulnya, coba aja lo jalan ke mall sama dia. Lo bakal liat bukti ke-gaulannya waktu dia ketemu sama kenalannya yang sangat banyak sekali banget. Segitu banyaknya sampe mungkin setiap jarak 5 meter bakal ada yang ngenalin dia -bisa jadi adik kelas, temen satu sekolah, mantan, mantan gebetan, sampe kenalan di dunia maya yang biasa kontak lewat jejaring sosial- semua ada. Mungkin karena keramahannya itu juga banyak cowok yang salah mengartikan perhatian yang dia kasih. Kalo bahasa sekarangnya itu, ngerasa di-PHP-in. Pemberi Harapan Palsu, konsep yang sampe sekarang masih gue anggap ambigu. Apa indikator pengukur seseorang bisa dibilang tukang PHP? Mungkin letak kesalahannya bukan pelaku yang menebar harapan, tapi si korban yang terlalu berharap.

Okay, back to our main  point. Si Bunga ini cerita sama gue kalo ada banyak cowok yang ngedeketin dia dengan motif yang macem-macem mulai dari temenan biasa, temen tapi demen, temen dunia maya, modus kakak-adek tapi sayang-sayangan, sampe yang to the point pengen jadi pacar. Tapi si bunga ini orangnya gak mau dikekang. Menurut dia, pacaran cuma bakal bikin hidup jadi gak tenang karena harus ngurusin hal-hal perintilan khas pacaran, seperti: harus kabarin pacar setiap saat, harus laporan lagi dimana-ngapain-sama siapa, harus jaga perasaan biar gak salah paham, dan sebagainya. Nah karena anggapan ini, si Bunga ini jadi males pacaran dan memperlakukan setiap cowok dengan perlakuan yang sama. Baik. Perhatian. Penyayang. Pokoknya sikapnya manis banget kayak gula buatan.

Tapi semua berubah saat... (awas aja kalo dijawab 'negara api menyerang') akhirnya dia menemukan orang yang tepat. Sebut saja dia Jono. Oke, nama 'Bunga' dan 'Jono' memang kurang matching, tapi its okay-lah kalo tampangnya kayak Taylor Lautner. Kenapa gue sebut tepat? Karena cuma sama Jono, dia bisa jadi dirinya sendiri. Karena cuma di diri Jono, Bunga menemukan motif pertemanan yang tulus tanpa embel-embel harus jadi gebetan. Menurutnya Jono itu batu paling bersih diantara batu-batu lain yang dibaliknya ada udang. Mereka dulunya teman satu kelas di SMP dan Bunga mulai berpikir mungkin, di hati Jono-lah dia harus berhenti. Berhenti mencari dan mulai memberikan porsi sayang yang lebih besar untuk satu laki-laki, bukan memperlakukan mereka semua dengan sama.
Nah, waktu Bunga galau apakah bakalan jujur tentang perasaanya ini ke Jono, dia curhat ke gue. Waktu itu gue ketawa sambil bilang, "Rasain lo! Akhirnya mentok juga kan". Tapi si Bunga malah makin galau. Di satu sisi dia pengen jujur tentang perasaannya ke Jono, disisi lain dia takut kalau Jono bukan 'the one' dan rasa itu cuma peluru salah sasaran yang kebetulan nancep di hatinya. Liat temen gue yang galaunya udah akut gitu, gue coba kasih saran untuk yah..seenggaknya kasih kode.

Cowok memang spesies paling gak peka. Gue bilang ke Bunga kalo dengan cara diem gak bisa bikin dia sadar, then you should make a move. Well mungkin agak anti-mainstream kalo cewek duluan yang bikin first move, tapi gue bilang ke dia kalau walaupun kemungkinan terburuknya adalah ditolak, dia bisa ngerasa lega karena beban perasaan yang udah dia simpen selama ini bisa terangkat sedikit. Cinta dipendam kan bisa jadi jerawat.
Akhirnya Bunga mutusin buat ngaku kalo dia sayang sama Jono karena dia yakin banget kalo Jono punya rasa yang sama. Dan respon Jono adalah...pergi menjauh. Tanpa kabar. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tanpa salam berpamitan. Di hari Bunga ngungkapin perasaannya, Jono cuma bilang, "Makasih. Tapi aku gak bisa". Setelah itu si Bunga nelpon gue sambil nangis sesunggukan. Dia benci jatuh cinta. Dia ngerasa bodoh karena ngikutin hati untuk ngungkapin perasaan. Dia ngerasa rugi. Kalah.

Disinilah menurut gue dia salah.
Rasa cinta itu anugerah yang diberikan Tuhan. Apapun bentuknya, pada siapapun, dan bagaimanapun hasilnya -entah happy atau sad ending-, cinta tidak pernah salah. Mungkin disini yang salah adalah pelakunya. Mungkin Jono gegabah karena gak bisa menolak dengan cara yang tepat. Mungkin juga Bunga yang gak bisa ngebaca tanda-tanda apakah cinta bakal berpihak sama dia. Atau mungkin waktu bergulir di situasi yang salah? Entahlah. Yang jelas menurut gue bukan cinta yang salah.
Dari Bunga gue belajar kalau Hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai keinginan. 

Wednesday, February 13, 2013

Officially Feel Lazy...and Bored

No introduction. Tomorrow will be the last day of final exam and I'm totally lazy to push my brain further more. I've focused on this subject so long and it's enough for me to know the main points and elaborate it myself but the more I think that I know, the more I feel that actually it doesn't enough yet. I couldn't stop to think that I'm not finish yet. So what am I supposed to  do? Bruno Mars - Lazy Song as the backsound.
I've tried to write. Anything. But the only thing that comes to my mind is just those materials. So I should continue to study and let myself awake until Manchester United vs Real Madrid match bother me later. Happy studying!

Sunday, January 6, 2013

Pulang

Ternyata hanya butuh 'pulang' untuk bisa tidur nyenyak




Dua minggu waktu saya untuk pulang. Bukan, bukan pulang ke rumah sementara saya di pulau seberang selama empat tahun ke depan. Ini pulang yang sebenarnya. Rumah sebenar-benarnya rumah yang saya sebut selama ini. Rasanya cuma tidak sabar, tidak lebih dan tidak kurang. Belum pernah saya se-kangen ini sama kota yang sudah saya injak selama delapan belas tahun, sama rumah dan kamar yang sampai beberapa bulan yang lalu masih saya tempati setiap harinya. Menjelang tanggal pulang yang saya pikirkan cuma kota itu beserta semua isinya.
Semuanya masih sama. Lampu-lampu jalan kuning temaram yang menemani langkah saya keluar bandara menuju rumah, jalanan yang ada kalanya sepi lalu bisa macet begitu saja, dan pos satpam kosong di pinggiran lorong. Tidak ada yang berubah. Mungkin belum. Lalu saya tersenyum sendiri, empat bulan ini belum seberapa. Bukan apa-apa bagi apa yang akan saya hadapi kedepannya nanti. Saya ingin teriak sekencang-kencangnya saat membuka gerendel pagar, memberi tanda bahwa saya sudah berada disini lagi.
Saat pertama kali memasuki rumah, yang saya ingat adalah sosok nenek. Bagaimana saya begitu rindu dengan tubuh rentanya yang selalu duduk di ruang tengah, menunggu saya atau adik pulang sekolah dengan tasbih dan Al-Quran di hadapannya. Saya rindu nyanyian doa-nya, menasehati saya bahwa hidup bukan hanya urusan di dunia atapun sebaliknya. Berkata lembut sambil sesekali tertawa atau hanya sekedar tersenyum simpul. Saat menatap kamar kosong itu, rasa rindu saya sampai ke ubun-ubun. Sambil menangis saya berdoa semoga Allah menempatkan nenek disisinya.

Dulu sebelum saya pindah ke Jakarta untuk kuliah, saya lebih suka berdiam di rumah, menonton film atau sekedar menghabiskan bertumpuk-tumpuk novel yang sudah berulangkali dibaca. Atau menulis. Tapi semenjak pulang kemarin, saya tidak betah di rumah. Saya ingin tahu perubahan apa saja yang bisa terjadi selama rentang waktu empat bulan, waktu yang masih sangat singkat sebenarnya. Tapi biar saja, at least saya bisa merasakan kembali suasana seperti ini, yang tidak saya dapat di tempat manapun.
Jakarta bukanlah kota yang tidak pernah saya kunjungi. Jakarta sering saya jejaki, tapi bukan kota yang sering ditinggali untuk waktu yang sama. Saya  bisa mencari keramaian dimana saja di kota ini, tapi tetap saja rasanya berbeda. Aneh. Asing. Padahal Jakarta tidak berbeda jauh dengan Palembang. Tidur saya disini tidak pernah benar-benar nyenyak. Saya bisa tidur hanya diatas tengah malam, saya bisa bangun lebih telat dari biasanya tapi selelu terbangun beberapa jam sekali. Saya suka sepi, tapi tidak dengan kesunyian. Pada awalnya saya pikir tempat dan suasana baru ini seolah mengusir, tapi lalu saya sadar bahwa saya-lah yang seharusnya menyesuaikan diri disini, bukannya Jakarta yang harus berubah seperti apa yang saya mau. Ini keputusan yang saya buat sendiri, tinggal niat dan tekad yang menemani saya disana.

Tanggal-tanggal sebelum natal dan tahun baru adalah libur universal bagi hampir semua orang, apalagi anak seekolah. Dan diantara sepupu dan keponakan, cuma saya yang baru saja lulus sekolah. Rasanya lucu jika bergabung dengan mereka yang berada satu sampai tiga tahun di bawah saya, sedikit mengingatkan bahwa umur saya sudah hampir melangkah dua tahun dari sweet seventeen. Tapi keluarga tetaplah keluarga. Keluarga tidak mengenal batasan apapun termasuk usia. Jadilah kami menghabiskan sisa tahun 2012 dengan melakukan apa saja karena mereka kebanyakan tinggal di luar kota. Rasanya masih seperti liburan sekolah biasa.
Tahun baru 2013 saya lewatkan dengan keluarga besar. I mean, benar-benar keluarga besar. Kami memasak apa saja yang bisa di masak, bermain petasan dan menonton puluhan kembang api memenuhi langit, lalu berteriak dan meniup terompet sekencang-kencangnyaa ketika waktu menujukkan tepat saat pergantian tahun. Lalu setelah hari itu satu persatu mereka kembali pulang dan melanjutkan apa yang tidak bisa dihentikan. Melanjutkan apa yang sudah ditakdirkan oleh waktu.

Beberapa jam lagi saya juga akan berangkat. Kembali pada rutinitas dan suasana yang masih dibiasakan dan berusaha diterima oleh tubuh dan hati saya. Kembali pada cita-cita yang menjadi pilihan saya. Kembali pada alasan mengapa saya meninggalkan rumah.

Saya menyebutnya pergi, karena bagi saya selamanya disinilah tempat saya pulang.

Friday, December 14, 2012

Bosan

Aku bosan mengucap rindu dan tidur dalam balutan pilu.




Ini tulisan pengalih pikiran, pelarian dari rasa bosan. Sepi. Kosong. Alih-alih bingung ingin melakukan apa, saya malah terdampar disini. Menuliskan apa saja, biar saja tidak sesuai ejaan atau pemilihan kata yang benar. Saya cuma...kesepian.
Kata-kata di sudut kanan atas itu mungkin sedikit menyimpang dari tema, tapi saya suka rima-nya. Itu kalimat pertama yang terpikir bahkan sebelum menuliskan judul untuk tulisan ini. Padahal sebenarnya saya cuma bosan. Tugas-tugas minggu ini membuat waktu tidur jadi kacau. Kadang saya tidur disaat semua orang bangun, dan terjaga semalaman saat semua orang lelap. Akibatnya otak saya juga kacau, kata-kata dan perbuatan juga tidak sejalan dengan maunya hati, termasuk saat menulis posting ini dengan kalimat formal. Aneh.

Bicara tentang tugas, mungkin saya yang terlalu manja atau banyak mengeluh, mungkin sepenuhnya salah saya juga yang gak seharusnya ngeluh sana sini, tapi rasanya beban deadline 2 summary selama satu minggu itu rasanya kok nyiksa ya. Entah apa menurut orang lain, tapi bagi saya deadline secepat itu dengan bahan yang baru diberikan beberapa hari yang lalu itu bikin otak saya malah pecah kemana-mana dan mungkin hasilnya sama sekali gak maksimal. Alibi? Bagi saya gak. Resiko saya harus terima apapun yang dikasih, termasuk penambahan tugas tiba-tiba yang seharusnya bukan jatah saya. Saya gak tau peraturannya darimana, tapi selama posisi saya cuma dibawah dan orang itu punya power, selamanya saya cuma bisa berusaha mengerjakan yang diperintahkan. Dan maaf sebelumnya, ini sama sekali no offense.

Akhirnya saya berakhir pada satu kesimpulan. Mungkin saya cuma lelah dan butuh tidur.

Monday, November 19, 2012

Postingan ditengah Hapalan

Lirik kanan, tumpukan textbook. Toleh kiri, notes dan kertas-kertas catatan.
Well, this is how I spend my night.



Minggu-minggu ujian mungkin masa-masa paling menyiksa buat makhluk seperti saya -yang baru aja terima almamater, yang baru tau rasanya kuliah- Baiklah mungkin agak hiperbola. Tidak menyiksa, cuma sedikit mengurangi jatah tidur. Apalagi yang shift ujiannya pagi-pagi buta. Kurang bahagia apa coba.
Jadi sistem ujian disini itu agak beda mungkin ya. Mungkin universitas lain ujiannya dikelang (ngerti ngga kelang? Di jeda gitu loh) satu atau dua hari antara satu mata kuliah sama mata kuliah lain. Tapi disini sistemnya, "berlibur-libur dahulu barulah mabok kemudian". Gimana ngga? Dikasih hari tenang 5 hari, setelah itu tiga hari berturut-turut ujian dengan mata kuliah yang...cius cumpah susah. Abis itu libur lagi lima hari dan ujian lagi dst dsb.

Masalahnya adalah, sudah sifat wajib manusia menunda-nunda pekerjaan. Libur lima hari itu tujuan normatifnya ya dipake belajar buat ujian yang tiga hari berturut-turut tadi. Tapi apa mau dikata, apa daya upaya, malas tidak terelakkan. Hari pertama libur mikirnya ya, alah baru juga hari pertama, santai ajalah. Hari kedua, udah besok-besok juga bisa, masih ada tiga hari ini. Hari ketiga, besok deh ya. Nah baru pas menjelang hari keempat selesai dan menuju hari terakhir liburlah, akal sehat baru jalan. Where have you been huh? HAHA.

Apalagi godaan ada banyak. Pertama, bales dendam waktu tidur. Beberapa minggu ini jadi sering tidur pagi gara-gara project ICOBIRD-nya HI. Bikin video stop motion sampe pagi sementara besok pagi-panginya mesti jadi liason officer Prof. Elliot. Tidur jam setengah lima pagi itu masih mendingan, banyak temen-temen yang bahkan ngga tidur sama sekali. Makanya libur yang beginian jadi ajang bales dendam. Si Kathlin aja tuh kemaren yang kebagian jatah ngga tidur sama sekali selama dua hari berturut-turut, jadinya pas ada kesempatan bales dendam dia tidur udah kayak orang mati.
Kedua, si-serigala-ganteng-berbadan-kekar-ku itu sudah memenuhi bioskop-bioskop seantero Indonesia. Breaking Dawn Part 2 memang godaan paling dahsyat apalagi Jacob Black-nya. Can't imagine before that the ending would be like this. Perspektif awalnya sih full of romantic stuffs, ternyata sutradaranya cukup pinter bikin ending yang kalo kata Syahrini sih cetar membahana badai. Anyway it's the best recommended movie of the year I think.

Besok itu hari kedua ujian berturut-turut setelah lima hari libur. Indonesia dalam Persfektif. Politik. Ekonomi. Besok lusanya lagi Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Realisme. Liberalisme. Marxisme. Belum lagi tugas summary Sejarah Dunia Modern yang sampe sekarang intinya pun masih jadi bahan pikiran. Bunuh aja bunuh..




Tadinya sih mau upload foto tumpukan buku, tapi males mindahin dari hape.
Yang ini kayaknya lebih 'touchy' *alibi*





Well yah, mari kita kembali pada pelukan buku-buku dan catatan-catatan cantik ini. Semoga setidaknya masih ada kesempatan tidur malam ini.
Selamat malam, semoga yang sakit bisa cepat sembuh. Selamat tidur.

Saturday, May 7, 2011

Gemblong VS Sushi

Hello ya! As usual, my another unimportant post huhu. Sebenernya ini udah sejak libur panjang anak kelas 3 UN kemaren tapi yaaa karena banyak kendala bla bla bla jadi postingnya pending huhu. Ini sebenernya kerjaan waktu kurang kerjaan (bingung?) ya ceritanya lagi gak ada kerjaan gitu pas liburan jadinya bosen dan si papa tiba-tiba nyuruh bikin gemblong. Hoo aya-aya wae si papa mah. Sok atuh pas sorenya urang bikin gemblong *sundanya keluar* Anyway ada yang masih bertanya-tanya apa itu gemblong yang daritadi gue sebutin? Apakah gemblong itu wadah aer? Itu maksudnya gentong. Maap garing. Awkward. Gemblong itu makanan tradisional yang terbuat dari ubi yang isinya gula merah cair gitu.

Dan inilah kursus masak ala saya,
Bahan :
  • Ubi kuning
  • Gula merah
  • Sedikit tepung terigu supaya adonannya gak lengket

Is it just me atau ini rasanya kayak blog kumpulan resep ya?

Cara bikinnya itu pertama-tama ubinya direbus dulu, terus diancurin. Kalo gak mau repot bisa di-mixer aja. Next, bikin adonan dari ubi yang udah diancurin tadi pake tambahan sedikit tepung, dibulet-buletin terus diisi pake gula merah yang gak cair. Gula merahnya di gerus halus aja. Next, goreng di api yang lumayan gede. Sering-sering di bolak-balik soalnya kalo gak entar matengnya gak rata.



belom digoreng


sering dibolah balik yaaa, tapi pelan aja


taraaaaa! jadi dah


Nah kalo warnanya udah coklat keemasan gitu tinggal diangkat deh. Kalo dipotong atau digigit, dari dalemnya bakal keluar gula merah cair. Then malemnya pengen makan sushi. Restoran sushi langganan gue itu yang di deket hotel Grand Zuri.








pake wasabi enaaak :9


Salmon Maki


So which one do you like the most? Kalo gue sih sama-sama enak, tapi agak kurang suka makanan yang terlalu manis kayak gemblong. Kalopun makan itu juga paling banyak cuma dua biji. 

Tuesday, December 21, 2010

In-Som-Nia


When people spend their time in the bed, close their eyes, enjoying their relax time, I'm here laying my head on my pillow with opened eyes. It hurts me at first, but slowly and surely it kills me you know. Insomnia itu rasanya sangat sangat sangat tidak enak sekali banget. Jarang banget gue bisa tidur di jam-jam 'normal' layaknya orang biasa. Padahal dulu pas SMP gue itu pelor alias nempel molor. Sekarang entah kenapa nafsu tidur itu lenyap kagak tau kemane rimbanye #betawimode. Kepala gue sering pusing, lantaran tidur diatas jam 2 pagi. Berusaha ngilangin? Sering. Dulu gue berasumsi kalo penyebab insomnia ini tuh hape gue. Kenapa? Karena selama itu hape ada dideket gue, gue bakal cari kesibukan apapun disana yang bisa bikin gue gak tidur. Then, hapenya gue matiin. Malahan disita mama. Tapi tetep juga, gak ilang. Someday in the past, tiba-tiba sakit kepala gue makin parah. Its getting worse. Dan anehnya cuma di satu bagian, kepala belakang.

Akhirnya gue disuruh cek ke dokter syaraf. Sumpah, ribet banget. And the final result is, sakitnya kepala gue itu lantaran sinusitis maxilliaris gue yang udah lama ditambah dengan satu pendatang baru di syaraf otak. Its my fault anyway. Dan sekarang, gue melek seratus persen di depan komputer bikin posting ini. God, make me fall asleep.

Tuesday, May 25, 2010

Tragedi SMA Methodist 1 Palembang (Part 1)

Ok, it sounds creepy anyway.
Mungkin juga kalo gue baca judul yang kayak gini, gue bakal mikir kalo tragedi yang dimaksud itu misalnya gempa, tsunami, atau hujan batu. Tapi faktanya adalah setelah gue cerita mungkin ada yang bakal ketawa, nganggep ini gak penting, atau mikir kalo judul sama sekali gak nyambung sama isinya.
Tapi bagi gue ini the worst nightmare ever since I started my high school life, kejadian yang sangat menguras rasa malu.

Well. Gue udah lupa itu tanggal berapa, yang jelas gue baru beberapa bulan sekolah disana. Waktu itu hari rabu, dan menurut gue semuanya lancar-lancar aja dari pagi. Yang bikin gak lancar cuma hujan yang turun deres banget dari jam 10 pagi. Sebenernya sih gue suka hujan, masih lebih mending daripada panas. Kalo diinget-inget juga rasanya gue udah lama gak maen ujan. Tapi kalo ujannya udah berlebihan dan betah gak mau berhenti, gue jadi males sendiri. Secara ujan itu datengnya keroyokan dan gue sendirian. Krik...krik... Awkward.


Dua jam terakhir hari itu diisi sama pelajaran TIK yang mengharuskan gue berkelana ke lab komputer. Pas gue keluar kelas dan ngelewatin perpustakaan, ternyata ada beberapa bagian di balkon lantai dua sekolah gue itu yang tergenang aer. Gue yang jiwa anak-anaknya masih ada, langsung aja nginjek itu aer terus nyipratin kesemua penjuru.
Dan langsung saja saudara-saudara, temen-temen sekelas gue yang kena ciprat langsung teriak dan lari sana-sini. Gue yah adem ayem aja, hahahaha. Dan banyak sekali omelan-omelan yang keluar dan didedikasikan cuma buat gue. Misalnya,

A : 'Ah!!!! Basah nih roknya!'

B : 'Ay! Ini rok masih mau dipake buat besok!'

C : 'Ya Allah....'

well forgive me with my childish-things. Gue tetep aja ketawa ketiwi gak sadar dosa. Sampe pada waktunya pembalasan itu datang ke gue. Then I know karma does exist. Selesai pelajaran TIK, gue langsung keluar dari lab komputer dan berhubung itu pelajaran terakhir yang ditandai dengan bunyinya bel, gue langsung aja turun tangga sambil sedikit loncat-loncat. Tanpa memperhatikan kalo tangganya licin gara-gara abis ujan. Dan..

BRUK. Gue jatoh aja dengan indahnya. Dengan posisi duduk dan nurunin beberapa tangga kayak maen perosotan. Orang-orang yang jalan di belakang gue shock dan kebanyakan tutup mulut, ada juga yang cekikikan. Disaat seperti ini gue bingung mesti gimana. Pilihannya ada dua; (1. Gue noleh ke mereka sambil bilang, 'Lo semua masuk acara kena deh! atau 2. Gue nangis tersedu-sedu terus pulang mandi shower).

Karena masih punya rasa malu, gue langsung berdiri aja belagak gak tau. Classy as hell. Terus langsung cabut, malu banget. Sumpah. Pas baru aja jatoh, gak kerasa apa-apa, tapi pas udah di deket gerbang, punggang gue sakiiiiit banget. Ampun dah. Gak lagi-lagi deh gue nyipratin aer becek ke orang-orang. Dari peristiwa ini sebaiknya kita mengambil sisi positifnya aja. Tapi gue ragu apa ada hal yang positif dari peristiwa jatohnya gue.

Pesan singkat : Sedia payung sebelum hujan.

Thursday, April 8, 2010

Sixteenth Birthday

Here is the liar.

Harusnya gue publish postingan ini pas tanggal 19 Maret on the D-Day sih, tapi kelupaan gitu aja. Anyway, makasih beribu-ribu makasih banget buat yang udah susah payah begadang nungguin tengah maelm cuma buat ngucapin ke gue. FOr the surprises, for those people. Thanks a lot.





I have a long wish list, but let just sum up in a sentence. May everything goes well.

Thursday, October 1, 2009

Makhluk-makhluk di Kelas

Judulnya kayak serem banget ya? You know la, maksud gue ‘makhluk dikelas’ itu artinya temen-temen dikelas gue yang sekarang, kelas sepuluh satu (X.1) Mereka emang rada aneh bin ajaib. Posting ini terinspirasi sama post punya temen gue, Daniel. Dia juga bikin posting tentang kelas X.1 gitu. Gue juga jadi pengen, jadi ikutan deh *ketauan banget kalo nggak kreatif*

Anyway, kalo pengen liat postnya Daniel, liat aja blognya di danielbonardopurba.blogspot.com. Dan bandingin postnya Daniel, sama post gue ini. *gue mesti dapet royalti atas promosi blog lo, Daniel!* Ok. back to our main topic, kelas gue yang sekarang itu sangat amat keren. Yang cewek hobinya belajar , gossip, ngomongin Boys Before Flowers, dan kegiatan cewek yang laen. Yang cowok hobinya ngegosip (tetep), ngobrol, ketawa gak jelas, bikin ulah, ngisengin orang, dll dsb dst. Gue duduk dibarisan keempat dari pintu, dan di bangku kedua dari belakang barisan gue itu (nggak penting banget ya?) Barisan gue itu, yang duduk cewek semua. Kecuali seorang (eh seorang ato seekor?) makhluk cowok yang bernama Herbang.

Dia duduk dibangku paling belakang, disudut kelas. Tepatnya dibelakang gue. Dia duduk dibelakang itu karena dipindahin guru. Herbang ini ketua security kelas. Orangnya item, suka ngeledekin gue sama temen-temen gue. Tapi kadang kita suka kompakan ngeledikin makhluk yang bernama Reni.

Siapakah Reni itu sodara-sodara?
Reni yang punya badan paling subur dikelas gue ini, duduk disebelah Herbang. Hobinya makan, sesuai sama badannya yang kalo nimpa gue, bisa bikin gue laksana ayam penyet. Dulu Reni duduk sebangku sama gue, tapi karena badannya yang diduga bisa menghabiskan 2 bangku sekolah sekaligus, atau dengan kata laen gede tinggi, dia dipindahin dibelakang sama Herbang. Reni itu suka nyiksa, gue yang badannya jauh lebih kecil dibanding dia, sering banget teraniaya. Dicubit, digaplok, dilindes. (kalo yang terakhir itu boong). Tapi dia orangnya baek kok.


Ratna, cewek berkacamata satu ini hobi banget ke WC. Mungkin salah satu bakatnya itu adalah memproduksi cairan secara berlebih kali ya? Atau mungkin dia udah mengidap penyakit KecanduanBauWc ? Tuhan yang tau, kawan. Ratna itu orangnya kecil, putih, dan suka banget senam. Gara-gara hobinya yang suka ke Wc itu, dia suka gue julukin ‘Hantu WC’.

Yeni dan Yulita, mereka berdua duduk didepan gue dan Ratna. Mereka pinter banget kalo soal Matematika. Yeni ini orangnya kecil buntel, rasanya pengen gue gelindingin (piss, yen!). Hobi banget berantem sama Reni. Dia orangnya baek, lucu sama kayak Yulita., rela kalo PR Matematikanya gue contek.

Sucing dan Novriyanti. Dua orang yang duduk dibangku paling depan barisan gue ini, lumayan pendiem. Kalem kalem gitu. Sedangkan gue? gue adalah cewek paling imut yang ada dibarisan itu (yaela, narsis mulu). Serius, sebenernya gue nggak bisa nilai diri gue sendiri itu gimana. Jadi kalo entar ada yang kasih comment di post kali ini, tolong sekalian kalian kasih comment tentang gue yah.

Ok, itu semua makhluk-makhluk yang duduk satu barisan sama gue. Tapi tenang, yang laen kebagian kok! Penghuni X.1 yang laen:
Felix, namanya itu kayak nama latin kucing. Tapi orangnya nggak imut kayak kucing. Nih cowok asli playboy banget. Jam 5 sore baru putus, jam setengan 8 malemnya udah dapet cewek lagi. Buset dah. Kapan PDKT-nya ? Pantes namanya Felix, bakat jadi kucing garong sih. Ferdy, orang yang selalu ikhlas pulsanya diambil kalo gue lagi pinjem hapenya buat OL di sekolah (ketauan banget kalo sering nyusahin orang)

Servie dan Santi. Santi ini hampir mirip sama Ratna, hobi banget ke WC. Servie itu orangnya BBF mania. Seluruh isi memori hapenya tuh BBF semua. Dari foto, video, soundtrack lagu, sampe tema yang dia peke pun tokoh-tokohnya BBF.

Puput dan Oliv. Dua orang ini sering bareng gue kalo lagi paduan suara. Oliv yang suka dipanggil Ove ini, suka banget nyanyi. Cita-citanyanya pengen jadi penyanyi terkenal. Sedangkan Puput ini orangnya narsis banget. Gue sama dia pernah ngelilingin satu komplek Methodist buat foto-foto. Gila keterlaluan.

Daniel. Nih orang aneh banget. Cara ngomongnya itu yang bikin gue sama temen-temen gue suka ketawa. Hobinya ngeledekin orang, apalagi gue. Suka banget manggil gue ATM. Padahal gue nggak suka dipanggil gitu. ATM itu singkatan nama lengkap gue, dan suka dipake sama temen SD gue dulu kalo lagi manggil gueJulukan itu bangkit lagi gara-gara temen satu SMP gue yang kebetulan sekarang satu kelas lagi sama gue, namanya Yoga. Yoga orangnya pendiem, tapi juga kadang suka ngegosip, ketawa, atau nyeletuk ngasal kalo lagi pelajaran. Yoga ini salah satu anggota security kelas yang tugasnya ngamanin kelas. Dia ini temen satu SMP gue. Dia yang nyebarin julukan ATM ke seluruh penjuru kelas. Hasilnya, si Daniel atau Felix sekarang suka manggil gue ATM. Mereka emang aneh bin ajaib. Tapi tanpa mereka, X.1 nggak akan rame. Oke deh, sebenernya masih banyak banget yang pengen gue tulis. Tapi buat post kali ini, segitu aja cukup kan? Ntar bakal gue sambung lagi deh.

See ya on the next post!

Monday, September 7, 2009

Benar-benar Puasa

Judulnya bikin bingung ya? Begitulah. Puasa tahun ini bener-bener nguji iman gue dan makan hati. Gini, tahun ini gue mesti ekstra kuat iman buat nahan puasa. Secara sekolah gue itu mayoritas penduduknya non muslim; Buddist atau Christian, jadi gue harus super duper sabar. Perfect. Temen-temen sekelas gue tuh awalnya toleransi. Pas jam istirahat yang harusnya mereka punya hak buat jajan dan gue gak punya hak ngelarang, mereka gak mau tuh makan di depan yang puasa. Mereka tahan aja dan kalo makan pun sembunyi-sembunyi. Tapi mungkin gak tahan juga rela gak jajan demi toleransi. Gimanapun juga gue maklum sih, they have their own rights anyway. Pernah waktu itu jam istirahat, gue sama temen sebangku gue, Ratna, lagi ngobrol aja di kelas. Tiba-tiba dia ngomong gini,

Ratna : 'Ay, merem deh'

Gue : 'Hah? Merem? kenapa?'

Ratna : 'Gapapa, merem aja'

Gue : 'Gak ah, aneh deh lo. Emangnya petak umpet apa?'

Ngeliat respon gue yang bersikukuh aja gak mau merem, Ratna akhirnya pasrah aja. Terus dia ngeluarin botol aer minum dari tasnya dan dengan bangganya minum di depan gue. Gue cuma bengong aja ngeliatin, terus dia cengengesan sambil bilang, 'Udah dibilangin suruh merem, gak mau. He he he' Dan itu terjadi hampir setiap hari.

The next day, waktu gue lagi duduk-duduk di kursi guru pas jam istirahat, temen gue yang namanya Yeni, baru balik dari kantin sambil bawa jajanan banyak.

Yeni : *ngeliatin gue, terus kasi liat makanannya ke gue* 'Enak lho ay. Mau? Hehe'

Gue : *manyun*

Well..... gitu deh. Tapi sebenernya sekolah disini bikin gue makin ngehargain yang namanya perbedaan. Dimana yang latar belakangnyanya beda satu sama lain, harus bisa saling kerjasama dalam satu kelas. Kadang gue suka marah kalo ngeliat orang bisa gitu aja ngucilin orang lain cuma karena beda agama. Its not being normative or what, tapi sumpah demi apapun, itu bener-bener gak bijaksana. Karena apa yang kebanyakan orang pikir itu gak gue alamin tuh di sekolah ini. Disini, walaupun semua agama itu ada, tapi gak ada yang namanya saling cela. We appreciate each other. Gue angkat jempol aja sama temen-temen gue disini yang gak pilih-pilih temen. Padahal kadang di satu kelas itu cuma ada 2 murid yang muslim, tapi gak pernah tuh yang namanya di dzalimi dalam hal apapun. Jadi buat temen-temen yang suka memandang orang dari agamanya aja, sorry to say kalo lo termasuk orang-orang dengan cara berpikir yang sempit. Watch out, the whole universe is way greater than your tiny little room.

Thursday, July 23, 2009

In a Massive Adaptation

Oke, let's go to the main topic.

Sekarang gue udah resmi jadi anak SMA Methodist 1 Palembang. Well lets just skip the story behind it, keep it for later. Oke sebenernya SMA Methodist 1 itu lengkap banget fasilitasnya. Apapun buat kebutuhan sekolah pasti ada. Tapi yang jadi masalah, I don;t have any close friends there. Hari pertama MOS, damn I was feeling perfectly lonely. Asing gitu. You know the feeling when you're standing alone surrounded by many people but honestly you feel alone. Its kind a weird. Kayak nyasar ke tempat antah berantah. Tapi pas gue udah kelar MOS dan udah dapet kelas, yah agak sedikit berkurang lah. Seenggaknya gue punya sedikit temen baru. Rada canggung gitu pas pertama kali belajar, suasananya asing.

Its hard when you don't have anyone to share everything with. Cuma bisa cerita sama temen SMP yang lain, yang udah jauh diluar sana beda sekolah sama gue. D
an baru hari kedua belajar disini, gue udah dicekokin sama bahasa Korea. Pokoknya gue harus adaptasi besar-besaran disini. Kalo gak, gue bakal jadi pithecantropus erectus yang kelamaan dikurung dalem goa. Nggak tau apa-apa. Cupu gitu. Soalnya gue nggak mau jadi loser dan struggle di sekolah sendiri, no way. 

Soal ekskul, gue udah daftar ke english club sama jurnalistik. Kenapa jurnalistik? So let us discuss it, Buddy. Jadi, mungkin beberapa orang atau malah hampir semua orang yang kenal gue pasti tau kalo gue suka banget nulis. And from my point of view, ekskul jurnalistik bisa ngembangin hobi gue itu. As simple as that. Hopefully this is going to works well. I mean, this adaptation. 

Monday, June 22, 2009

Conan vs Ikan mas koki item

Nggak tau kenapa ya, akhir-akhir ini gue jadi gila conan. Bukan gila yang gimana, tapi ketagihan baca komik detektif conan gitu. Virus gila conan ini menyebar waktu temen gue yang namanya Dian, mulai bawa komik conan ke sekolah, gara-gara gak punya kerjaan. Itu komik punya kakaknya, iseng aja gue pinjem. Eh malah langsung nancep gitu jatuh cinta pada bacaan pertama.

Gue tuh pengen banget ngoleksi conan dari seri pertama, padahal sekarang conan itu udah sampe seri 53. Nekat banget lah. Padahal sekarang baru punya seri pertama sama kedua doang. But it will never stop me anyway. Hey yo, Geekie.


Lots of conan(s)

Virus fanatik conan begitu cepetnya nyebar ke gue. Kadang kalo lagi pengen banget baca tapi komiknya gak ada, gue jadi gelisah galau gundah gulana ampe guling-guling gak jelas. Susah tidur, susah makan (tapi tetep kalo dikasih mi ayam gak nolak)Pokoknya serba salah deh. Anyway selain lagi gila conan, gue juga lagi pengen banget punya ikan mas koki. Well I know its quite weird. Harus yang warna item lagi. Emang udah korslet.




I don't know where this idea comes up, pokoknta pengen aja. Soalnya lucu sih ngeliatnya. Gendut, item, monyong-monyong. Bukan, itu bukan tipe cowo gue.