Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, June 20, 2014

Friendship? (Cerpen)

            “Kamu sudah makan?”
            “Sudah. Kamu?”
            “Sudah sebelum jemput kamu kesini. Mau kemana kita?”
            “Bukannya kita tidak pernah berencana tiap kali akan pergi bersama?”
            “Tapi aku yang menyetir, Sayang. Lalu akan dikemanakan mobil ini?”
            “Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kamu bukan pacarku”

         Ada senyum simpul yang mengembang di bibir laki-laki itu saat aku mengucapkan kalimat barusan. Aku hanya memalingkan wajah sembari tertawa tanpa suara. Kami selalu seperti ini. Mendeklarasikan diri tidak sebagai sepasang kekasih. Memang, kami bukan sepasang kekasih. Kami hanya dua orang yang saling terjebak dalam zona berteman yang kami ciptakan sendiri. Tapi apa ada dua orang berteman yang menyebut diri mereka sebagai “kami”? Bukan Aku dan Dia? Entahlah. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kami merasa nyaman berada di pusaran yang sama tanpa satu pun ingin melepaskan diri.
            “Tadi sebelum aku kesini.....”
            Ia mulai bercerita. Aku akan dengan sendirinya memutar kepala ke arah kanan meskipun aku tahu ia takkan melakukan hal yang sama melihat ke kursi penumpang di sebelah karena fokus dengan jalanan di depan. Ia hanya akan sesekali menoleh beberapa detik, tersenyum atau tertawa, lalu akan bertanya mengapa aku memandanginya seperti itu. Konyol bukan? Aku hapal mati urutan kejadian yang biasa terjadi diantara kami.

     “Kamu kenapa sih ngelamun gitu? Galau?”, oloknya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi.
          “Aku cuma bingung akan kemana kita”
        “Astaga!”, serunya sembari menepuk dahi. Ia lalu tertawa renyah menertawakan kebodohannya yang belum mengaktifkan aplikasi peta di ponsel. Ia dan aku sama-sama tidak mengenal daerah ini. Kota ini. Kota yang meskipun lalu lintasnya salah satu yang terpadat di dunia, tapi masih terlalu asing bagiku yang baru saja menjadikannya tempat menuntut ilmu sementara waktu. Seperti biasanya ia akan menyetir lalu aku akan membaca peta –tidak benar-benar membaca karena sesekali kuperlihatkan rute perjalanan ini padanya, aku tidak pandai membaca peta-, lalu hari kami akan berjalan cepat seperti biasanya. Matahari akan begitu egois ingin berganti tugas dengan bulan, membiarkan kami meratapi mengapa begitu cepat malam datang. Saat berjalan beriringan, kami akan bercerita mengenai apa saja. Lalu kami akan berbagi senyum dan tawa. Entah apa yang dirasakannya, tapi menurutku saat-saat berbagi rindu seperti ini sangat menyenangkan. Aku tidak bisa melihatnya setiap hari, begitupun dia. Kami tidak terpisah jarak yang terlampau jauh, tapi kami tidak bisa menemui satu sama lain setiap harinya. Aneh, bukan? Tapi itu yang membuat setiap pertemuan terasa berkesan. Kenyataan bahwa kami tidak akan bertatap muka langsung setiap harinya membuat kami menghargai setiap detik dari pertemuan.

            Saat duduk berdampingan lagi di jalan pulang, kami akan diam. Mengunci bibir dengan ekpresi wajah datar agar satu sama lain tidak tahu jika sebenarnya kami tidak ingin pertemuan hari ini berakhir. Saat puluhan mobil berjalan merambat di lalu lintas yang padat, tangan kirinya akan menggenggam jemariku. Bukan genggaman yang kuat, namun jenis genggaman yang didalamnya terdapat banyak kata yang tidak tersampaikan.
            “Kamu hati-hati ya. Jangan melamun kalau sedang menyetir. Beritahu aku kalau sudah sampai di rumah”, ucapku lirih ditelan suara penyiar radio. Ucapan selamat tinggal yang begitu ku benci tapi harus ku ucapkan juga.
            “Bisa tidak ya waktu dihentikan?”, ujarnya pelan.
            “If you could do that, would you?”. Aku balik bertanya.

           Saat mobil ini berhenti di tempatku tinggal, kami akan bertatapan sesaat. Lalu aku akan menyesali begitu banyak kata yang tidak bisa ku ucapkan selama beberapa jam bersamanya tadi. Entah mengapa lidahku kelu saat bersamanya hingga begitu sulit hanya untuk sekedar berkata ‘rindu’ atau ‘butuh’. Kemudian bisikan-bisikan kecil kembali menelusup ke sela-sela otakku mengatakan bahwa tidak seharusnya aku merasa begini. Tidak seharusnya aku merasa rindu berlebihan pada seorang teman. Tidak seharusnya aku menatap kosong pada dirinya yang semakin menjauh dan jarak  yang semakin merentang luas diantara kami. Dia itu temanku. Sekat antara kami sangat tipis hingga orang lain terkadang salah sangka dan harus melihat lebih dekat bahwa kami sebenarnya tidak lebih dari dua orang yang sering menghabiskan waktu bersama tanpa ikatan apa-apa.

            “Are you guys in a relationship?”. Begitulah kira-kira yang selalu dipertanyakan orang-orang ketika melihat kebersamaan kami. Terkadang aku pun heran, apa salahnya jika temanku ini tahu benar kebiasaanku dan aku pun hapal makanan kesukaannya. Apa yang salah dari teman yang setiap harinya mengucapkan selamat pagi dan tidak lupa mengingatkan makan? Tapi aku mengerti benar, jika kami punya cukup keberanian, tidak sulit untuk membuat hubungan ini “berbentuk”. Lalu jika diberondong pertanyaan demikian, dia hanya akan tertawa jahil dan aku hanya akan menjawab, “Not that kind of relationship.” Tapi tidak satupun diantara kami berniat mendeklarasikan Ya atau Tidak, karena kami memang berdiri di tengah-tengah sekat pembatas yang jelas, namun tidak kasat mata.
           



Wednesday, July 17, 2013

Tentang Ayah (Fiksi)

Aku benci ayah.
Bukan, aku bukan anak yang berasal dari orangtua yang bercerai atau anak yang lahir dari ayah yang cacat seperti kebanyakan cerita di sinetron. Aku benci ayah karena ia tidak pernah bisa membahagiakan kami. Sebelumnya hidup kami tidak terlalu melarat sampai perlu berhutang ke warung hanya untuk mendapat beras. Sebelumnya kebutuhan pokok kami setidaknya selalu bisa terpenuhi walaupun ponselku tidak pernah berganti selama bertahun-tahun. Sebelumnya iuran sekolahku selalu bisa dilunasi setiap bulannya tanpa perlu menunggak. Tapi itu sebelumnya. Sebelum ayah mengacaukan semuanya.
Ayah bukanlah pegawai kantoran yang punya upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Walaupun juga bekerja di kantor, posisi ayah tidak lebih dari orang yang selalu membersihkan toilet atau menyediakan kopi dan teh bagi para karyawan setiap harinya. Ayah selalu berangkat pagi buta dan pulang larut malam hanya untuk memastikan bahwa seluruh lantai kantor sudah disapu agar terlihat bersih keesokan harinya. Ayah cuma seorang officeboy.

Aku tidak pernah bangga akan pekerjaan ayah. Kalau saja tidak ada ibu yang mengelola warung bakso kecil-kecilan milik keluarga kami, penghasilan bulanan ayah tentu saja tidak cukup untuk memenuhi setidaknya separuh dari kebutuhan kami. Terkadang hatiku terenyuh melihat bagaimana letihnya raut wajah ibu yang menyiapkan dagangan di tengah malam. Ibu tidak pernah memperbolehkanku ikut membantu. Anak laki-laki tertua yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hanya berkewajiban menuntut ilmu sebagai bekal untuk mendapat pekerjaan nantinya, begitu kata ibu. Kedua adik perempuanku masih kecil dan yang satu terpaksa terlambat masuk sekolah karena tabungan ibu belum cukup untuk membayar uang pembangunan Sekolah Dasar yang cukup besar.
Lalu dimana peran ayah? Ayah selalu diam saat aku mengeluh pada ibu bahwa seragamku mulai lusuh. Ayah hanya memalingkan wajah waktu adikku merengek minta dibelikan sepatu baru. Ayah cuma bisa termenung saat rembesan air hujan menembus atap rumah kami yang sudah reyot. Ayah tidak pernah berbuat apa-apa. Bahkan ia hanya menatap kosong saat kehilangan pekerjaan satu-satunya.

Aku tahu dengan aku membenci ayah, Tuhan juga tidak akan senang. Malaikat di sebelah kiri pundakku akan mencatat amal buruk setiap kali aku mencibir tentang ayah. Dosaku akan kian menumpuk setiap kali menyalahkan ayah akan kehidupan kami yang kian memburuk saja. Terlebih lagi saat kulihat telapak tangan ayah melayang ke wajah ibu hingga menyisakan bekas merah yang menyakitkan, anggaplah aku anak durhaka, tapi rasanya aku ingin melakukan hal yang sama terhadap ayah. Lalu apa pedulinya jika aku pulang larut malam dalam keadaan mabuk? Toh aku tidak pernah meminta uang padanya. Lalu seiring dengan saling beradunya argumen, makian tidak henti-hentinya keluar dari mulutku. Tentang ayah yang tidak berguna, tentang ayah yang tidak bertanggung jawab, dan tentang ayah yang tidak bisa membahagiakan kami. Kuteriakkan semua isi hatiku yang selama ini hanya membuncah di benak saja. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Hingga pada akhirnya adu mulut ini berakhir dengan tubuhku yang lebam-lebam bekas hantaman sapu ijuk yang melayang dari lengan ayah, aku berdiri dengan sisa-sisa tenaga lalu tanpa menoleh pergi begitu saja melewati pintu rumah. Aku sudah sangat muak dan ingin pergi kemana saja asalkan tidak melihat wajah ayah. Ku langkahkan kakiku jauh dari rumah, tidak mempedulikan suara teriakan ibu yang membujukku kembali. Aku sudah terlalu benci ayah.

Berminggu-minggu aku tidak pulang. Meninggalkan sekolah, meninggalkan ibu dan adik-adik. Aku tidur dijalanan, mengobati rasa lapar dengan mengamen seadanya bermodalkan tepukan tangan. Serikali kudengar kabar dari teman-teman yang tidak sengaja bertemu di lampu merah bahwa ayah setiap hari mencari-cari keberadaanku. Ya, ayah yang ku benci setengah mati justru malah menjadi yang paling peduli. Tapi bukannya kembali pulang, aku malah melangkahkan kaki makin jauh dari rumah. Aku tidak mengerti sudah sejauh mana kedurhakaanku ini. Sudah sebenci inikah aku pada ayah? Entahlah, mungkin mataku yang terlalu buta untuk melihat sisi baik ayah, atau kepalaku yang terlalu batu untuk mengerti bahwa mungkin ayah akan membahagiakan kami dengan caranya sendiri.

"Woi! Lo denger gak sih? Masa cuma segini setoran lo hari ini?!"

Pukulan bertubi-tubi dari beberapa preman menghilangkan kesadaranku. Pikiranku melayang pada sosok ayah. Tidak seharusnya aku membenci ayah. Ayah sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa membahagiakan kami. Jika ia kehilangan pekerjaan, tidak seharusnya pula aku mengutuknya tidak berguna. Tidak seharusnya aku melontarkan kata-kata kasar dan tatapan tajam. Walau bagaimanapun, dari ayahlah aku belajar untuk menyayangi ibu. Dari ayah juga aku bisa hidup.

Gelap. Sekujur tubuhku terasa sakit. Hanya tinggal terasa satu lengan yang menopang punggungku.

"Dani! Jawab ayah, Nak! Kamu ngga apa-apa kan?!"

Ayah? Itu suara ayah?
Tuhan, semoga aku tidak terlambat untuk bersujud dan mengucap maaf pada ayah.

Friday, April 26, 2013

Affair



Dia sangat cantik.
Di depan mataku dia terlihat begitu cantik bahkan ketika sedang mengunyah dengan mulut penuh seperti itu. Kesederhanaannya yang membuatku jatuh cinta. Pemandangan di depanku ini seketika mengingatkanku pada momen pertama kali kami bertemu. Ya, disini. Saat itu aku, laki-laki yang perfeksionis sedang menggerutu sambil terus mengelap kemeja licinku yang tidak sengaja ditumpahi jus tomat. Bagaimana tidak, sebentar lagi aku harus menghadiri meeting penting bersama para investor. Yah walaupun aku dengan mudah bisa meminta sekretarisku untuk mengambil kemeja cadangan yang berada di lemari kantor, tapi tetap saja aku benci kecerobohan. Walaupun hal itu disebabkan oleh kekasihku sendiri. Saat itu perempuan yang sedang berada di hadapanku ini masih berwujud orang asing yang belum ku kenal. Ia duduk tepat di belakangku, sedang menikmati makan siang bersama teman sekantornya. Masih tergambar jelas di otakku bagaimana dia menertawai tingkah laku-ku yang menurutnya kekanak-kanakan dengan menyalahkan kekasihku yang pada saat itu tidak sengaja menjatuhkan segelas jus tomatnya.
         “Laki-laki kok repotnya melebihi perempuan..”, ujarnya di sela-sela tawa kecil. Aku ingat pada saat itu langsung refleks memutar kepalaku, menatapnya lekat dengan sorot mata yang tajamnya melebihi belati. Beraninya dia berbicara seperti itu. Saat itu yang terpikir di benakku hanyalah bagaimana mungkin ada perempuan yang penampilannya bisa berbanding terbalik dengan derajat kesopanannya. Dalam sekali pandang, orang lain bisa melihat kalau perempuan ini memiliki paras yang bisa dikatakan cantik dan penampilan yang modis. Namun aku bukanlah laki-laki yang bisa dengan mudah terpikat pada penampilan luar. Aku suka perempuan yang memiliki tata krama tinggi walau bukan berasal dari keluarga ningrat. Aku suka perempuan yang anggun dengan menjaga tutur kata serta pembawaannya.
Tapi...perempuan ini berbeda. Pertemuan pertama itu belum juga menyadarkanku bahwa ia nantinya akan menjadi orang yang penting bagiku. Pertemuan kami dilanjutkan dengan hubungan kerja antara perusahaan yang kupimpin dengan perusahaannya. Aku yang begitu logis tidak menganggapnya sebagai kebetulan, maka dari itu ku simpulkan bahwa memang Tuhan sudah menggariskan jalan bagi kami berdua untuk bertemu kembali. Nah, lalu siapa yang menyangka bahwa perempuan yang menurutmu begitu menyebalkan pada awal pertemuan akan menjadi istrimu di masa yang akan datang? Satu tahun sejak pertemuan pertama itu, cincin berlian dariku telah melingkar indah di jari manisnya. Kami jatuh cinta dengan cepat, merasakan bahagia dengan cepat, lalu kehilangan debar-debar itu dengan cepat pula. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa rasakanlah bahagia pelan-pelan, maka jika suatu saat ia hilang dan berganti kesedihan, kau tidak akan jatuh terhempas terlalu kuat.
        Mungkin kesalahan terletak padaku yang tidak bisa mentolerir perbedaan kami. Atau mungkin pada pribadi kami yang terlalu bertolak belakang. Adanya perbedaan justru akan memperindah ikatan suami-istri, bukan? Tapi tidak pada kami. Begitu banyak perbedaan yang kami tekan saat memutuskan untuk menikah –dengan harapan agar hubungan ini malah semakin langgeng dengan perbedaan- malah menjadi bumerang bagi kami sendiri.

         “Aku gak bisa jadi perempuan yang diem aja di rumah. Aku harus kerja!”     

Begitulah katanya saat aku protes ketika jam kerjanya bahkan melebihi aku yang notabene seorang diretur sebuah perusahaan besar. Aku paham bahwa pekerjaannya sebagai creative director sebuah perusahaan penyedia jasa periklanan begitu menyita waktu. Ia juga tipe perempuan yang mandiri dan kuat, namun harga diriku sebagai suami sedikit terhina saat aku sampai di rumah lebih dulu darinya walaupun hari sudah larut malam. Istri macam apa yang tidak menyambut kedatangan suaminya dengan segelas kopi atau pijatan hangat?
 
          “Aku belum siap dengan komitmen untuk jadi seorang ibu”

      Ini yang paling tidak masuk akal. Bukankah tujuan menikah adalah membina rumah tangga dan membesarkan keturunan? Setidaknya begitulah yang diajarkan kedua orangtuaku. Mungkin disanalah letak sisi negatif kemandiriannya. Ia begitu mencintai karir yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Begitu cintanya hingga rela mengorbankan tahun-tahun pertama pernikahan kami tanpa seorang anak yang begitu ku idam-idamkan. Sekali lagi, aku merasa harga diriku sebagai suami tercoreng. Ini jelas keinginan sepihak.
      Tiba-tiba aku tersentak dari lamunan saat sepasang matanya menatapku tajam. Pertengkaran hebat terjadi lagi. Debat kecil yang kemudian berubah menjadi teriakan-teriakan penuh amarah. Ah, aku sudah begitu muak padanya. Di hadapanku dia tidak lagi se-memesona dulu. Tidak ada lagi debaran kecil saat kugenggam tangannya. Tidak ada lagi kecupan hangat menjelang tidur. Ia sudah bukan perempuan manis yang sapaannya kutunggu tiap pagi. Setiap kali bertengkar hebat, ego kami melesak kuat hingga entah sudah berapa banyak kata-kata kasar keluar dari mulutku. Ku katakan saja, aku sudah tidak membutuhkannya. Siapa yang butuh seorang istri egois yang bahkan bisa dihitung berapa kali menyiapkan sarapan untuk suaminya? Lagipula aku bisa mendapatkan apapun yang ku mau seperti halnya dia. Kami dua sosok sama namun begitu berbeda.
         Teriakannya membangunkanku dari mimpi. Menyadarkanku pada kenyataan. Sialan! Apa sebegitu kuatnya sosok perempuan itu hingga akhir-akhir ini sering menjadi tokoh utama dalam mimpi burukku?

          “Mas, kamu kenapa? Mimpi buruk?”

     Kepalaku menoleh cepat pada perempuan yang berada dalam selimut yang sama denganku sekarang.
          Simpananku.

Thursday, March 21, 2013

How I Really Want to Have a Twin

Iseng-iseng buka facebook yang udah gak  ngerti lagi berapa banyak sarang laba-labanya, gue nemu cerpen yang dulu gue tulis pas zaman kelas 1 SMA dan di posting di note facebook. Ceritanya kurang lebih tentang saudara kembar. Jadi ketawa sendiri kalo baca ulang cerpen ini wondering how I really wish that I could have a twin. Cannot image how amazing it would be. Have no idea whether I've already post it here or not. So just enjoy!


---



‘Vani! Lo tuh gimana sih? Itu kan jatah kue gue? Kok malah dimakan?’, teriak Vini kesal.

’Lo pelit amat sama gue sih, Vin? Gue ini sodara lo. Kembar lagi.’, jawab Vani. Vani dan Vini memang saudara kembar. Wajah, tinggi, dan postur tubuh mereka nyaris sama. Yang membedakan hanya suara dan cara bicara Vani yang terdengar lebih dewasa dan tenang dapada Vini yang cenderung masih kekanakan, Vini memang adik Vani.

Kembar bukan berarti selalu sama. Setidaknya itu prinsip Vini. Menurutnya Vani selalu menyebalkan dan mereka sering bertengkar karena sifat Vani yang egois.
‘Bukan itu masalahnya. Lo makan kue gue tapi nggak ngomong dulu sama gue. Baru gue tinggal pergi ke supermarket depan bentar lo udah maen comot aja. Itu kan gak sopan! Iya kan, pa?’, Vini meminta dukungan papanya yang sedang asyik sendiri dengan koran yang menutupi sebagian wajahnya.

’Udahlah, Vini. Kamu kok ribut banget sih. Cuma masalah kue aja’, komentar papa.
‘Kan tadi udah Vini bilang, pa. Yang jadi masalah itu bukan kuenya, tapi cara kak Vani yang langsung ngambil aja. Padahal Vini udah bilang sama bibi, jangan ada yang makan kue Vini!’, Vini tetap kekeuh.
’Vini, kamu kok gitu sama aku ?’, ucap Vani lembut.
Huh! Mulai deh kalo di depan mama sama papa, topengnya tebel banget! Dasar muka dua! Awas aja lo kalo udah di kamar entar!’, ucap Vini dalam hati.

’Kamu tuh kayak anak kecil banget sih, Vin. Masa sama saudara kamu sendiri perhitungan. Mama nggak suka ah!’, kali ini mama yang angkat bicara.

’Tapi, ma.....’, Vini ingin menjawab lagi tapi kata-kata papa membuatnya berhenti bicara.

’Kamu nggak boleh kekanak-kanakan gitu dong, Vin....’.
Hah? Papa yang paling sayang sama gue juga belain dia? Arrrgh !

Vini sudah habis sabar. Bukan hanya sekali ini ia merasa diperlakukan tidak adil. Selalu. Selalu hanya Vani yang didahulukan. Selalu hanya Vani yang jadi prioritas utama. Vini yang terlanjur kesal langsung beranjak dari tepat duduknya dan menaiki tangga menuju kamar. Dilihatnya senyum samar dai Vani, senyum kemenangan menurutnya. Begitu masuk kamar, Vini langsung menghempaskan tubuhnya di ranjangnya yang hanya berjarak satu meter dari ranjang Vani. Dulu Vini sempat protes pada papanya, ia ingin kamar yang berbeda dengan Vani. Masa udah kelas 2 SMA masih saja tidur sekamar? Tapi Vini masih ingat kata-kata papa, mama, dan Vani waktu itu.
’Kalian kan kembar. Kan lebih bagus kalo sekamar? Bisa saling curhat kan?’, ujar papa.

’Kamu tuh sok dewasa banget, masih kecil juga’, yang ini kata mama.

’Lo nggak mau sekamar sama gue?’, kata Vani sambil memasang tampang sedihnya di depan mama dan papa. Padahal Vini masih ingat betul ucapan Vani pada malam pertama mereka menempati kamar baru itu.

’Apes banget sih gue mesti disuruh sekamar sama lo, Vin. Kayak nggak ada kamar laen aja’.

Vini meraih sebuah foto berbingkai yang ada di meja yang menjadi pembatas antara tempat tidurnya dengan tempat tidur Vani. Foto saat mereka merayakan ulang tahun mereka yang ke enam. Saat itu semuanya masih tampak biasa dan wajar bagi Vini. Sampai saat mereka masuk ke sekolah dan kelas yang sama saat Sekolah Dasar. Vini yang pintar, dan Vani yang selalu lebih pintar dari Vini. Vani yang lebih rapi daripada Vini yang suka bermain sampai bajunya kotor. Semuanya berlanjut sampai mereka sudah SMA. Vani yang lebih pintar, lebih anggun, dan lebih dipuja karena kesopanannya pada guru dan teman-teman daripada Vini yang dikenal karena keceriaan dan kejahilannya di sekolah.

Terkadang Vini letih dibedakan begitu jelas dengan kakaknya, begitu kontras. Bukan dalam hal fisik atau penampilan, tapi terletak pada cara orang lain memandang mereka. Vini mulai menangis. Lagi-lagi ia merasakan perasaan ini. Perasaan terkucil oleh kakak kembarnya sendiri. Padahal ia ingin sekali curhat dan berbagi dengan saudara seperti orang lainnya. Tapi jika teringat wajah Vani yang acuh dan terkesan tidak mempedulikannya, segera ia buang jauh-jauh niat itu.
Lelah menangis, Vini tertidur dengan foto masih di tangannya.

Vini meneguk susu cokelatnya sedikit dan mencium tangan dan pipi mama papanya.
’Vini berangkat, ma, pa’

’Lho, Vin? Kamu nggak makan nasi gorengnya? Kan mama bikinin karena kamu suka, Sayang...’

’Iya, Vin. Enak lho.’, komentar Vani dengan mulut yang penuh sambil mengunyah.

’Aku kenyang, ma. Entar malah jadi muntah. Aku berangkat yah’, ujar Vini lalu bernjak ke arah parkiran.

’Vin! Tunggu dong, kan gue yang nyetir’, Vani cepat mengunyah makanannya, lalu mencium tangan papa mamanya. Vini sudah siap di dalam mobil. Setelah mobil mereka memasuki areal parkir sekolah, barulah Vani membuka suara.

’Kenapa harus gue yang selalu nyetirin lo? Emangnya gue supir pribadi lo?’, tanyanya pada Vini.
Tuh kan ? keluar aslinya !, omel Vini dalam hati.

’Gue nggak mau nyusahin lo. Papa mama yang nggak ngebolehin gue.’, jawab Vini tanpa menoleh.

’Terus lo terima aja? Ngomong dong, Vin! Jangan bisanya cuma nyusahin gue!’, balas Vani.

’Lo kenapa sih? Di depan mama papa lo sok baik banget sama gue. Lo selalu nunjukkin kalo gue yang jadi penghalang lo. Gimana gue bisa ngomong sama mama papa kalo omongan lo terus yang dianggap bener?’, ujar Vini sambil membanting pintu mobil dan segera berjalan cepat ke arah kelasnya.

Vani jahat!’, begitu terus ulangnya dalam hati.
Pagi ini mereka datang terlalu pagi, Vini yang kesal langsung saja berjalan cepat ke arah kelasnya sambil menunduk dan menekuk wajah.
Mendingan gue naek taksi tadi !, omelnya dalam hati. Dan, ’Bruk !!’. Karena tidak memperhatikan jalan di sekitarnya, Vini jadi menabrak seseorang sampai jatuh. Badannya yang keril tidak kuat menahan tubuh orang yang di tabraknya.
’Aduuuh, sakit nih !’, ujarnya sambil menggosok-gosok pinggangnya. Dan begitu ia mendongak untuk melihat wajah orang yang menabraknya,

Wau, ganteng banget nih cowok! makhluk dari mana nih? Kayaknya gue belom pernah liat.., Vini terperangah. Tapi selang beberapa detik ia langsung merubah ekspresi wajah. Enak aja, mentang-mentang dia ganteng, terus bisa seenaknya aja nabrak orang?.

’Duh, sori deh. Lo gak papa?’, tanya cowok itu. Badannya tinggi dan atletis. Rambutnya hitam cepak dengan kulit putih dan mata cokelat.

’Gak papa gimana? Pinggang gue sakit nih! Lo kok jalan gak liat-liat sih?’, omel Vini.

Cowok itu tersenyum, ’Bukannya lo yang jalan gak liat-liat? Nunduk gitu?’

’Yah, lo kan tau kalo gue lagi nunduk. Otomatis gue gak liat lo, tapi lo masih aja nabrak gue.’

‘Iya deh, maaf maaf. Lo siapa?’, tanya cowok itu.

‘Hah?’

‘Nama lo?’

‘Oh, Vini.’, jawab Vini. Ngapain juga gue pakek nyebutin nama? Jaim dikit dong, Vin!

’Gue Kevin, murid baru. Kelas gue di 2 IPA 2. Kalo lo?’

‘Gue di 2 IPA 3’

‘Wah, sebelahan dong? Kapan-kapan boleh yah gue maen ke kelas lo? Gue belom punya temen sama sekali disini.’, ujarnya sambil tersenyum. Manis banget bagi Vini.

’Oh, iya. Eh, gue masuk kelas dulu ya?’, jawab Vini. Cowok itu mengangguk dan berjalan ke arah ruang guru. 
Ternyata dateng kepagian dan kena tabrak itu not bad, hehe. Tapi tunggu! 2 IPA 2 itu kan kelasnya Vani? Aduh, bisa keduluan nih gue! Gimana kalo si Kevin sukanya sama cewek yang kayak Vani?

Sampai di rumah, benar saja. Vani langsung curhat on the spot dengan Vini. Tumben.
‘Vin, lo tau nggak? Di kelas gue ada murid baru loh, ganteng! Ramah lagi.’

‘Oh’, jawab Vini datar. Benar dugaannya.

’Lo gak usah sok gak tau gitu deh. Lo udah kenal kan sama dia?’, todong Vani.

’Kok lo tau? Ngapain juga lo nanya’

’Si Kevin tadi ngajak ngobrol gue. Katanya, ’Vin, lo bilang tadi lo kelas 2 IPA 3? Kok ada disini?’

‘Terus?’

‘Ya, gue bilang aja kalo gue ini Vani. Vini itu kembaran gue. Kenalan deh!’, ujar Vani ceria.

Vini malas mendengarkan kata-katanya lagi. Pasti sebentar lagi Vani bakal menjadikan Kevin sebagai targetnya yang kesekian. Vani memang gak pernah gonta ganti pacar terlalu ekstrim. Tapi dia itu gila pujian dan sanjungan. Dia hanya ingin banyak orang menyayanginya. Dan setelah  tujuannya tercapai, orang itu akan di tinggal begitu saja.
‘Terus? Lo mau jadiin si Kevin sebagai target lo yang kesekian gitu?’, tanya Vini to the point. Memang cuma ia yang tahu semua tentang Vani.

’Ye, terserah gue dong!’, balas Vani cuek.

’Emang semuanya terserah lo, kak. Lo selalu menang.’, jawab Vini lirih dan keluar dari kamar. Vani tertegun. Gak biasanya Vini pasrah dan gak ngomel, dan gak biasanya Vini memanggilnya kakak. Malas berpikir, Vani hanya mengangkat bahu.

Vini berjalan sambil menunduk mengelilingi kompleks perumahannya. Gak peduli kemana aja, yang penting tidak melihat wajah kemenangan Vani.
Gue ini kalo di bilang bodoh mungkin terlalu bodoh ya? Selama gue hidup, mati-matian gue berjuang buat nunjukkin kelebihan gue, kalo gue beda dan bisa dipandang orang lain tanpa bayang-bayang Vani. Tapi ternyata gak bisa. Susah payah gue berusaha supaya di akui, tapi ternyata orang lain cuma bisa ngeliat gue sebagai tiruannya Vani. Barang imitasi. Harusnya gue tau itu dari awal.

Hari sudah beranjak malam, Vini belum juga pulang ke rumah. Papa dan mamanya sudah cemas tak karuan di rumah. Vani yang terakhir kali bersama Vini pun tidak tau adiknya dimana. Mamanya sibuk menelepon teman-teman Vini, dan papanya malah sibuk mondar-mandir.

’Pa, tenang aja. Bentar lagi Vini pasti pulang kok. Dia kan emang gitu, suka bandel. Paling dia cuma ngambek bentar.’, ujar Vani. Mamanya kini duduk pasrah karena tidak ada satu orang pun yang tau dimana Vini.

’Kamu tuh gimana sih? Ini udah jam 9 malem, Van. Kamu gak khawatir sama adik kamu?’, balas papa, 

’Papa harus cari Vini’, lanjutnya sambil mengambil kunci mobil dan bergegas keluar rumah.

’Mama ikut, pa!’. Vani pun mau tak mau harus ikut.

Di mobil, Vani sibuk mengomel.
‘Mama sama papa tuh terlalu manjain Vini tau nggak. Nanti dia bisa jadi tambah bandel’

’Bandel apanya sih, Van? Papa nggak ngerasa kalo Vini bandel. Dia suka iseng karena nggak punya temen di rumah. Kamu sih, gak mau perhatiin dia. Heran papa sama kalian, kembar kok gak akur.’, jawab papa. Makin kesal saja hati Vani. Awas lo kalo ketemu ntar !
Hari mulai mendung dan hujan, tapi Vini belum juga ditemukan. Mamanya sudah mulai menangis dan menyangka Vini diculik. Akhirnya mereka berhenti di sebuah taman yang bisa di kunjungi Vini. Ternyata benar, Vini ada di sana sambil duduk menangis.

’Vini!’, teriak mamanya lalu segera menghampiri dan memeluk Vini. Vini yang masih menangis sesunggukan membuat mamanya bingung.

’Kamu kenapa, Sayang?’, tanya papa lembut. Vini mendongak dan meliahat papa dan Vani juga ada disana. Tatapan mata Vani yang dingin dan sama sekali tak terlihat sedang mencemaskannya.

’Lo kenapa sih, Vin? Bikin susah orang aja. Kita capek nyariin lo!’, ujar Vani. Vini berdiri. Amarahnya sudah memuncak. Vini lelah menghadapi sikap Vani yang gak pernah bersahabat, bahkan pada adik kandungnya sendiri.

‘Kalo gitu gak usah cariin Vini!’, teriaknya di bawah hujan deras. Mama dan papanya terkejut. Selama ini walaupun sering protes dan bertengkar denagn kakaknya, Vini tak pernah sekalipun berteriak seperti itu.

‘Kamu kenapa, Sayang? Kalo ada masalah cerita sama mama..’, bujuk mamanya. Tapi kesabaran Vini sudah habis.

‘Kenapa mama sama papa selalu lebih sayang Vani daripada Vini? Kenapa selalu Vani yang di belain padahal Vini juga gak salah? Kenapa harus selalu Vini yang ngalah? Kenapa semua orang cuma ngeliat Vani, perhatiin Vani, dan gak pernah nganggep Vini? Padahal Vini udah berusaha jadi yang terbaik buat semuanya, padahal Vini gak pernah mau berantem sama Vani. Vini cuma mau punya kakak kayak orang-orang yang lain! Vini mau di sayang sama seperti kakak Vini, ma, pa....’, teriak Vini sambil menangis. Mama, papa, dan Vani tertegun. Bagitu berat beban yang harus Vini tanggung selama ini. Dibanding-bandingkan, bahkan Vini merasa kurang kasih sayang.

’Vini cuma mau papa, mama, dan Vani sayang sama Vini....’, ujar Vini lirih dan kemudian terjatuh. Vini pingsan.


Mata Vini mengerjap membiasakan dengan cahaya. Semalam dia pingsan dan baru sadar sekarang. Sudah siang, ternyata.

’Vini? Kamu sudah sadar, Sayang?’, kata-kata lembut mama semakin menyadarkan Vini. Vini hanya mengangguk. Ia melihat sekeliling dan tidak melihat papa maupun Vani. Mungkin papa ada di kantor atau Vani ada di sekolah.
Hah, kalaupun ada di rumah mana mungkin Vani mau perhatian sama gue, begitu pikir Vini.

’Semalem mama sama papa kaget denger kamu bicara kayak gitu’, ujar mama sambil menyuapi Vini. Vini tertegun dan ingat semua yang dikatakannya semalam. Emosinya sudah benar-benar memuncak dan Vini gak tau lagi harus berbuat apa.

’Maaf, ma’, ujar Vini lirih. Ia sempat melihat mamanya menagis semalam.

’Gak papa, Sayang. Mama ngerti, mama juga yang salah. Nanti kalo kamu udah sembuh, kita bicarain ini sama-sama ya?’, kata mama sambil tersenyum. Vini mengangguk. Pintu diketuk, Vani masuk. Mama tersenyum dan mengedipkan mata ke arah Vini lalu keluar kamar. Vini mengerenyitkan dahi tanda ia tidak mengerti. Vani duduk di samping tempat tidur Vini.

’Lo gimana?’, tanya Vani.

‘Gue gak papa’, jawab Vini pendek. Tumben Vini menanyakan keadaannya.

‘Gue mau minta maaf. Selama ini gue pasti jahat sama lo. Sampe lo ngerasa gak punya kakak. Maafin gue, Vin.’, ujar Vani lembut. Vini tak percaya apa yang di dengarnya barusan, ia hanya diam.

‘Lo salah. Bukan lo yang selalu kalah. Gue yang gak pernah ngerasa puas. Gue pengen terus di sayangi tanpa mikirin perasaan lo. Gue pengen jadi yang terbaik di mata semua orang, dan tanpa sadar gue jadi pake topeng. Gue janji, gue gak bakal kayak gitu lagi. Maafin gue, Vin. Gue sayang lo. Lo satu-satunya sodara yang gue punya...’, ujar Vani sambil menangis. Vini tersenyum lalu mengusap air mata kakaknya.

’Udahlah, kak. Gue gak papa. Maafin gue juga kalo gue suka bikin lo kesel. Gue sayang sama lo’, balas Vini. Vani lalu memeluk adiknya erat sambil tersenyum.

’Oh, iya. Tadi si Kevin tanya ke gue kenapa lo gak masuk. Dia titip salam buat lo. Katanya cepet sembuh. Kayaknya dia naksir deh sama lo, Vin. Ciye..’, ujar Vani sambil tertawa.
‘Kakak apaan sih?!’, Vini terseyum malu lalu menimpuk Vani dengan bantal. Tawa Vani makin menjadi.
Terima kasih Tuhan, ucap Vini dalam hati.