Showing posts with label Nulis. Show all posts
Showing posts with label Nulis. Show all posts

Thursday, January 28, 2016

Kepada Semua Kenangan

Kenangan seringkali hinggap semaunya. Ia menyelinap diantara lalu lalang manusia yang kita temui di jalanan, pada lagu lama yang kita dengar di radio, atau pada tempat-tempat yang kita lalui seiring jalan pulang. Kenangan membawa kita untuk kembali pada tempat, kejadian, atau orang tertentu. Kita sering bertanya-tanya, kemana perginya semua kenangan saat suatu peristiwa telah berlalu? Jika ia bisa lenyap begitu saja, mengapa ia juga bisa tiba-tiba datang tanpa aba-aba?

Kenangan bisa muncul dengan rasa yang berbeda. Seperti halnya bahagia yang tidak berujung sama, atau kesedihan yang lama kelamaan akan pupus berganti dengan rela. Kenangan punya caranya sendiri untuk mengajak kita kembali mengingat bahwa dahulu, pada suatu masa tertentu, kita pernah berada dalam situasi yang berbeda.

Hari ini, kenangan menyapaku saat tegukan kopi kedua kalinya.

Kopi pertamaku hari ini hitam pekat dan tidak terlalu manis, favoritku seperti biasa. Namun ini kopi hitam pertamaku setelah sekian lamanya terbiasa dengan kopi susu terlalu manis yang disediakan panitia seminar dan konferensi, jenis kopi yang terpaksa kuteguk hanya karena aku butuh pasokan kafein. Bagiku, kopi hitam tidak pernah mengecewakan. Aku rela berlama-lama duduk di kafe tertentu atau di balkon kamar hanya untuk berteman dengannya.

Tegukan kopi kedua ini bertepatan dengan terdengarnya sebait lirik lagu dari playlist yang kuputar secara acak. Lirik lagu yang memaksaku kembali pada peristiwa lalu. Mereka membawaku pada kopi hitam terakhir yang kuminum pada tempat berbeda,  bersama seseorang yang tidak lagi bisa kutemui sekarang. Kenangan memukulku telak. Ia seolah berusaha menyakinkan bahwa kopi hitam yang kuminum saat itu lebih enak, lebih berkesan karena tidak diseruput sendirian.

Aku tercenung sementara. Mengingat detail dari setiap sudut ruangan saat itu, mengingat kembali aroma harumnya kopi hitam, dan senyumnya ketika kami bercerita panjang lebar. Aku menikmati semua kenangan yang datang menyeruak dan menyadari bahwa aku menginginkannya terulang. Tetapi kenangan tidak meberikanku kesempatan apa-apa. Ia hanya sekedar lewat seraya berkata bahwa ini hanya selingan di hariku yang membosankan. Aku tidak bisa kembali pada peristiwa itu sekarang, tidak juga pada tempat dan senyumnya yang meneduhkan. Waktu dan ratusan kilometer jarak membatasiku untuk berbalik menghampiri kenangan yang sudah tertinggal di belakang.


Hari ini, kenangan membawaku pada kerinduan.

Wednesday, October 1, 2014

Friday, June 20, 2014

Friendship? (Cerpen)

            “Kamu sudah makan?”
            “Sudah. Kamu?”
            “Sudah sebelum jemput kamu kesini. Mau kemana kita?”
            “Bukannya kita tidak pernah berencana tiap kali akan pergi bersama?”
            “Tapi aku yang menyetir, Sayang. Lalu akan dikemanakan mobil ini?”
            “Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kamu bukan pacarku”

         Ada senyum simpul yang mengembang di bibir laki-laki itu saat aku mengucapkan kalimat barusan. Aku hanya memalingkan wajah sembari tertawa tanpa suara. Kami selalu seperti ini. Mendeklarasikan diri tidak sebagai sepasang kekasih. Memang, kami bukan sepasang kekasih. Kami hanya dua orang yang saling terjebak dalam zona berteman yang kami ciptakan sendiri. Tapi apa ada dua orang berteman yang menyebut diri mereka sebagai “kami”? Bukan Aku dan Dia? Entahlah. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kami merasa nyaman berada di pusaran yang sama tanpa satu pun ingin melepaskan diri.
            “Tadi sebelum aku kesini.....”
            Ia mulai bercerita. Aku akan dengan sendirinya memutar kepala ke arah kanan meskipun aku tahu ia takkan melakukan hal yang sama melihat ke kursi penumpang di sebelah karena fokus dengan jalanan di depan. Ia hanya akan sesekali menoleh beberapa detik, tersenyum atau tertawa, lalu akan bertanya mengapa aku memandanginya seperti itu. Konyol bukan? Aku hapal mati urutan kejadian yang biasa terjadi diantara kami.

     “Kamu kenapa sih ngelamun gitu? Galau?”, oloknya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi.
          “Aku cuma bingung akan kemana kita”
        “Astaga!”, serunya sembari menepuk dahi. Ia lalu tertawa renyah menertawakan kebodohannya yang belum mengaktifkan aplikasi peta di ponsel. Ia dan aku sama-sama tidak mengenal daerah ini. Kota ini. Kota yang meskipun lalu lintasnya salah satu yang terpadat di dunia, tapi masih terlalu asing bagiku yang baru saja menjadikannya tempat menuntut ilmu sementara waktu. Seperti biasanya ia akan menyetir lalu aku akan membaca peta –tidak benar-benar membaca karena sesekali kuperlihatkan rute perjalanan ini padanya, aku tidak pandai membaca peta-, lalu hari kami akan berjalan cepat seperti biasanya. Matahari akan begitu egois ingin berganti tugas dengan bulan, membiarkan kami meratapi mengapa begitu cepat malam datang. Saat berjalan beriringan, kami akan bercerita mengenai apa saja. Lalu kami akan berbagi senyum dan tawa. Entah apa yang dirasakannya, tapi menurutku saat-saat berbagi rindu seperti ini sangat menyenangkan. Aku tidak bisa melihatnya setiap hari, begitupun dia. Kami tidak terpisah jarak yang terlampau jauh, tapi kami tidak bisa menemui satu sama lain setiap harinya. Aneh, bukan? Tapi itu yang membuat setiap pertemuan terasa berkesan. Kenyataan bahwa kami tidak akan bertatap muka langsung setiap harinya membuat kami menghargai setiap detik dari pertemuan.

            Saat duduk berdampingan lagi di jalan pulang, kami akan diam. Mengunci bibir dengan ekpresi wajah datar agar satu sama lain tidak tahu jika sebenarnya kami tidak ingin pertemuan hari ini berakhir. Saat puluhan mobil berjalan merambat di lalu lintas yang padat, tangan kirinya akan menggenggam jemariku. Bukan genggaman yang kuat, namun jenis genggaman yang didalamnya terdapat banyak kata yang tidak tersampaikan.
            “Kamu hati-hati ya. Jangan melamun kalau sedang menyetir. Beritahu aku kalau sudah sampai di rumah”, ucapku lirih ditelan suara penyiar radio. Ucapan selamat tinggal yang begitu ku benci tapi harus ku ucapkan juga.
            “Bisa tidak ya waktu dihentikan?”, ujarnya pelan.
            “If you could do that, would you?”. Aku balik bertanya.

           Saat mobil ini berhenti di tempatku tinggal, kami akan bertatapan sesaat. Lalu aku akan menyesali begitu banyak kata yang tidak bisa ku ucapkan selama beberapa jam bersamanya tadi. Entah mengapa lidahku kelu saat bersamanya hingga begitu sulit hanya untuk sekedar berkata ‘rindu’ atau ‘butuh’. Kemudian bisikan-bisikan kecil kembali menelusup ke sela-sela otakku mengatakan bahwa tidak seharusnya aku merasa begini. Tidak seharusnya aku merasa rindu berlebihan pada seorang teman. Tidak seharusnya aku menatap kosong pada dirinya yang semakin menjauh dan jarak  yang semakin merentang luas diantara kami. Dia itu temanku. Sekat antara kami sangat tipis hingga orang lain terkadang salah sangka dan harus melihat lebih dekat bahwa kami sebenarnya tidak lebih dari dua orang yang sering menghabiskan waktu bersama tanpa ikatan apa-apa.

            “Are you guys in a relationship?”. Begitulah kira-kira yang selalu dipertanyakan orang-orang ketika melihat kebersamaan kami. Terkadang aku pun heran, apa salahnya jika temanku ini tahu benar kebiasaanku dan aku pun hapal makanan kesukaannya. Apa yang salah dari teman yang setiap harinya mengucapkan selamat pagi dan tidak lupa mengingatkan makan? Tapi aku mengerti benar, jika kami punya cukup keberanian, tidak sulit untuk membuat hubungan ini “berbentuk”. Lalu jika diberondong pertanyaan demikian, dia hanya akan tertawa jahil dan aku hanya akan menjawab, “Not that kind of relationship.” Tapi tidak satupun diantara kami berniat mendeklarasikan Ya atau Tidak, karena kami memang berdiri di tengah-tengah sekat pembatas yang jelas, namun tidak kasat mata.
           



Saturday, March 15, 2014

I'm here where I supposed to be

Pernah gak sih lo mikir apakah tempat dimana sekarang lo berada dan apa yang lo lakuin sekarang udah sesuai dengan apa yang lo pengen? Am I right there where I supposed to be? Apakah lo masih berada di satu garis lurus yang udah direncanain sebelumnya atau malah udah melenceng jauh dari jalur? Gue pernah denger banyak cerita tentang ini. Gimana rasanya beberapa temen gue yang ngaku salah ambil jurusan bahkan gimana jadinya beberapa orang yang gue kenal jatuh ke rutinitas pekerjaan yang gak mereka suka sama sekali. Mereka bergerak cuma karena kewajiban, dan berputar cuma karena rotasi bumi yang memaksa. Hasilnya? Sebagian ada yang gak pernah merasa puas dan selalu loncat dari satu tempat ke tempat lain, sebagian lainnya tetap tinggal karena memang gak ada lagi yang bisa dilakuin selain menerima.

Gue jadi inget waktu lagi iseng-iseng main ask.fm dan ngejawabin random questions, tiba-tiba ada pertanyaan kayak gini,

Which do you think is more important: following the dreams your parents want for you or following your own dreams?

Gue sempet bingung mau jawab apa. And then I replied, following the dreams my parents want for me is one of my own dreams.

Like, seriously. Dulu gue pengen banget bikin bangga orangtua dengan cara yang mereka mau, dan orangtua gue pengen banget gue kerja di bidang kesehatan. Cita-cita mainstream layaknya dokter dan teman-temannya. I was thinking that I could be something more than that, but at that time I thought being a doctor  is not really bad. They put a lot of expectations on me, and the only thing that I said is; I will try hard to make your dreams come true, but deep down this is not my dream. So if I couldn’t make it, please let me be what I wanna be.

Saat itu gue udah punya target jurusan yang mau gue ambil. Gue tau jelas apa yang akan gue pilih dan dimana gue akan berada nantinya. Tapi kembali lagi ke statement awal, gue masih pengen bikin bangga orangtua dengan cara yang mereka mau. Dan gue nepatin janji untuk usaha keras supaya apa yang mereka mau bisa terwujud. Jungkir balik gue belajar mati-matian dan sayangnya usaha keras aja belum cukup, gue belum beruntung. Orangtua gue masih belum juga nyerah, mereka gak mau ngelepas gue untuk ngelanjutin kuliah di bidang yang gue suka karena emang gue bakal jauh dari rumah dan jarang pulang. Mereka minta gue ikut tes di Departemen Kesehatan di bagian analis, and I passed the test. But.....I refused it.

Gue punya kesempatan untuk bikin bangga orang tua dengan cara yang mereka mau, tapi sayangnya gue harus nolak. Simply because itu bukan cara yang gue mau. And then more or less I said like this: I’m so sorry but I’ll take my scholarship and be what I wanna be. Aku pengen belajar di bidang yang aku suka, dan aku mau kalian dukung aku. I’ll take this responsibility and I promise I’ll make you proud with my own way. Hasilnya? Gue mungkin gak punya bayangan akan gimana jadinya gue sekarang kalo dulu nerima tawaran itu, tapi gue berani bertaruh bahwa gue yang sekarang jauh lebih baik dari apa yang gue rencanain dulu. Setidaknya gue belajar di bidang yang gue suka dan dengan itu gue bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang gue ambil sendiri. Soal masa depan? Gak perlu khawatir, masa depan akan datang dengan sendirinya tanpa perlu diwanti-wanti. Cukup lakuin dan jadi yang terbaik dari diri lo sendiri.

Kembali ke masalah awal, terkadang pasti kita bingung kalo ada di posisi terlanjur ada di bidang yang gak kita suka sedangkan keinginan untuk memberontak semakin besar. Pilihannya cuma ada dua. Yang pertama, lo harus berani ambil resiko untuk keluar dari zona nyaman dan kejar apa yang lo pengen. Misalnya lo punya hobi yang bener-bener bikin lo ngerasa hidup daripada rutinitas yang lo lakuin selama ini, lo selalu punya pilihan kok, masalahnya apakah lo berani atau nggak. Tapi pastiin baik-baik, begitu lo keluar dari lingkungan lo yang sekarang, lo gak akan nyesel dan gak akan bikin kecewa orangtua. Dan pastiin lagi, bahwa lo hanya butuh loncat satu kali, because too much is just too much. Lo gak bisa selamanya terus lari demi gengsi atau tuntutan dari lingkungan yang maksa lo harus jadi apa, kuliah atau kerja dimana cuma karena gengsi pengen ada di tempat yang dianggap orang lebih baik.


Pilihan yang kedua, lo hanya perlu menerima. Ironis memang kalo pada akhirnya apa yang lo suka dan minat cuma bakal jadi hobi, padahal lo punya kesempatan supaya bikin keinginan lo jadi kenyataan. Terkadang beberapa hal gak perlu dipertanyakan dan lo hanya perlu menerima bahwa sejak awal ketakutan lo untuk mengambil resiko jauh lebih besar daripada keinginan lo sendiri. Pada akhirnya lo akan tetap di tempat yang sama dan tertinggal. Kalo gini solusinya tinggal satu, lo harus bisa bikin seimbang keduanya. Kewajiban dilakuin, tapi hobi tetep jalan. Emang susah, tapi itu harga yang harus dibayar karena hidup bakal terus berjalan dan gak peduli lo suka atau nggak. Life goes on, and you have to make so many decisions in every step you’ve taken. Intinya, lo bisa memutuskan untuk mencintai apa yang lo punya sekarang.

Saturday, November 2, 2013

Theory of Dream



Sejak kecil, gue punya banyak mimpi tentang masa depan, tentang bakal jadi apa gue nantinya. Mulai dari jadi dokter karena pengen nolongin orang, jadi penulis simply karena gue rutin nulis diary, sampe jadi tour guide profesional yang kerjaannya mondar mandir keliling dunia. Mungkin ada orang yang cuma punya satu mimpi seumur hidup yang dia bawa sampe kapanpun tanpa niat untuk merubah mimpi tersebut, tapi ada juga manusia-manusia super labil seperti gue yang semakin dewasa malah semakin bingung pengen jadi apa. Nggak mudah untuk bisa jadi konsisten, ngebawa satu impian terbesar lo seumur hidup dan mati-matian ngejer itu supaya bisa terwujud. Semakin dewasa, automatically keputusan yang lo ambil menyita lebih banyak logika daripada perasaan. Itu juga berarti impian lo akan dipengaruhi oleh hal-hal eksternal selain kemauan lo sendiri, misalnya keinginan orang tua atau tuntutan lingkungan. Tapi untuk manusia sejenis gue, bukan hal-hal semacam itu yang bikin impian gue gak pernah bertahan tetap dalam jangka waktu lama, tapi justru ada banyak hal-hal internal dari diri gue sendiri yang kadang jadi pengganggu. Misalnya, ada banyak hal yang gue suka dan gue minatin, dan dari situ juga ada banyak prospek yang bisa dijadikan pilihan sebagai impian, dan itu makin bikin gue bingung.

            Bicara soal mimpi, gue jadi inget beberapa quotes dari orang atau film yang begitu mengagung-agungkan kekuatan dari sebuah mimpi. Seperti misalnya Agnes Monica yang jungkir balik meyakinkan orang banyak dengan theory of believing dreams-nya itu. Dia bilang dengan percaya akan kekuatan sebuah mimpi dan usaha, you could make it happen. Atau seperti katanya Herjunot Ali di film 5cm, “Mimpi akan membuat manusia lebih dari sekedar seonggok daging yang punya nama”. Atau yang paling lucu adalah salah satu kutipan dialog dari novel Melbourne yang masih gue inget sampe sekarang. Saat si cewek gak rela pacarnya mengejar mimpi terbesarnya di negara orang, si cowok berkata kira-kira begini; “Hanya karena lo gak punya mimpi, bukan berarti lo bisa seenaknya menghina dan menghancurkan mimpi orang lain. You are the pathetic person complaining about not having a dream, tentang gak punya destinasi kehidupan yang jelas karena masih belom tahu siapa elo sebenarnya. Jadi jangan bawa-bawa gue dalam teori lo yang messed up itu. I’m not like you.”

            Dari semua itu, gue jadi mikir apakah serendah itu derajat orang-orang yang gak punya mimpi spesifik tentang masa depannya sampe bisa dibilang Cuma seonggok daging yang punya nama? Bukan berarti gue gak percaya tentang teori mewujudkan mimpi dan sebagainya, tapi apa yang salah dari orang-orang yang belum bisa menentukan patokan khusus tentang akan jadi apa dirinya di masa yang akan datang? Mungkin dalam hidup, lo akan menemukan orang yang seolah hidupnya sudah terencana dan tertata rapi. Memperoleh gelar cum laude saat lulus kuliah, bekerja di perusahaan ternama dengan jabatan dan gaji diatas rata-rata, serta menikah sebelum umur kesekian. Positifnya adalah, orang-orang seperti itu adalah tipe yang konsisten dan disiplin dalam hidup. Mereka tahu benar apa yang mereka inginkan berikut cara mewujudkannya, tapi bukan berarti orang yang belum tahu mimpi terbesarnya adalah orang-orang tanpa tujuan hidup yang jelas. Berani taruhan, inti dari semua perjalanan hidup yang orang inginkan adalah ending yang bahagia. Tapi hidup bukan hanya sekedar menjadi bahagia sesuai tata aturan. Terkadang lo juga harus peduli bagaimana proses menuju kebahagiaan itu. Jadi menurut gue, orang yang punya banyak keinginan dan mimpi itu hanya belum menemukan apa yang mereka mau dalam hidup untuk jangka waktu yang lama. Life is a matter of perspective.

            Ini bukan berarti gue gak setuju dengan beberapa quotes yang udah gue sebutin sebelumnya, tapi menurut gue mimpi lo yang tinggi itu gak akan ada gunanya sama sekali kalo lo gak berusaha bangun dan mewujudkan. Akan mudah bagi mereka untuk mengajak kita percaya pada mimpi karena tentunya mereka ini sudah sukses atau setidaknya punya satu mimpi besar yang mereka percayai. But the things is, kita yang menjalani. Mungkin ada banyak yang gak setuju dengan ini, tapi gue lebih memilih untuk menjadi orang dengan keinginan yang banyak dan gak terlalu mengangung-agungkan mimpi, daripada jadi orang yang hanya bisa bermimpi. It couldn’t even make me a better person. Gue gak mau jadi orang seperti itu.

            Mungkin sampai sekarang kalau ada yang nanya tentang mau jadi apa gue di masa yang akan  datang, gue masih belum bisa menjawab jelas. Selama ini gue selalu bertanya-tanya tentang banyak hal, kenapa begini kenapa begitu. Lalu kemudian lama-kelamaan gue jadi sadar, mungkin sebaiknya gue berhenti bertanya-tanya. I should stop questioning anything and start doing everything. Lakukan saja apa yang terbaik yang bisa kita lakukan dan jangan sia-siain semua kesempatan yang ada di depan mata. Toh juga gak punya satu mimpi besar gak akan bikin lo jadi pecundang. Bakal jadi apa kita nantinya, itu urusan belakangan. Bagi sebagian orang mungkin ini aneh, tapi gue lebih memilih untuk mengendalikan daripada dikendalikan oleh mimpi.

Saturday, October 12, 2013

Putih Abu-abu


Masih ingatkah kau bahwa kita pernah mengecap putih abu-abu?
Masih ingatkah kau bahwa kita pernah menjadi "putih" dan "abu-abu"?




Ku pandangi ingar bingar yang masih terpatri sejak tadi. Hidup, nyata, memberikan rasa hangat yang mengaliri celah-celah hati. Hari ini upacara kelulusan sekolah. Wajah-wajah bahagia membanjiri aula sekolah kala kami dinyatakan lulus 100%. Ada yang berteriak, tertawa kegirangan, saling memeluk satu sama lain. Semua mata memancarkan keharuan sebagai wujud rasa lega penantian yang rasanya sudah berjalan begitu lama. Para pahlawan tanpa tanda jasa kami sudah berbaris untuk menerima salam terakhir, salam yang akan menghantarkan kami pada jenjang yang bukan hanya lebih tinggi dari ini, namun juga jenjang yang akan lebih mengajarkan bagaimana kerasnya hidup.

            “Kamu harus wujudkan cita-cita kamu ya, Citra.” suara Bu Lina lirih saat keningku menyentuh punggung tangannya. Sambil mengangguk kuselipkan setangkai bunga mawar putih di sela jemarinya.

            “Citra mohon doanya, Bu.” Sahutku tak kalah pelan. Hanya itu yang sanggup ku ucapkan diantara beragam kalimat perpisahan yang telah kusiapkan sebelumnya.

            Ketika semua sibuk saling menorehkan coretan di seragam masing-masing, ku pandangi lekat-lekat tiap sudut sekolah yang terjangkau mata. Betapa akan kurindukan semua sosok yang biasa ku temui selama tiga tahun berada disini. Betapa akan ada begitu banyak kenangan yang tertinggal di tiap jengkal aku melangkahkan kaki. Kenangan yang akan selelu ku bawa bentuk abstraknya, namun tidak akan bisa terulang.

            “Citra, gue tanda tangan di seragam lo ya!” kubiarkan saja beberapa teman menggoreskan tanda tangan dan semprotan pilox diatas seragamku yang masih bersih. Pandanganku jatuh pada salah satu bangku taman di bawah pohon rindang. Disana tempatku biasa menghabiskan waktu sebelum jam pelajaran tambahan dimulai. Membaca buku, mendengarkan musik, bermain gitar, atau hanya sekedar mengobrol santai. Lalu mataku berhenti pada lapangan basket yang basah karena hujan yang baru saja reda. Masih teringat jelas gemericik air yang beradu dengan suara pantulan bola basket dikala jam pelajaran olahraga. Lalu aku menggeleng pelan. Tidak. Jika diteruskan, akan ada lebih banyak kenangan lagi yang membludak dan mengajak untuk dibawa pulang.

            Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan saat sesosok anak laki-laki dengan seragam yang sudah penuh coretan warna warni datang menghampiri dan mengulurkan tangan. “Selamat ya, Citra. Pasti lo seneng banget bisa keterima di universitas dan jurusan yang lo suka tanpa perlu ikut tes seleksi masuk.”

            Sontak bibir dan mataku membentuk lengkungan senyum. “Apaan sih lo, sok formal tauk! Kita sahabatan udah lama gak usah pake salam-salaman segala lagi.” ku bubuhkan tanda tangan di kerah bajunya, satu-satunya celah yang masih kosong. Refleks otakku merekam senyumnya sekali lagi. Mata, hidung, keseluruhan wajah dan posturnya kusimpan rapi bersama semua kenangan yang ada di setiap sudut sekolah. Saat bermain basket bersama, mendengarkan musik dengan dua ujung earphone dibagi menjadi dua, bernyanyi sambil bermain gitar, atau bercanda sembari mengunyah bekal. Semuanya begitu berharga, sayang untuk dilupakan. Tapi aku sudah bertekad untuk meninggalkan semuanya seiring langkah kaki menuju gerbang sekolah. Berikut bersama perasaan yang sudah susah payah disimpan bertahun-tahun lamanya.

            Untuk terakhir kalinya, kuperhatikan lagi seragam putih abu-abu yang masih melekat di badan. Walaupun tidak lagi utuh berwarna putih bersih, tapi masih ku ingat bagaimana seragam ini menemani masa-masa sekolah. Masa dimana kita semua masih putih, masih naif. Masa dimana kesalahan masih bisa ditoleransi karena kita masih bisa disebut remaja. Masa yang memberikan begitu banyak pelajaran. Putih abu-abu. Bagaimana sikap dan perbuatan kita dulunya begitu abu-abu. Tidak gelap, tidak juga terang. Pendirian masih terus berubah-ubah. Abu-abu adalah satu fase menuju warna yang lebih tetap, lebih pasti dan jelas. Aku tersenyum sembari memejamkan mata. Ah, putih abu-abu ku begitu sempurna.

Wednesday, August 21, 2013

Pelarian di Waktu Senggang

Pernahkah kau merasa begitu sulit untuk sekedar percaya? Bagiku, memberikan kepercayaan bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan selayaknya kau membalikkan telapak tangan. Hidup mengajarkanku bahwa tidak ada pihak lain yang bisa dipercayai sepenuhnya kecuali Tuhan dan diriku sendiri. Kesannya terlihat seperti menjauhi kehidupan dengan terkungkung dalam dunia milik pribadi. Bukan, bukan seperti itu. Aku pernah begitu percaya, pada kekuatan energi dahsyat bernama cinta yang begitu diagung-agungkan orang banyak. Aku merasakan apa yang disebut jatuh cinta, lalu tanpa diminta alam bawah sadarku menaruh kepercayaan sepenuhnya pada sosok yang kukira merupakan pangeran berkuda putih. Meski aku bukan putri dari negeri antah berantah, aku berharap dan percaya pebuh bahwa ia akan membawaku menjalani kehidupan yang lebih baik. Tapi kenyataan menghempasakanku. Benar kata orang, jika kau terlalu percaya maka kau nantinya akan merasakan luka yang terlalu dalam. Sejak sosok itu pergi, aku ingin menyerah pada cinta. Aku hanya percaya pada kekuatan cinta kasih yang diberikan oleh Tuhan, keluarga dan kerabat. Tidak, aku tidak ingin terjebak pada cinta yang tidak abadi lagi.

Lalu kau datang.
Aku tidak akan bercerita seolah-olah aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak, itu terlalu klise untuk hidupku yang terlampau realistis. Kau berarti lebih karena rasa nyaman yang kau berikan itu sama indahnya saat dulu kala dimana aku belum tergores luka. Tutur kata dan tatapanmu menjanjikan bahwa nantinya tidak akan ada derita. Kaulah sosok yang selalu ada saat aku benar-benar membutuhkan bahu sebagai sandaran. Sosokmu yang menghapus mimpi buruk dari kisah masa laluku yang kelam. Lalu tanpa sadar, aku kembali bisa percaya. Mengumpulkan sisa-sisa serpihan jiwa dan hati yang hancurnya sudah lebih dari lebur bukanlah perkara mudah. Aku harus benar-benar menata hati, menegaskan jiwa, dan memperhitungkan logika agar harga diriku sebagai perempuan tidak lagi terinjak hanya karena salah langkah. Aku butuh waktu untuk percaya kembali, bahwa pangeran yang akan menjemputku nantinya merupakan pantulan dari sosokmu.

Lalu ketika aku sudah siap, kau telah bersamanya.
Mungkin kau lelah menanti, mungkin juga kau bosan menunggu yang tak pasti. Atau mungkin aku yang terlalu lama menikmati waktu dalam kesendirian dan mengabaikanmu yang selama ini selalu menunggu di pintu depan. Berharap untuk dibukakan. Lalu karena cinta yang terlambat ini, aku hanya bisa menatap sosokmu dari belakang karena kau telah berpaling padanya. Mataku buta, hatiku tertutup rapat. Karena ketika kau katakan bahwa kita masih punya harapan untuk bersama, aku menyanggupinya. Ini seperti tanda tangan kontrak untuk menjadi kekasih gelap. Wanita yang selalu dinomor duakan. Tapi sekali lagi, akal pikiranku tidak berfungsi normal. Hati mengambil alih logika hingga aku hanya bisa menjadi kekasihmu di belakang layar saja. Aku memandangimu dengan hati-hati saat berkumpul dengan teman-teman lain, hanya agar tidak ada orang lain yang tahu bahwa kita sebenarnya masih saling terkait. Aku berlindung dibalik senyum palsu dan terpaksa menjauh darimu hanya agar kekasihmu tidak menaruh rasa curiga sedikitpun. Aku bersabar sewaktu kau membatalkan janji bertemu demi wanita itu. Keegoisanku berkata, biar saja kau bersamanya toh nantinya kau akan kembali padaku.

Tapi sikapmu yang semakin memprioritaskannya melemparkanku pada kenyataan. Kenyataan bahwa selama ini aku hanya kau jadikan sebagai wanita simpanan. Aku yang kau cari kala harimu sedang bosan atau pikiranmu sedang kacau. Kau bersandar pada pundakku saat butuh kekuatan, lalu ketika jiwamu sudah kembali normal, kebahagiaan malah kau bagi dengannya. Tidakkah kau berpikir bahwa pedih rasanya disembunyikan? Aku hanya kau jadikan sebagai ban cadangan yang akan kau gunakan saat keadaan mendesak. Yang menjadi pilihan terakhir saat seluruh ban utama sudah pecah. Padahal kau membutuhkanku untuk bisa kembali berjalan, tapi aku akan kembali kau lepaskan jika ban-ban lain yang lebih bagus itu sudah pulih kembali kondisinya.
Lalu bagaimana denganku? Aku akan kembali ditempatkan di bagasi belakang sembari memandang perjalananmu dengannya dari tempat yang tidak terjangkau. Sekarang kutegaskan saja, bahagiakanlah wanita itu sepenuhnya. Ambillah kembali semua kenangan manis yang selama ini kau berikan, aku sudah tidak membutuhkannya. Aku akan mencari pria yang sanggup menjadikanku sebagai prioritas utama. Pria yang tidak menjadikanku pelarian di waktu senggang saja.



Teruntuk Dinda, sahabat sepanjang masa. Pengalaman memperluas pembelajaran.
Jangan galau lagi ya!

Thursday, July 25, 2013

Perkara Tulis Menulis

Semua orang pasti punya hobi. Mulai dari sekedar hobi-hobi standar semacem baca buku, tidur, nonton film, dan yang paling kompleks, hobi kepo-in orang. Nggak, gue lagi gak pengen bahas postingan nyinyir begituan. Berhubung lagi gak ada kerjaan dan bingung mau nulis apa, mendingan bahas perkara hobi tulis menulis yang udah gue suka sejak jaman pake seragam putih merah dulu.
Mungkin asal mula gue suka nulis bisa dibilang karena gue juga hobi baca. Mulai dari baca komik, cerpen, novel, sampe baca spanduk dan baliho di pinggiran jalan. Mungkin hobi ini juga terpengaruh sama pribadi gue yang sejak kecil ga terlalu sering main-main keluar rumah kecuali sama tetangga yang paling deket atau saudara. Waktu kecil gue orangnya lebih suka ngabisin waktu berjam-jam di kamar baca buku dongeng daripada keluyuran main sepeda atau ngejerin layangan. Karena sering baca, gue jadi berpikir gimana asiknya kalau ntar gue bisa nulis cerita yang bisa gue baca sendiri, syukur-syukur kalo ada orang lain yang mau baca. Bermodal diary, gue mulai rutin nulis. Walaupun dengan tulisan yang berubah-ubah karena waktu itu gue masih labil, tapi gue tetep konsisten nulis sampe gue udah berkali-kali ganti diary. And guess what, sampe sekarang gue masih suka nulis diary walaupun udah jarang banget dan cuma kalo lagi pengen atau ada kejadian penting. Mungkin terkesan kekanak-kanakan, umur udah hampir ninggalin belasan gini masih aja pake nulis diary. Sok imut lah. Alay lah. Tapi somehow gue ngerasa kalo disana adalah ruang paling pribadi dimana gue bisa nyeritain apa aja yang menurut gue agak sedikit awkward kalo diceritain di ruang publik. Alasan lain adalah, nulis diary terkadang bukan cuma sekedar nulis. Rasanya kita bener-bener tahu dan ngerti apa yang kita tulis melalui tulisan tangan. As simple as that.

Lalu semakin umur gue bertambah, semakin gue suka baca beberapa bacaan yang rada serius dan berpengaruh pula sama hobi nulis gue. Gue mulai nulis cerita-cerita fiksi semacem cerpen dan novel. Waktu awal-awal masuk SMP, gue punya project novel sama temen-temen deket waktu itu. Ceritanya ringan dan masih dalam ruang lingkup anak sekolahan. Tapi sayangnya sampe sekarang cuma itu satu-satunya project novel yang belom bisa gue selesain lantaran gue udah jarang ketemu dan  tuker pikiran sama temen-temen deket dulu. Gue coba lanjutin sendirian, tapi tetep aja belom pas. Mungkin karena dari awal niat gue novel itu project bersama, bukan milik pribadi.
Terlepas dari itu, gue sering bikin cerpen dan beberapa berani gue kirim dan dimuat di surat kabar atau diikutin ke lomba-lomba cerpen. Sisanya gue simpen sendiri dan beberapa di posting di blog. Mungkin gue lebih pro nulis cerpen karena biasanya ide itu datengnya tiba-tiba dan mendesak untuk cepet ditulis, kalau gak ya bakal cepet lupa. Lagipula cerpen lebih cepet selesai dan masa produktifnya bisa kapan aja. Masa-masa SMP yang paling labil inilah jaman dimana gue lagi suka banget nulis. Sabodo teuing lah tulisannya gak sesuai EYD atau gak jelas alurnya, yang penting ide harus tersalurkan.

Banyak orang yang pengen hobinya bisa jadi pekerjaan. Bakalan asik banget kalo kita bisa kerja sesuai dengan hobi, pasti perasaan jenuh bakalan lebih mudah diatasin karena kita ngelakuin pekerjaan sesuai dengan apa yang kita mau dan kita suka. Dulu gue pengen banget jadi penulis. Tapi mengutip kata-katanya Kugy di novel Perahu Kertas bagian awal, "Jadi penulis itu gak realistis!". Kalimat ini muncul karena waktu itu Kugy yang pengen jadi penulis dongeng dihalangi cita-citanya karena pendapat orang-orang kebanyakan bahwa jadi penulis itu gak akan bisa bikin hidup kamu serba berkecukupan dibandingkan pekerjaan-pekerjaan mainstream seperti dokter atau pegawai kantoran. Walaupun jaman sekarang udah banyak buktinya orang yang bisa sukses dengan menjadikan menulis sebagai pekerjaan, waktu itu lingkungan memaksa gue untuk ngelupain cita-cita sebagai penulis dengan alasan yang sama seperti diatas. Nyali gue payah, mental gue ciut. Gue ngerasa kurang bisa survive dengan cita-cita yang akarnya pun belom mantap. Tapi sampe sekarang gue masih terus suka nulis, baik cerpen, artikel, puisi, prosa, atau novel walaupun pengerjaannya gak bisa dipaksa tenggat waktu deadline. Walaupun gak jadi pekerjaan, gue tetep suka nyalurin hobi sekaligus belajar dari bacaan-bacaan lain.
 
Tapi pada akhirnya gue bersyukur karena dengan kuliah di jurusan Hubungan Internasional, gue semakin dekat dengan menulis. Jurusan gue ini gak pernah lepas dari yang namanya baca dan nulis. Walaupun beda dengan sastra yang mungkin lebih deket sama hobi tulis menulis gue, setidaknya dengan masuk di jurusan ini gue bisa belajar menulis dengan format yang formal dan akademis. Hobi gue baca dan nulis juga ngebantu banyak untuk terbiasa nulis sekarang ini, jadinya hobi gue itu gak sisa-sia. Jadi dengan menjadi apapun gue di masa depan nanti, gue pengen terus bisa nulis. Disimpan sebagai milik pribadi atau dipublikasikan, gue pengen terus menulis. Sampai kapanpun.

Wednesday, July 17, 2013

Tentang Ayah (Fiksi)

Aku benci ayah.
Bukan, aku bukan anak yang berasal dari orangtua yang bercerai atau anak yang lahir dari ayah yang cacat seperti kebanyakan cerita di sinetron. Aku benci ayah karena ia tidak pernah bisa membahagiakan kami. Sebelumnya hidup kami tidak terlalu melarat sampai perlu berhutang ke warung hanya untuk mendapat beras. Sebelumnya kebutuhan pokok kami setidaknya selalu bisa terpenuhi walaupun ponselku tidak pernah berganti selama bertahun-tahun. Sebelumnya iuran sekolahku selalu bisa dilunasi setiap bulannya tanpa perlu menunggak. Tapi itu sebelumnya. Sebelum ayah mengacaukan semuanya.
Ayah bukanlah pegawai kantoran yang punya upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Walaupun juga bekerja di kantor, posisi ayah tidak lebih dari orang yang selalu membersihkan toilet atau menyediakan kopi dan teh bagi para karyawan setiap harinya. Ayah selalu berangkat pagi buta dan pulang larut malam hanya untuk memastikan bahwa seluruh lantai kantor sudah disapu agar terlihat bersih keesokan harinya. Ayah cuma seorang officeboy.

Aku tidak pernah bangga akan pekerjaan ayah. Kalau saja tidak ada ibu yang mengelola warung bakso kecil-kecilan milik keluarga kami, penghasilan bulanan ayah tentu saja tidak cukup untuk memenuhi setidaknya separuh dari kebutuhan kami. Terkadang hatiku terenyuh melihat bagaimana letihnya raut wajah ibu yang menyiapkan dagangan di tengah malam. Ibu tidak pernah memperbolehkanku ikut membantu. Anak laki-laki tertua yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hanya berkewajiban menuntut ilmu sebagai bekal untuk mendapat pekerjaan nantinya, begitu kata ibu. Kedua adik perempuanku masih kecil dan yang satu terpaksa terlambat masuk sekolah karena tabungan ibu belum cukup untuk membayar uang pembangunan Sekolah Dasar yang cukup besar.
Lalu dimana peran ayah? Ayah selalu diam saat aku mengeluh pada ibu bahwa seragamku mulai lusuh. Ayah hanya memalingkan wajah waktu adikku merengek minta dibelikan sepatu baru. Ayah cuma bisa termenung saat rembesan air hujan menembus atap rumah kami yang sudah reyot. Ayah tidak pernah berbuat apa-apa. Bahkan ia hanya menatap kosong saat kehilangan pekerjaan satu-satunya.

Aku tahu dengan aku membenci ayah, Tuhan juga tidak akan senang. Malaikat di sebelah kiri pundakku akan mencatat amal buruk setiap kali aku mencibir tentang ayah. Dosaku akan kian menumpuk setiap kali menyalahkan ayah akan kehidupan kami yang kian memburuk saja. Terlebih lagi saat kulihat telapak tangan ayah melayang ke wajah ibu hingga menyisakan bekas merah yang menyakitkan, anggaplah aku anak durhaka, tapi rasanya aku ingin melakukan hal yang sama terhadap ayah. Lalu apa pedulinya jika aku pulang larut malam dalam keadaan mabuk? Toh aku tidak pernah meminta uang padanya. Lalu seiring dengan saling beradunya argumen, makian tidak henti-hentinya keluar dari mulutku. Tentang ayah yang tidak berguna, tentang ayah yang tidak bertanggung jawab, dan tentang ayah yang tidak bisa membahagiakan kami. Kuteriakkan semua isi hatiku yang selama ini hanya membuncah di benak saja. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Hingga pada akhirnya adu mulut ini berakhir dengan tubuhku yang lebam-lebam bekas hantaman sapu ijuk yang melayang dari lengan ayah, aku berdiri dengan sisa-sisa tenaga lalu tanpa menoleh pergi begitu saja melewati pintu rumah. Aku sudah sangat muak dan ingin pergi kemana saja asalkan tidak melihat wajah ayah. Ku langkahkan kakiku jauh dari rumah, tidak mempedulikan suara teriakan ibu yang membujukku kembali. Aku sudah terlalu benci ayah.

Berminggu-minggu aku tidak pulang. Meninggalkan sekolah, meninggalkan ibu dan adik-adik. Aku tidur dijalanan, mengobati rasa lapar dengan mengamen seadanya bermodalkan tepukan tangan. Serikali kudengar kabar dari teman-teman yang tidak sengaja bertemu di lampu merah bahwa ayah setiap hari mencari-cari keberadaanku. Ya, ayah yang ku benci setengah mati justru malah menjadi yang paling peduli. Tapi bukannya kembali pulang, aku malah melangkahkan kaki makin jauh dari rumah. Aku tidak mengerti sudah sejauh mana kedurhakaanku ini. Sudah sebenci inikah aku pada ayah? Entahlah, mungkin mataku yang terlalu buta untuk melihat sisi baik ayah, atau kepalaku yang terlalu batu untuk mengerti bahwa mungkin ayah akan membahagiakan kami dengan caranya sendiri.

"Woi! Lo denger gak sih? Masa cuma segini setoran lo hari ini?!"

Pukulan bertubi-tubi dari beberapa preman menghilangkan kesadaranku. Pikiranku melayang pada sosok ayah. Tidak seharusnya aku membenci ayah. Ayah sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa membahagiakan kami. Jika ia kehilangan pekerjaan, tidak seharusnya pula aku mengutuknya tidak berguna. Tidak seharusnya aku melontarkan kata-kata kasar dan tatapan tajam. Walau bagaimanapun, dari ayahlah aku belajar untuk menyayangi ibu. Dari ayah juga aku bisa hidup.

Gelap. Sekujur tubuhku terasa sakit. Hanya tinggal terasa satu lengan yang menopang punggungku.

"Dani! Jawab ayah, Nak! Kamu ngga apa-apa kan?!"

Ayah? Itu suara ayah?
Tuhan, semoga aku tidak terlambat untuk bersujud dan mengucap maaf pada ayah.

Friday, April 26, 2013

Affair



Dia sangat cantik.
Di depan mataku dia terlihat begitu cantik bahkan ketika sedang mengunyah dengan mulut penuh seperti itu. Kesederhanaannya yang membuatku jatuh cinta. Pemandangan di depanku ini seketika mengingatkanku pada momen pertama kali kami bertemu. Ya, disini. Saat itu aku, laki-laki yang perfeksionis sedang menggerutu sambil terus mengelap kemeja licinku yang tidak sengaja ditumpahi jus tomat. Bagaimana tidak, sebentar lagi aku harus menghadiri meeting penting bersama para investor. Yah walaupun aku dengan mudah bisa meminta sekretarisku untuk mengambil kemeja cadangan yang berada di lemari kantor, tapi tetap saja aku benci kecerobohan. Walaupun hal itu disebabkan oleh kekasihku sendiri. Saat itu perempuan yang sedang berada di hadapanku ini masih berwujud orang asing yang belum ku kenal. Ia duduk tepat di belakangku, sedang menikmati makan siang bersama teman sekantornya. Masih tergambar jelas di otakku bagaimana dia menertawai tingkah laku-ku yang menurutnya kekanak-kanakan dengan menyalahkan kekasihku yang pada saat itu tidak sengaja menjatuhkan segelas jus tomatnya.
         “Laki-laki kok repotnya melebihi perempuan..”, ujarnya di sela-sela tawa kecil. Aku ingat pada saat itu langsung refleks memutar kepalaku, menatapnya lekat dengan sorot mata yang tajamnya melebihi belati. Beraninya dia berbicara seperti itu. Saat itu yang terpikir di benakku hanyalah bagaimana mungkin ada perempuan yang penampilannya bisa berbanding terbalik dengan derajat kesopanannya. Dalam sekali pandang, orang lain bisa melihat kalau perempuan ini memiliki paras yang bisa dikatakan cantik dan penampilan yang modis. Namun aku bukanlah laki-laki yang bisa dengan mudah terpikat pada penampilan luar. Aku suka perempuan yang memiliki tata krama tinggi walau bukan berasal dari keluarga ningrat. Aku suka perempuan yang anggun dengan menjaga tutur kata serta pembawaannya.
Tapi...perempuan ini berbeda. Pertemuan pertama itu belum juga menyadarkanku bahwa ia nantinya akan menjadi orang yang penting bagiku. Pertemuan kami dilanjutkan dengan hubungan kerja antara perusahaan yang kupimpin dengan perusahaannya. Aku yang begitu logis tidak menganggapnya sebagai kebetulan, maka dari itu ku simpulkan bahwa memang Tuhan sudah menggariskan jalan bagi kami berdua untuk bertemu kembali. Nah, lalu siapa yang menyangka bahwa perempuan yang menurutmu begitu menyebalkan pada awal pertemuan akan menjadi istrimu di masa yang akan datang? Satu tahun sejak pertemuan pertama itu, cincin berlian dariku telah melingkar indah di jari manisnya. Kami jatuh cinta dengan cepat, merasakan bahagia dengan cepat, lalu kehilangan debar-debar itu dengan cepat pula. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa rasakanlah bahagia pelan-pelan, maka jika suatu saat ia hilang dan berganti kesedihan, kau tidak akan jatuh terhempas terlalu kuat.
        Mungkin kesalahan terletak padaku yang tidak bisa mentolerir perbedaan kami. Atau mungkin pada pribadi kami yang terlalu bertolak belakang. Adanya perbedaan justru akan memperindah ikatan suami-istri, bukan? Tapi tidak pada kami. Begitu banyak perbedaan yang kami tekan saat memutuskan untuk menikah –dengan harapan agar hubungan ini malah semakin langgeng dengan perbedaan- malah menjadi bumerang bagi kami sendiri.

         “Aku gak bisa jadi perempuan yang diem aja di rumah. Aku harus kerja!”     

Begitulah katanya saat aku protes ketika jam kerjanya bahkan melebihi aku yang notabene seorang diretur sebuah perusahaan besar. Aku paham bahwa pekerjaannya sebagai creative director sebuah perusahaan penyedia jasa periklanan begitu menyita waktu. Ia juga tipe perempuan yang mandiri dan kuat, namun harga diriku sebagai suami sedikit terhina saat aku sampai di rumah lebih dulu darinya walaupun hari sudah larut malam. Istri macam apa yang tidak menyambut kedatangan suaminya dengan segelas kopi atau pijatan hangat?
 
          “Aku belum siap dengan komitmen untuk jadi seorang ibu”

      Ini yang paling tidak masuk akal. Bukankah tujuan menikah adalah membina rumah tangga dan membesarkan keturunan? Setidaknya begitulah yang diajarkan kedua orangtuaku. Mungkin disanalah letak sisi negatif kemandiriannya. Ia begitu mencintai karir yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Begitu cintanya hingga rela mengorbankan tahun-tahun pertama pernikahan kami tanpa seorang anak yang begitu ku idam-idamkan. Sekali lagi, aku merasa harga diriku sebagai suami tercoreng. Ini jelas keinginan sepihak.
      Tiba-tiba aku tersentak dari lamunan saat sepasang matanya menatapku tajam. Pertengkaran hebat terjadi lagi. Debat kecil yang kemudian berubah menjadi teriakan-teriakan penuh amarah. Ah, aku sudah begitu muak padanya. Di hadapanku dia tidak lagi se-memesona dulu. Tidak ada lagi debaran kecil saat kugenggam tangannya. Tidak ada lagi kecupan hangat menjelang tidur. Ia sudah bukan perempuan manis yang sapaannya kutunggu tiap pagi. Setiap kali bertengkar hebat, ego kami melesak kuat hingga entah sudah berapa banyak kata-kata kasar keluar dari mulutku. Ku katakan saja, aku sudah tidak membutuhkannya. Siapa yang butuh seorang istri egois yang bahkan bisa dihitung berapa kali menyiapkan sarapan untuk suaminya? Lagipula aku bisa mendapatkan apapun yang ku mau seperti halnya dia. Kami dua sosok sama namun begitu berbeda.
         Teriakannya membangunkanku dari mimpi. Menyadarkanku pada kenyataan. Sialan! Apa sebegitu kuatnya sosok perempuan itu hingga akhir-akhir ini sering menjadi tokoh utama dalam mimpi burukku?

          “Mas, kamu kenapa? Mimpi buruk?”

     Kepalaku menoleh cepat pada perempuan yang berada dalam selimut yang sama denganku sekarang.
          Simpananku.