Showing posts with label Tentang saya. Show all posts
Showing posts with label Tentang saya. Show all posts

Sunday, June 15, 2014

Untold Words for Catty

Hi, Catty.

I know you see me while I'm writing this. I know you are right there wherever I go. I know we never "communicate" properly since you showed me your existence. And maybe its good for now cause I'm still shocked to death whenever you appeared in my dreams or simply wake me up in several mornings. Let us do this slowly. Let me adapt on your presence.

Right now, in this moment, I barely think about words you told me that night. You revealed things I've been thinking about. Things and people I doubt. I'm scared knowing your words might be true. Catty, you frightened me a lot. But its funny how those words strengthen me this way. I know you're such a pure spirit and thats why instead of cursing at you, I'd receive your "friend request".

So they tell me you're an imaginary friend? Well I don't think so. You are not just an imaginary object, you are obviously real yet invisible. You are an invisible companion.

Saturday, March 15, 2014

I'm here where I supposed to be

Pernah gak sih lo mikir apakah tempat dimana sekarang lo berada dan apa yang lo lakuin sekarang udah sesuai dengan apa yang lo pengen? Am I right there where I supposed to be? Apakah lo masih berada di satu garis lurus yang udah direncanain sebelumnya atau malah udah melenceng jauh dari jalur? Gue pernah denger banyak cerita tentang ini. Gimana rasanya beberapa temen gue yang ngaku salah ambil jurusan bahkan gimana jadinya beberapa orang yang gue kenal jatuh ke rutinitas pekerjaan yang gak mereka suka sama sekali. Mereka bergerak cuma karena kewajiban, dan berputar cuma karena rotasi bumi yang memaksa. Hasilnya? Sebagian ada yang gak pernah merasa puas dan selalu loncat dari satu tempat ke tempat lain, sebagian lainnya tetap tinggal karena memang gak ada lagi yang bisa dilakuin selain menerima.

Gue jadi inget waktu lagi iseng-iseng main ask.fm dan ngejawabin random questions, tiba-tiba ada pertanyaan kayak gini,

Which do you think is more important: following the dreams your parents want for you or following your own dreams?

Gue sempet bingung mau jawab apa. And then I replied, following the dreams my parents want for me is one of my own dreams.

Like, seriously. Dulu gue pengen banget bikin bangga orangtua dengan cara yang mereka mau, dan orangtua gue pengen banget gue kerja di bidang kesehatan. Cita-cita mainstream layaknya dokter dan teman-temannya. I was thinking that I could be something more than that, but at that time I thought being a doctor  is not really bad. They put a lot of expectations on me, and the only thing that I said is; I will try hard to make your dreams come true, but deep down this is not my dream. So if I couldn’t make it, please let me be what I wanna be.

Saat itu gue udah punya target jurusan yang mau gue ambil. Gue tau jelas apa yang akan gue pilih dan dimana gue akan berada nantinya. Tapi kembali lagi ke statement awal, gue masih pengen bikin bangga orangtua dengan cara yang mereka mau. Dan gue nepatin janji untuk usaha keras supaya apa yang mereka mau bisa terwujud. Jungkir balik gue belajar mati-matian dan sayangnya usaha keras aja belum cukup, gue belum beruntung. Orangtua gue masih belum juga nyerah, mereka gak mau ngelepas gue untuk ngelanjutin kuliah di bidang yang gue suka karena emang gue bakal jauh dari rumah dan jarang pulang. Mereka minta gue ikut tes di Departemen Kesehatan di bagian analis, and I passed the test. But.....I refused it.

Gue punya kesempatan untuk bikin bangga orang tua dengan cara yang mereka mau, tapi sayangnya gue harus nolak. Simply because itu bukan cara yang gue mau. And then more or less I said like this: I’m so sorry but I’ll take my scholarship and be what I wanna be. Aku pengen belajar di bidang yang aku suka, dan aku mau kalian dukung aku. I’ll take this responsibility and I promise I’ll make you proud with my own way. Hasilnya? Gue mungkin gak punya bayangan akan gimana jadinya gue sekarang kalo dulu nerima tawaran itu, tapi gue berani bertaruh bahwa gue yang sekarang jauh lebih baik dari apa yang gue rencanain dulu. Setidaknya gue belajar di bidang yang gue suka dan dengan itu gue bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang gue ambil sendiri. Soal masa depan? Gak perlu khawatir, masa depan akan datang dengan sendirinya tanpa perlu diwanti-wanti. Cukup lakuin dan jadi yang terbaik dari diri lo sendiri.

Kembali ke masalah awal, terkadang pasti kita bingung kalo ada di posisi terlanjur ada di bidang yang gak kita suka sedangkan keinginan untuk memberontak semakin besar. Pilihannya cuma ada dua. Yang pertama, lo harus berani ambil resiko untuk keluar dari zona nyaman dan kejar apa yang lo pengen. Misalnya lo punya hobi yang bener-bener bikin lo ngerasa hidup daripada rutinitas yang lo lakuin selama ini, lo selalu punya pilihan kok, masalahnya apakah lo berani atau nggak. Tapi pastiin baik-baik, begitu lo keluar dari lingkungan lo yang sekarang, lo gak akan nyesel dan gak akan bikin kecewa orangtua. Dan pastiin lagi, bahwa lo hanya butuh loncat satu kali, because too much is just too much. Lo gak bisa selamanya terus lari demi gengsi atau tuntutan dari lingkungan yang maksa lo harus jadi apa, kuliah atau kerja dimana cuma karena gengsi pengen ada di tempat yang dianggap orang lebih baik.


Pilihan yang kedua, lo hanya perlu menerima. Ironis memang kalo pada akhirnya apa yang lo suka dan minat cuma bakal jadi hobi, padahal lo punya kesempatan supaya bikin keinginan lo jadi kenyataan. Terkadang beberapa hal gak perlu dipertanyakan dan lo hanya perlu menerima bahwa sejak awal ketakutan lo untuk mengambil resiko jauh lebih besar daripada keinginan lo sendiri. Pada akhirnya lo akan tetap di tempat yang sama dan tertinggal. Kalo gini solusinya tinggal satu, lo harus bisa bikin seimbang keduanya. Kewajiban dilakuin, tapi hobi tetep jalan. Emang susah, tapi itu harga yang harus dibayar karena hidup bakal terus berjalan dan gak peduli lo suka atau nggak. Life goes on, and you have to make so many decisions in every step you’ve taken. Intinya, lo bisa memutuskan untuk mencintai apa yang lo punya sekarang.

Friday, January 10, 2014

Welcoming 2014!

Walaupun sekarang udah lewat sepuluh hari dari awal tahun, tapi gue tetep mau ngucapin selamat tahun baru 2014! Ada  baaaanyak banget momen baik dan buruk yang bisa gue pelajarin dari tahun 2013. Ada waktunya sedih, tapi juga pasti banyak senengnya. I'm so thankful for everything. Kalo kita kilas balik, pasti ada kenangan dan orang-orang yang datang dan pergi di hidup kita selama satu tahun belakangan. Dari yang cuma sekedar say hi karena kebetulan satu kelas di mata kuliah yang sama, temen-kurang-akrab karena ngobrolnya cuma pas ada tugas kelompok doang, ada juga yang dari kenal berubah ke seolah-olah orang lain. Apapun dan dalam bentuk seperti apapun, gue berterima kasih untuk kenangan dari orang-orang yang pergi dan bersyukur untuk orang-orang yang masih tetap tinggal. You cannot force people to stay, can you?

Tahun 2013 adalah tenggang waktu dimana gue harus bisa berkaca bahwa seharusnya gue bersyukur lebih banyak untuk tambahan umur yang dikasih sama Allah SWT. Bisa ngelewatin satu tahun lagi, gue harus lebih bersyukur lagi. Bakal panjang banget kalo gue sebutin harapan-harapan di tahun 2014 ini. Ada banyak harapan untuk diri gue sendiri. Tapi yang jelas, dan ini beneran serius, gue mau perbaikin semua yang kurang baik di tahun lalu. Mungkin itu sifat, kelakuan, atau cara bergaul sama orang-orang disekitar. Gue mau lebih banyak bersyukur daripada ngeluh tapi gak menghasilkan apa-apa. Bismillahirahmanirahim, semoga bisa.

Whatever your resolutions are, I wish you a very happy new year. Cheers!

Saturday, November 2, 2013

Theory of Dream



Sejak kecil, gue punya banyak mimpi tentang masa depan, tentang bakal jadi apa gue nantinya. Mulai dari jadi dokter karena pengen nolongin orang, jadi penulis simply karena gue rutin nulis diary, sampe jadi tour guide profesional yang kerjaannya mondar mandir keliling dunia. Mungkin ada orang yang cuma punya satu mimpi seumur hidup yang dia bawa sampe kapanpun tanpa niat untuk merubah mimpi tersebut, tapi ada juga manusia-manusia super labil seperti gue yang semakin dewasa malah semakin bingung pengen jadi apa. Nggak mudah untuk bisa jadi konsisten, ngebawa satu impian terbesar lo seumur hidup dan mati-matian ngejer itu supaya bisa terwujud. Semakin dewasa, automatically keputusan yang lo ambil menyita lebih banyak logika daripada perasaan. Itu juga berarti impian lo akan dipengaruhi oleh hal-hal eksternal selain kemauan lo sendiri, misalnya keinginan orang tua atau tuntutan lingkungan. Tapi untuk manusia sejenis gue, bukan hal-hal semacam itu yang bikin impian gue gak pernah bertahan tetap dalam jangka waktu lama, tapi justru ada banyak hal-hal internal dari diri gue sendiri yang kadang jadi pengganggu. Misalnya, ada banyak hal yang gue suka dan gue minatin, dan dari situ juga ada banyak prospek yang bisa dijadikan pilihan sebagai impian, dan itu makin bikin gue bingung.

            Bicara soal mimpi, gue jadi inget beberapa quotes dari orang atau film yang begitu mengagung-agungkan kekuatan dari sebuah mimpi. Seperti misalnya Agnes Monica yang jungkir balik meyakinkan orang banyak dengan theory of believing dreams-nya itu. Dia bilang dengan percaya akan kekuatan sebuah mimpi dan usaha, you could make it happen. Atau seperti katanya Herjunot Ali di film 5cm, “Mimpi akan membuat manusia lebih dari sekedar seonggok daging yang punya nama”. Atau yang paling lucu adalah salah satu kutipan dialog dari novel Melbourne yang masih gue inget sampe sekarang. Saat si cewek gak rela pacarnya mengejar mimpi terbesarnya di negara orang, si cowok berkata kira-kira begini; “Hanya karena lo gak punya mimpi, bukan berarti lo bisa seenaknya menghina dan menghancurkan mimpi orang lain. You are the pathetic person complaining about not having a dream, tentang gak punya destinasi kehidupan yang jelas karena masih belom tahu siapa elo sebenarnya. Jadi jangan bawa-bawa gue dalam teori lo yang messed up itu. I’m not like you.”

            Dari semua itu, gue jadi mikir apakah serendah itu derajat orang-orang yang gak punya mimpi spesifik tentang masa depannya sampe bisa dibilang Cuma seonggok daging yang punya nama? Bukan berarti gue gak percaya tentang teori mewujudkan mimpi dan sebagainya, tapi apa yang salah dari orang-orang yang belum bisa menentukan patokan khusus tentang akan jadi apa dirinya di masa yang akan datang? Mungkin dalam hidup, lo akan menemukan orang yang seolah hidupnya sudah terencana dan tertata rapi. Memperoleh gelar cum laude saat lulus kuliah, bekerja di perusahaan ternama dengan jabatan dan gaji diatas rata-rata, serta menikah sebelum umur kesekian. Positifnya adalah, orang-orang seperti itu adalah tipe yang konsisten dan disiplin dalam hidup. Mereka tahu benar apa yang mereka inginkan berikut cara mewujudkannya, tapi bukan berarti orang yang belum tahu mimpi terbesarnya adalah orang-orang tanpa tujuan hidup yang jelas. Berani taruhan, inti dari semua perjalanan hidup yang orang inginkan adalah ending yang bahagia. Tapi hidup bukan hanya sekedar menjadi bahagia sesuai tata aturan. Terkadang lo juga harus peduli bagaimana proses menuju kebahagiaan itu. Jadi menurut gue, orang yang punya banyak keinginan dan mimpi itu hanya belum menemukan apa yang mereka mau dalam hidup untuk jangka waktu yang lama. Life is a matter of perspective.

            Ini bukan berarti gue gak setuju dengan beberapa quotes yang udah gue sebutin sebelumnya, tapi menurut gue mimpi lo yang tinggi itu gak akan ada gunanya sama sekali kalo lo gak berusaha bangun dan mewujudkan. Akan mudah bagi mereka untuk mengajak kita percaya pada mimpi karena tentunya mereka ini sudah sukses atau setidaknya punya satu mimpi besar yang mereka percayai. But the things is, kita yang menjalani. Mungkin ada banyak yang gak setuju dengan ini, tapi gue lebih memilih untuk menjadi orang dengan keinginan yang banyak dan gak terlalu mengangung-agungkan mimpi, daripada jadi orang yang hanya bisa bermimpi. It couldn’t even make me a better person. Gue gak mau jadi orang seperti itu.

            Mungkin sampai sekarang kalau ada yang nanya tentang mau jadi apa gue di masa yang akan  datang, gue masih belum bisa menjawab jelas. Selama ini gue selalu bertanya-tanya tentang banyak hal, kenapa begini kenapa begitu. Lalu kemudian lama-kelamaan gue jadi sadar, mungkin sebaiknya gue berhenti bertanya-tanya. I should stop questioning anything and start doing everything. Lakukan saja apa yang terbaik yang bisa kita lakukan dan jangan sia-siain semua kesempatan yang ada di depan mata. Toh juga gak punya satu mimpi besar gak akan bikin lo jadi pecundang. Bakal jadi apa kita nantinya, itu urusan belakangan. Bagi sebagian orang mungkin ini aneh, tapi gue lebih memilih untuk mengendalikan daripada dikendalikan oleh mimpi.

Thursday, July 25, 2013

Perkara Tulis Menulis

Semua orang pasti punya hobi. Mulai dari sekedar hobi-hobi standar semacem baca buku, tidur, nonton film, dan yang paling kompleks, hobi kepo-in orang. Nggak, gue lagi gak pengen bahas postingan nyinyir begituan. Berhubung lagi gak ada kerjaan dan bingung mau nulis apa, mendingan bahas perkara hobi tulis menulis yang udah gue suka sejak jaman pake seragam putih merah dulu.
Mungkin asal mula gue suka nulis bisa dibilang karena gue juga hobi baca. Mulai dari baca komik, cerpen, novel, sampe baca spanduk dan baliho di pinggiran jalan. Mungkin hobi ini juga terpengaruh sama pribadi gue yang sejak kecil ga terlalu sering main-main keluar rumah kecuali sama tetangga yang paling deket atau saudara. Waktu kecil gue orangnya lebih suka ngabisin waktu berjam-jam di kamar baca buku dongeng daripada keluyuran main sepeda atau ngejerin layangan. Karena sering baca, gue jadi berpikir gimana asiknya kalau ntar gue bisa nulis cerita yang bisa gue baca sendiri, syukur-syukur kalo ada orang lain yang mau baca. Bermodal diary, gue mulai rutin nulis. Walaupun dengan tulisan yang berubah-ubah karena waktu itu gue masih labil, tapi gue tetep konsisten nulis sampe gue udah berkali-kali ganti diary. And guess what, sampe sekarang gue masih suka nulis diary walaupun udah jarang banget dan cuma kalo lagi pengen atau ada kejadian penting. Mungkin terkesan kekanak-kanakan, umur udah hampir ninggalin belasan gini masih aja pake nulis diary. Sok imut lah. Alay lah. Tapi somehow gue ngerasa kalo disana adalah ruang paling pribadi dimana gue bisa nyeritain apa aja yang menurut gue agak sedikit awkward kalo diceritain di ruang publik. Alasan lain adalah, nulis diary terkadang bukan cuma sekedar nulis. Rasanya kita bener-bener tahu dan ngerti apa yang kita tulis melalui tulisan tangan. As simple as that.

Lalu semakin umur gue bertambah, semakin gue suka baca beberapa bacaan yang rada serius dan berpengaruh pula sama hobi nulis gue. Gue mulai nulis cerita-cerita fiksi semacem cerpen dan novel. Waktu awal-awal masuk SMP, gue punya project novel sama temen-temen deket waktu itu. Ceritanya ringan dan masih dalam ruang lingkup anak sekolahan. Tapi sayangnya sampe sekarang cuma itu satu-satunya project novel yang belom bisa gue selesain lantaran gue udah jarang ketemu dan  tuker pikiran sama temen-temen deket dulu. Gue coba lanjutin sendirian, tapi tetep aja belom pas. Mungkin karena dari awal niat gue novel itu project bersama, bukan milik pribadi.
Terlepas dari itu, gue sering bikin cerpen dan beberapa berani gue kirim dan dimuat di surat kabar atau diikutin ke lomba-lomba cerpen. Sisanya gue simpen sendiri dan beberapa di posting di blog. Mungkin gue lebih pro nulis cerpen karena biasanya ide itu datengnya tiba-tiba dan mendesak untuk cepet ditulis, kalau gak ya bakal cepet lupa. Lagipula cerpen lebih cepet selesai dan masa produktifnya bisa kapan aja. Masa-masa SMP yang paling labil inilah jaman dimana gue lagi suka banget nulis. Sabodo teuing lah tulisannya gak sesuai EYD atau gak jelas alurnya, yang penting ide harus tersalurkan.

Banyak orang yang pengen hobinya bisa jadi pekerjaan. Bakalan asik banget kalo kita bisa kerja sesuai dengan hobi, pasti perasaan jenuh bakalan lebih mudah diatasin karena kita ngelakuin pekerjaan sesuai dengan apa yang kita mau dan kita suka. Dulu gue pengen banget jadi penulis. Tapi mengutip kata-katanya Kugy di novel Perahu Kertas bagian awal, "Jadi penulis itu gak realistis!". Kalimat ini muncul karena waktu itu Kugy yang pengen jadi penulis dongeng dihalangi cita-citanya karena pendapat orang-orang kebanyakan bahwa jadi penulis itu gak akan bisa bikin hidup kamu serba berkecukupan dibandingkan pekerjaan-pekerjaan mainstream seperti dokter atau pegawai kantoran. Walaupun jaman sekarang udah banyak buktinya orang yang bisa sukses dengan menjadikan menulis sebagai pekerjaan, waktu itu lingkungan memaksa gue untuk ngelupain cita-cita sebagai penulis dengan alasan yang sama seperti diatas. Nyali gue payah, mental gue ciut. Gue ngerasa kurang bisa survive dengan cita-cita yang akarnya pun belom mantap. Tapi sampe sekarang gue masih terus suka nulis, baik cerpen, artikel, puisi, prosa, atau novel walaupun pengerjaannya gak bisa dipaksa tenggat waktu deadline. Walaupun gak jadi pekerjaan, gue tetep suka nyalurin hobi sekaligus belajar dari bacaan-bacaan lain.
 
Tapi pada akhirnya gue bersyukur karena dengan kuliah di jurusan Hubungan Internasional, gue semakin dekat dengan menulis. Jurusan gue ini gak pernah lepas dari yang namanya baca dan nulis. Walaupun beda dengan sastra yang mungkin lebih deket sama hobi tulis menulis gue, setidaknya dengan masuk di jurusan ini gue bisa belajar menulis dengan format yang formal dan akademis. Hobi gue baca dan nulis juga ngebantu banyak untuk terbiasa nulis sekarang ini, jadinya hobi gue itu gak sisa-sia. Jadi dengan menjadi apapun gue di masa depan nanti, gue pengen terus bisa nulis. Disimpan sebagai milik pribadi atau dipublikasikan, gue pengen terus menulis. Sampai kapanpun.

Sunday, January 6, 2013

Pulang

Ternyata hanya butuh 'pulang' untuk bisa tidur nyenyak




Dua minggu waktu saya untuk pulang. Bukan, bukan pulang ke rumah sementara saya di pulau seberang selama empat tahun ke depan. Ini pulang yang sebenarnya. Rumah sebenar-benarnya rumah yang saya sebut selama ini. Rasanya cuma tidak sabar, tidak lebih dan tidak kurang. Belum pernah saya se-kangen ini sama kota yang sudah saya injak selama delapan belas tahun, sama rumah dan kamar yang sampai beberapa bulan yang lalu masih saya tempati setiap harinya. Menjelang tanggal pulang yang saya pikirkan cuma kota itu beserta semua isinya.
Semuanya masih sama. Lampu-lampu jalan kuning temaram yang menemani langkah saya keluar bandara menuju rumah, jalanan yang ada kalanya sepi lalu bisa macet begitu saja, dan pos satpam kosong di pinggiran lorong. Tidak ada yang berubah. Mungkin belum. Lalu saya tersenyum sendiri, empat bulan ini belum seberapa. Bukan apa-apa bagi apa yang akan saya hadapi kedepannya nanti. Saya ingin teriak sekencang-kencangnya saat membuka gerendel pagar, memberi tanda bahwa saya sudah berada disini lagi.
Saat pertama kali memasuki rumah, yang saya ingat adalah sosok nenek. Bagaimana saya begitu rindu dengan tubuh rentanya yang selalu duduk di ruang tengah, menunggu saya atau adik pulang sekolah dengan tasbih dan Al-Quran di hadapannya. Saya rindu nyanyian doa-nya, menasehati saya bahwa hidup bukan hanya urusan di dunia atapun sebaliknya. Berkata lembut sambil sesekali tertawa atau hanya sekedar tersenyum simpul. Saat menatap kamar kosong itu, rasa rindu saya sampai ke ubun-ubun. Sambil menangis saya berdoa semoga Allah menempatkan nenek disisinya.

Dulu sebelum saya pindah ke Jakarta untuk kuliah, saya lebih suka berdiam di rumah, menonton film atau sekedar menghabiskan bertumpuk-tumpuk novel yang sudah berulangkali dibaca. Atau menulis. Tapi semenjak pulang kemarin, saya tidak betah di rumah. Saya ingin tahu perubahan apa saja yang bisa terjadi selama rentang waktu empat bulan, waktu yang masih sangat singkat sebenarnya. Tapi biar saja, at least saya bisa merasakan kembali suasana seperti ini, yang tidak saya dapat di tempat manapun.
Jakarta bukanlah kota yang tidak pernah saya kunjungi. Jakarta sering saya jejaki, tapi bukan kota yang sering ditinggali untuk waktu yang sama. Saya  bisa mencari keramaian dimana saja di kota ini, tapi tetap saja rasanya berbeda. Aneh. Asing. Padahal Jakarta tidak berbeda jauh dengan Palembang. Tidur saya disini tidak pernah benar-benar nyenyak. Saya bisa tidur hanya diatas tengah malam, saya bisa bangun lebih telat dari biasanya tapi selelu terbangun beberapa jam sekali. Saya suka sepi, tapi tidak dengan kesunyian. Pada awalnya saya pikir tempat dan suasana baru ini seolah mengusir, tapi lalu saya sadar bahwa saya-lah yang seharusnya menyesuaikan diri disini, bukannya Jakarta yang harus berubah seperti apa yang saya mau. Ini keputusan yang saya buat sendiri, tinggal niat dan tekad yang menemani saya disana.

Tanggal-tanggal sebelum natal dan tahun baru adalah libur universal bagi hampir semua orang, apalagi anak seekolah. Dan diantara sepupu dan keponakan, cuma saya yang baru saja lulus sekolah. Rasanya lucu jika bergabung dengan mereka yang berada satu sampai tiga tahun di bawah saya, sedikit mengingatkan bahwa umur saya sudah hampir melangkah dua tahun dari sweet seventeen. Tapi keluarga tetaplah keluarga. Keluarga tidak mengenal batasan apapun termasuk usia. Jadilah kami menghabiskan sisa tahun 2012 dengan melakukan apa saja karena mereka kebanyakan tinggal di luar kota. Rasanya masih seperti liburan sekolah biasa.
Tahun baru 2013 saya lewatkan dengan keluarga besar. I mean, benar-benar keluarga besar. Kami memasak apa saja yang bisa di masak, bermain petasan dan menonton puluhan kembang api memenuhi langit, lalu berteriak dan meniup terompet sekencang-kencangnyaa ketika waktu menujukkan tepat saat pergantian tahun. Lalu setelah hari itu satu persatu mereka kembali pulang dan melanjutkan apa yang tidak bisa dihentikan. Melanjutkan apa yang sudah ditakdirkan oleh waktu.

Beberapa jam lagi saya juga akan berangkat. Kembali pada rutinitas dan suasana yang masih dibiasakan dan berusaha diterima oleh tubuh dan hati saya. Kembali pada cita-cita yang menjadi pilihan saya. Kembali pada alasan mengapa saya meninggalkan rumah.

Saya menyebutnya pergi, karena bagi saya selamanya disinilah tempat saya pulang.

Monday, November 19, 2012

Postingan ditengah Hapalan

Lirik kanan, tumpukan textbook. Toleh kiri, notes dan kertas-kertas catatan.
Well, this is how I spend my night.



Minggu-minggu ujian mungkin masa-masa paling menyiksa buat makhluk seperti saya -yang baru aja terima almamater, yang baru tau rasanya kuliah- Baiklah mungkin agak hiperbola. Tidak menyiksa, cuma sedikit mengurangi jatah tidur. Apalagi yang shift ujiannya pagi-pagi buta. Kurang bahagia apa coba.
Jadi sistem ujian disini itu agak beda mungkin ya. Mungkin universitas lain ujiannya dikelang (ngerti ngga kelang? Di jeda gitu loh) satu atau dua hari antara satu mata kuliah sama mata kuliah lain. Tapi disini sistemnya, "berlibur-libur dahulu barulah mabok kemudian". Gimana ngga? Dikasih hari tenang 5 hari, setelah itu tiga hari berturut-turut ujian dengan mata kuliah yang...cius cumpah susah. Abis itu libur lagi lima hari dan ujian lagi dst dsb.

Masalahnya adalah, sudah sifat wajib manusia menunda-nunda pekerjaan. Libur lima hari itu tujuan normatifnya ya dipake belajar buat ujian yang tiga hari berturut-turut tadi. Tapi apa mau dikata, apa daya upaya, malas tidak terelakkan. Hari pertama libur mikirnya ya, alah baru juga hari pertama, santai ajalah. Hari kedua, udah besok-besok juga bisa, masih ada tiga hari ini. Hari ketiga, besok deh ya. Nah baru pas menjelang hari keempat selesai dan menuju hari terakhir liburlah, akal sehat baru jalan. Where have you been huh? HAHA.

Apalagi godaan ada banyak. Pertama, bales dendam waktu tidur. Beberapa minggu ini jadi sering tidur pagi gara-gara project ICOBIRD-nya HI. Bikin video stop motion sampe pagi sementara besok pagi-panginya mesti jadi liason officer Prof. Elliot. Tidur jam setengah lima pagi itu masih mendingan, banyak temen-temen yang bahkan ngga tidur sama sekali. Makanya libur yang beginian jadi ajang bales dendam. Si Kathlin aja tuh kemaren yang kebagian jatah ngga tidur sama sekali selama dua hari berturut-turut, jadinya pas ada kesempatan bales dendam dia tidur udah kayak orang mati.
Kedua, si-serigala-ganteng-berbadan-kekar-ku itu sudah memenuhi bioskop-bioskop seantero Indonesia. Breaking Dawn Part 2 memang godaan paling dahsyat apalagi Jacob Black-nya. Can't imagine before that the ending would be like this. Perspektif awalnya sih full of romantic stuffs, ternyata sutradaranya cukup pinter bikin ending yang kalo kata Syahrini sih cetar membahana badai. Anyway it's the best recommended movie of the year I think.

Besok itu hari kedua ujian berturut-turut setelah lima hari libur. Indonesia dalam Persfektif. Politik. Ekonomi. Besok lusanya lagi Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Realisme. Liberalisme. Marxisme. Belum lagi tugas summary Sejarah Dunia Modern yang sampe sekarang intinya pun masih jadi bahan pikiran. Bunuh aja bunuh..




Tadinya sih mau upload foto tumpukan buku, tapi males mindahin dari hape.
Yang ini kayaknya lebih 'touchy' *alibi*





Well yah, mari kita kembali pada pelukan buku-buku dan catatan-catatan cantik ini. Semoga setidaknya masih ada kesempatan tidur malam ini.
Selamat malam, semoga yang sakit bisa cepat sembuh. Selamat tidur.

Monday, September 6, 2010

Pelarian?

There are many ways to release your emotions; nangis, marah sambil teriak-teriak. Walaupun gak bakal ilang sepenuhnya, seenggaknya bisa dijadiin pelarian. Its relieving, anyway. Daripada disimpen, menuh-menuhin inbox.

Gue orangnya gak bisa marah. Bukan berarti gue gak bisa ngerasain rasa marah, tapi lebih ke gak bisa marah yang sebener-benernya marah, stay mad just like everyone did. Sampe teriak atau bentak-bentak orang gitu. Meh, not my type. Atau kayak salah satu temen gue itu yang kalo marah malah banting-banting barang. Sok kaya. Serius, gue lebih suka nangis. Gue gak bisa marahin orang. Kalo sekedar buat lucu-lucuan pas waktu MOS sih, gue bisa. Tapi kalo yang marah beneran, kayaknya jarang banget dan teritung jari sejak gue bisa ngerti apa itu marah. The weird thing is, kalo gue ngerasa marah dan gue mau teriak, kepala gue pusing. As if I couldn't release my emotions that way.

Gue lebih suka nangis karna gue nyesel, kenapa gue mesti marah. Padahal belom tentu orang itu yang salah. I believe that there is no a proper right or wrong. Konsep benar-salah itu relatif. Well maybe we just have to think in the different perspective, sisi dimana gak setiap orang bisa terima. Mungkin inti dari posting ini adalah, gue terlalu cupu untuk bisa marah kayak orang-orang lainnya. But trust me, I just don't wanna make things worse. If you cannot say something nice, do not say anything or you better left things unsaid. Kita gak berhak menghakimi siapapun.


Besides, emosi gak harus selalu diluapin dengan marah-marah kan? There is always a productive thing we can do to overcome this. Nulis misalnya?

Monday, July 5, 2010

Me and My Two Side

Setiap gue tanya sama orang lain tentang gue dengan satu pertanyaan simpel, 'Menurut lo gue ini orangnya gimana sih ?' Selalu yang bikin gue heran, karna jawabannya gak sama. Apa gue punya kepribadian ganda? Tapi gak mungkin, gue gak ngerasa gitu. Anyway, sebenernya kepribadian ganda itu gimana sih? Kalo menurut buku-buku yang gue baca, orang yang punya kepribadian ganda adalah orang yang punya dua sisi dalam dirinya. Dan setiap kali sisi yang satu muncul, sisi yang lain pasti gak sadar. Dan anehnya, kedua sisi itu kontras satu sama lain. Beda banget. Ambil contoh, ada orang yang sehari-harinya punya sisi yang baik, lembut, jarang bikin masalah, pokoknya hidupnya serba lurus. Tapi kadang dia bisa berubah drastis jadi pemarah, egois, jahat, bahkan brutal. Tapi waktu ditanya tentang hal itu, dia gak tau apa-apa. Lebih tepatnya dia gak inget apa-apa waktu kepribadiannya berubah.


Gue? jelas gak kayak gitu. Tapi temen-temen gue bilang, gue ini kadang kekanak-kanakan, kadang juga dewasa. Dua hal itu jelas terletak di sisi yang beda. Its on the two sides of a coin. Kata orang, gue kakanak-kanakan dalam hal tingkah laku. Secara suara gue cempreng dan masih suka banget hal-hal yang berbau anak kecil. Tapi soal dewasa, orang bilang dewasanya gue dalam hal pemikiran, cara ngatasin masalah, dan cara gue ngeliat suatu hal dengan sisi yang berbeda-beda. Well I don't know, I don't even know my self yet. But it is the interesting part of your life isn't it? Life is all about finding your true self, finding your path and your way.

Thursday, April 8, 2010

Sixteenth Birthday

Here is the liar.

Harusnya gue publish postingan ini pas tanggal 19 Maret on the D-Day sih, tapi kelupaan gitu aja. Anyway, makasih beribu-ribu makasih banget buat yang udah susah payah begadang nungguin tengah maelm cuma buat ngucapin ke gue. FOr the surprises, for those people. Thanks a lot.





I have a long wish list, but let just sum up in a sentence. May everything goes well.

Saturday, April 4, 2009

First Post

Nama lengkapnya Ayu Tiara Maretha. Di sekolah biasa dipanggil Ayu, Aya, atau panggilan yang lebih norak lagi karena singkatan nama, ATM. Iya, modern abis. Sekarang masih SMP, umur juga baru 14 tahun.Well since I don't know how to make a proper introduction, lets just end this post.