Aku ingin melukis langit
Biarlah tidak dengan kuas, biarlah bukan dengan tinta atau cat berwarna.
Aku ingin menembus batas yang terbentang
Ingin menyempitkan jarak, ingin menarik sosokmu
Ingin menyampaikan kata dan nada melalui gelapnya kanvas langit
Mungkin tidak semegah milik Da Vinci
dan tidak secantik Monalisa pula
Toh aku hanya ingin lukisan ini tersampaikan,
Pada sosok kelam yang tabirnya begitu sulit ku sibak
Pada bayangan semu dibawah terangnya rembulan
Aku ingin melukis langit
Dan berharap kau menengadahkan kepala, lalu menyadarinya
Wednesday, November 14, 2012
I Love(d) You Part II -end-
"Aku cuma mau minta maaf. Mungkin waktu kita putus aku ga sempat ngomong panjang lebar. Aku emosi banget waktu itu", ucap Iqbal tanpa sedikitpun ingin melepas lengan Fira dari genggamannya. Ia ingin bicara baik-baik. Ia rindu bicara baik-baik dengan perempuan yang ada dihadapannya saat ini.
"Gue tau, tapi.."
"Bisa nggak sih kamu nggak usah pake lo-gue sama aku?", sela Iqbal dengan nada suara yang sedikit meninggi. Ia benci seolah-olah Fira menganggapnya bukan siapa-siapa. Yah, memang ia bukan kekasihnya lagi tapi otak dan hatinya belum bisa menerima perubahan sedrastis itu. Tidak, dia tidak siap menerimanya.
Fira tersentak. Baru kali ini Iqbal berbicara dengan nada setinggi itu, nyaris membentak. Ia sangat tidak suka dibentak, oleh siapapun. Sontak saja ia mengibaskan tangan yang masih digenggam Iqbal.
"Emangnya kenapa? Lo gak suka? Gue juga ga suka lo bentak-bentak gue!", bentak Fira tak kalah kerasnya. Sungguh ia tidak terbiasa seperti ini. Ia tidak pernah membentak orang lain jika tidak benar-benar marah. Tapi ucapan Iqbal, nada bicaranya, tatapan matanya, dan cengkraman tangannya yang berubah menyakitkan menggerakkan bibirnya untuk membalas dengan sentakan pula. Kemudian tanpa disadarinya ia sudah berjalan cepat, meninggalkan Iqbal yang masih terpaku atas perlakuan yang baru saja diterimanya. Ia tidak bermaksud begitu. Sungguh, Iqbal tidak bermaksud membentak. Ia hanya...hanya...Ah! Ia benci merasa frustasi seperti ini.
Hari berganti bulan, lalu berganti tahun. Malam ini adalah pesta perpisahan sekolah mereka. Sejak pertengkaran singkat dibawah pohon rindang itu, Iqbal sama sekali tidak punya nyali menyapa Fira. Ia takut. Ia takut akan mengeluarkan kata-kata yang hanya akan menyakiti hari perempuan itu lagi. Ia takut ia akan merubah Fira menjadi sosok yang jauh lebih dingin. Karena itu ia hanya bisa memandangi Fira dari jauh, menjaga dan mengawasinya dari sudut yang tak terlihat, karena hanya dengan cara itu ia masih bisa melihat Fira tersenyum walau bukan untuknya. Karena jika berhadapan dengannya, Fira seketika akan berubah menjadi sosok yang ia tidak kenal, melemparkan sorot mata tajam dan sinis.
"Fira? Ini lo kan?", Fira merasa satu tangan menarik lengannya. Saat itu ia sedang celingukan bingung ingin melakukan apa. Semua orang berdansa dan tertawa, atau sekedar menyesap minuman dan menikmati makanan kecil sambil bercengkrama dengan teman atau pasangan. Sementara ia hanya bisa berdiri di sudut ruangan yang melihat pemandangan sekitar.
Fira mengamati sosok itu dari balik topeng putihnya. Sosok yang juga kabur karena tertutup topeng hijau, lalu ia tersenyum, "Iya ini gue, di. Kok lo bisa ngenalin gue?", ujarnya agak sedikit heran. Sejak tadi tidak ada seorangpun yang mengenalinya dengan topeng ini, tidak juga teman-temannya yang sedari tadi berseliweran di hadapannya.
"Mau tau aja. Pesta topeng kayak beginian nggak ngaruh sama gue. Buktinya gue masih bisa nemuin lo", jawabnya sambil tertawa kecil lalu mengajak Fira ke tengah ruangan untuk berdansa.
"Lo tau gue sama sekali nggak berbakat sama yang beginian..", ujar Fira sedikit canggung mengatur posisi tangan dan kakinya. Mencoba berdansa dengan Aldi mungkin lebih baik daripada berdiri seperti orang bodoh di sudut ruangan.
"Lo tau nggak, mantan lo itu dapet beasiswa ke aussie", sela Aldi ditengah nada klasik yang mengalun. Fira menerawang, ia jelas tahu hal itu. Tanpa harus diberi tahu secara langsung, tanpa perlu bertanya pada yang bersangkutan, ia sudah cukup tahu dan menurutnya Iqbal pantas menerima beasiswa itu. Itu cita-citanya sejak dulu. Mimpinya.
Tanpa sadar pikirannya juga menerawang jauh, menariknya kembali pada saat mereka berbagi mimpi. Iqbal yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri dan Fira yang ingin menjadi guru di daerah perbatasan. Dua hal yang sangat bertolak belakang memang, tapi mereka membaginya dengan tawa. Setidaknya saat itu mereka bersama-sama membahas impian dengan gelak tawa. Ya, saat itu.
Bingung harus menjawab apa dengan lidah kelu, Fira lebih memilih mengangkat ujung bibirnya.
Hari sudah lewat tengah malam. Gaun tanpa lengan yang dipakainya membuat Fira menyilangkan tangan di dada, kedinginan. Kakaknya belum juga datang menjemput. Agak menyesal juga dia menolak tawaran Aldi untuk mengantarnya tadi. Dia merasa tidak enak kalau harus terus-menerus menerima bantuan dari Aldi. Ia tahu sahabatnya itu menyukainya, sangat tahu, tapi ia tidak rela jika harus menukar persahabatannya itu dengan cerita baru yang belum tentu bertahan sampai akhir.
"Kamu belom pulang?", suara kecil Iqbal mengagetkannya. Ia menggeleng, lalu kembali diam. Menatap laki-laki itupun ia tidak berani, padahal malam ini Iqbal sangat berbeda dari biasanya. Jasnya mungkin sama seperti teman-teman Fira, tapi auranya berbeda. Entahlah, mungkin karena Iqbal terlihat lebih dewasa.
Sadar tidak mungkin mendapat respon, Iqbal melanjutkan perkataannya dengan pandangan lurus ke langit, "Mungkin ini terakhir kali aku bisa bicara sama kamu, jadi aku mau bicara baik-baik. Aku minta maaf untuk semua kesalahan aku selama ini yang secara sengaja atau nggak udah nyakitin kamu. Aku berterima kasih untuk apapun yang sudah kita jalani selama ini, untuk apapun yang kamu kasih buat aku. Semoga kamu bahagia dengan apapun yang kamu jalani selanjutnya. Aku selalu berharap yang terbaik dalam hidup kamu".
Setelah itu tanpa menoleh, ia melangkah pergi.
....
"Kamu sudah makan? Gimana keadaan disana?", terdengar nada cemas dari seberang telepon. Iqbal tersenyum geli. Mamanya selalu saja seperti ini semenjak ia pindah ke Australia untuk melanjutkan studi. Tidak peduli waktu setempat sudah menunjukkan beberapa menit sebelum tengah malam seperti ini, ibunya itu tetap saja menasehatinya seperti anak kecil. Bahwa ia harus makan tepat waktu, harus tidur cukup, dan tidak boleh membuang waktu dan uang, dan bahwa ia harus cepat kembali.
"Ma...aku baru setengah tahun disini, belum juga hapal jalan udah disuruh pulang", cecarnya sambil tertawa kecil. Ia mulai menyukai kehidupannya disini. Sendiri tanpa kerabat membuatnya lebih mandiri.
Iqbal baru bisa tidur setelah membujuk ibunya untuk segera tidur. Sepertinya ibunya itu begitu rindu, hingga terkadang terdengar isak tangis disela ocehannya, membuat ia merasa ingin kembali pulang lalu memeluk ayah dan ibunya. Namun perjuangannya disini untuk membanggakan mereka belum apa-apa, belum seberapa. Cepat-cepat disingkirkannya pikiran itu.
Mata yang hampir terpejam. Ponsel bergetar. Dari sebuah nomor yang tidak dikenal.
"Lo tau nggak, mantan lo itu dapet beasiswa ke aussie", sela Aldi ditengah nada klasik yang mengalun. Fira menerawang, ia jelas tahu hal itu. Tanpa harus diberi tahu secara langsung, tanpa perlu bertanya pada yang bersangkutan, ia sudah cukup tahu dan menurutnya Iqbal pantas menerima beasiswa itu. Itu cita-citanya sejak dulu. Mimpinya.
Tanpa sadar pikirannya juga menerawang jauh, menariknya kembali pada saat mereka berbagi mimpi. Iqbal yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri dan Fira yang ingin menjadi guru di daerah perbatasan. Dua hal yang sangat bertolak belakang memang, tapi mereka membaginya dengan tawa. Setidaknya saat itu mereka bersama-sama membahas impian dengan gelak tawa. Ya, saat itu.
Bingung harus menjawab apa dengan lidah kelu, Fira lebih memilih mengangkat ujung bibirnya.
Hari sudah lewat tengah malam. Gaun tanpa lengan yang dipakainya membuat Fira menyilangkan tangan di dada, kedinginan. Kakaknya belum juga datang menjemput. Agak menyesal juga dia menolak tawaran Aldi untuk mengantarnya tadi. Dia merasa tidak enak kalau harus terus-menerus menerima bantuan dari Aldi. Ia tahu sahabatnya itu menyukainya, sangat tahu, tapi ia tidak rela jika harus menukar persahabatannya itu dengan cerita baru yang belum tentu bertahan sampai akhir.
"Kamu belom pulang?", suara kecil Iqbal mengagetkannya. Ia menggeleng, lalu kembali diam. Menatap laki-laki itupun ia tidak berani, padahal malam ini Iqbal sangat berbeda dari biasanya. Jasnya mungkin sama seperti teman-teman Fira, tapi auranya berbeda. Entahlah, mungkin karena Iqbal terlihat lebih dewasa.
Sadar tidak mungkin mendapat respon, Iqbal melanjutkan perkataannya dengan pandangan lurus ke langit, "Mungkin ini terakhir kali aku bisa bicara sama kamu, jadi aku mau bicara baik-baik. Aku minta maaf untuk semua kesalahan aku selama ini yang secara sengaja atau nggak udah nyakitin kamu. Aku berterima kasih untuk apapun yang sudah kita jalani selama ini, untuk apapun yang kamu kasih buat aku. Semoga kamu bahagia dengan apapun yang kamu jalani selanjutnya. Aku selalu berharap yang terbaik dalam hidup kamu".
Setelah itu tanpa menoleh, ia melangkah pergi.
....
"Kamu sudah makan? Gimana keadaan disana?", terdengar nada cemas dari seberang telepon. Iqbal tersenyum geli. Mamanya selalu saja seperti ini semenjak ia pindah ke Australia untuk melanjutkan studi. Tidak peduli waktu setempat sudah menunjukkan beberapa menit sebelum tengah malam seperti ini, ibunya itu tetap saja menasehatinya seperti anak kecil. Bahwa ia harus makan tepat waktu, harus tidur cukup, dan tidak boleh membuang waktu dan uang, dan bahwa ia harus cepat kembali.
"Ma...aku baru setengah tahun disini, belum juga hapal jalan udah disuruh pulang", cecarnya sambil tertawa kecil. Ia mulai menyukai kehidupannya disini. Sendiri tanpa kerabat membuatnya lebih mandiri.
Iqbal baru bisa tidur setelah membujuk ibunya untuk segera tidur. Sepertinya ibunya itu begitu rindu, hingga terkadang terdengar isak tangis disela ocehannya, membuat ia merasa ingin kembali pulang lalu memeluk ayah dan ibunya. Namun perjuangannya disini untuk membanggakan mereka belum apa-apa, belum seberapa. Cepat-cepat disingkirkannya pikiran itu.
Mata yang hampir terpejam. Ponsel bergetar. Dari sebuah nomor yang tidak dikenal.
Aku sekarang jadi guru di perbatasan Kalimantan Selatan.
Aku tunggu kamu pulang liburan.
Aku tunggu kamu disini.
Selamat malam, selamat ulang tahun.
-Fira-
Saturday, November 3, 2012
Acquisence
Siang yang sepi. Aku suka kesunyian. Tapi berbagai suara di pikiranku merusak semuanya. Ia berseliweran tanpa henti menggaungkan kata-kata yang sama. Sebegitu menusuknya sampai yang bisa kurasakan hanya sakit dan otakku tidak bisa berpikir. Sebegitu tidak bisa berpikirnya sampai kubiarkan saja tetes demi tetes bening itu keluar begitu saja dari kelopak mata sampai membasahi kaus.
Aku lelah mencoba merelakan. Kenapa kita harus merelakan? Apa sesuatu itu sebegitu tidak pantas digenggam hingga harus dilepaskan? Tapi aku ingin merelakan. Karena mungkin jika berhasil, aku bisa menyebut namamu dengan lancar lalu bisa memandang fotomu dengan senyum. Aku bisa terbangun dengan memikirkan hal lain, bukan dirimu. Aku bisa memimpikan yang lain, bukan sosokmu. Kau kira aku tidak pernah mencoba merelakan? Aku sudah bosan melakukannya. Tapi semakin aku mencoba membuang sosokmu jauh-jauh, bayangan itu malah mengejar. Seolah menarik supaya aku terjatuh dan tidak bisa berdiri. Padahal aku sudah lelah mencoba bangkit. Padahal aku sudah lelah menangis.
Aku ingin bisa merelakan. Seperti kau yang dengan mudahnya berkata bahwa kita tidak bisa bersama, bahwa tidak akan ada lagi 'kita'. Sementara kau sudah pergi, melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan.
Tuesday, October 16, 2012
Kita Bertemu dalam Tengadahan Tangan yang Sama
Lalu aku bercerita pada Tuhan melalui tengadahan tangan. Disela sujud
dimana kepala bertemu pada bumi. Memohon untuk dia senantiasa menjagamu ..
Jarak kita tidak terlampau jauh. Hanya saja aku dan kau sama-sama tidak tahu dimana diri kita masing-masing sedang berpijak. Aku dan kau sama-sama tidak mengerti bagaimana cara menemui satu sama lain, lalu kita bertanya dalam hening, merindu dalam diam, dan pada akhirnya berharap dalam doa. Aku dan mungkin kau juga percaya bahwa batas terakhir yang tak bisa dilampaui adalah Tuhan. Zat yang menciptakanmu dengan tulang rusuk yang...mungkin bukan aku. Mungkin. Kita tidak pernah tau pasti.
Namun karena Dia-lah yang menciptakan kita, yang memutuskan untuk menurunkanmu ke dunia dan mengeluarkanku pada rahim ibu, aku sangat ingin bercerita pada-Nya. Bukan hanya berterima kasih atas nafas yang masih berhembus hari ini namun juga untuk lindungan-Nya padamu. Walaupun hari ini hanya bisa mendengar sedikit suara serakmu ketika terbangun dari tidur dan tidak tau pasti bagaimana keadaanmu, aku merasa bersyukur pada Tuhan bahwa hari ini, di dunia ini, kau masih ada. Lalu aku beralih pada rasa syukur untuk sepotong nyawa yang diberikan-Nya padaku. Untuk rasa yang masih mengalir hangat pada celah-celah hati.
Jarum pada jam kecil di mejaku sudah bertengger ke angka dua belas. Kau mungkin sudah berkelana di dunia antah berantah yang kita sebut mimpi. Lalu pandanganku beralih pada sosok yang kubingkai dalam pigura biru. Disana kau tersenyum lebar dengan tatapan menenangkan, seolah ingin menyampaikan bahwa kau baik-baik saja. Sedikit tersenyum, aku kembali menengadahkan tangan. Biarlah tanpa air suci, biarlah tanpa kain penutup kepala, aku hanya ingin menyelipkan satu doa lalu minta dikirimkan Tuhan padamu.
Semoga bunga tidurmu indah dan aku ada disana dengan sosok yang bisa mengangkat kedua ujung bibirmu keesokan paginya...
Wednesday, September 19, 2012
I Love(ed) You (Part 1)
Semangkuk mie instant ini rasanya sulit sekali dihabiskan. Entah mengapa rasa laparku seketika hilang saat melihatnya tersenyum pada orang lain. Senyum yang dulu hanya milikku, dan aku berhak marah jika ia membaginya dengan yang lain. Ya, Dia. Sudah sekitar tiga bulan setelah kami memutuskan untuk tidak lagi bersama. Alasannya karena...karena...Ah! Aku tidak ingin mengingatnya. Lagipula aku sudah lupa. Tepatnya harus dilupakan. Setidaknya itu yang dikatakan sahabatku ketika aku bertanya harus bagaimana dengan kenangan kami yang terus berseliweran di benakku tiap kali melihat sosoknya melintas.
Sejak kejadian itu, ia tidak pernah lagi tersenyum. Tepatnya tidak pernah lagi tersenyum seperti itu untukku. Jangankan mengobrol seperti biasa, bertegur sapapun kami enggan. Entah mengapa rasanya sulit untuk sekedar menyapanya. Mungkin karena kenangan selama hampir dua tahun bersama yang menjadikanku canggung untuk bicara padanya mengingat status kami sudah tidak lagi sama seperti beberapa waktu yang lalu.
Tepukan kecil dipundak membuyarkan lamunanku. “Woy, Bal! Yee ngelamun aja. Ngeliatin apa lo?”, ujar Badai yang langsung duduk disebelahku dan dengan lahapnya menyendok mie yang baru dipesannya.
“Lo ngagetin gue aja”
Seraya melihat ke arah pandanganku, Badai tersenyum. “Iqbal...Iqbal. Kalo lo masih sayang sama Fira, kenapa ga balikan aja?”, ujarnya sembari menyeruput es teh manis.
“Gak ah, gue gak mau”, jawabku pendek lalu menjejalkan mie kedalam mulut.
“Yaudah makanya lo lupain dia kalo gak mau balikan. Susah amat”
Itu masalahnya. Aku merasa ada banyak hal yang masih mengganjal dan perlu dibicarakan dengannya. Melupakan? Rasanya bukan ide yang bagus.
“Lo kenapa sih Fir? Gue tau lo sok-sok senyum aja daritadi. Pikiran lo kemana?”, ujar Aldi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Fira. Sahabat barunya ini sekarang jadi sering melamun dan menjadi sedikit pendiam. Tatapannya juga seringkali dingin dan kosong. Jika sudah seperti itu, harus ada yang menyadarkannya untuk sedikit tersenyum walaupun terlihat canggung.
“Gue baik-baik aja kok. Emangnya gue kenapa?”, jawab Fira sambil tersenyum kecut dan memainkan sedotannya. Jus mangganya baru seperempatnya diminum.
Aldi memilih diam daripada terus membahasnya. Ia tahu sedari tadi Fira sesekali mencuri perhatian pada Iqbal yang duduk di bangku paling sudut di kantin. Sejak putus dari Iqbal, Fira akan marah dan sensitif jika orang disekitarnya membicarakan tentang Iqbal. Ia akan melengos pergi atau berpura-pura tidak mendengar.
Saat hendak kembali ke kelasnya, Fira berhenti sejenak di koridor panjang lantai tiga yang sepi. Ia hanya berdiri menatap lapangan sepak bola tempat ia dulu sering berteriak dibawah panas matahari untuk mendukung Iqbal yang sedang bertanding. Tidak peduli tubuhnya sudah bau matahari dan rambutnya sudah berminyak atau tatapan aneh teman-teman yang lain karena ia berteriak seperti orang bodoh, ia hanya ingin menjadi satu-satunya orang yang dilihat Iqbal saat memasukkan bola ke gawang. Rasanya seperti baru kemarin.
“Sejak kapan kamu temenan sama Aldi?”
Fira tersentak dari lamunannya dan lebih terkejut lagi saat berbalik dan mendapati Iqbal sedang menatap lurus ke matanya. Itu kalimat pertama yang diucapkan Iqbal secara langsung padanya sejak mereka putus.
“Kenapa?”, jawabnya pendek sembari mengalihkan pandangan.
“Seinget aku kamu gak pernah segitu deketnya sama dia. Jangan bilang kalo...”
“Lo cemburu?”, tanya Fira memotong ucapan Iqbal yang belum selesai.
Iqbal mengalihkan pandangan, “Nggak. Buat apa?”
Fira tersenyum sinis dan menatap tajam mata lawan bicaranya, “Kalo lo gak punya alasan yang jelas mendingan gak usah komentar”. Itu kata-kata paling sinis yang pernah diucapkan Fira padanya.
“Sejak kapan kamu...”
“Kalo gak ada hal penting yang mau dibicarain lagi gue masuk kelas dulu”, ucap Fira sekali lagi tanpa mempedulikan kalimat Iqbal yang belum selesai. Ia berjalan perlahan tanpa menoleh, lalu hilang di balik lorong. Meninggalkan Iqbal yang hanya bisa menatap punggungnya. Hanya seperti itu? Hanya seperti itu saja percakapan pertamanya dengan Fira setelah tiga bulan? Bahkan tidak sedikitpun Fira menanyakan kabarnya? Yah, walaupun dia yang terlebih dahulu menanyakan tentang Aldi tapi apa salahnya dijawab baik-baik? Pikiran-pikiran itu berkelebat di benaknya.
Matahari siang tidak bisa lebih terik lagi. Fira berjalan terseok-seok menyusuri trotoar menuju rumahnya yang hnya berjarak satu kilometer dari sekolah. Biasanya kalau tidak diantar Iqbal, dia lebih suka berjalan kaki seperti ini. Lho? Kenapa dia jadi mikirin Iqbal lagi? Ah sudahlah, toh laki-laki itu juga belum tentu juga memikirkannya.
Tepukan halus di pundak menyadarkan lamunannya, “Hei”. Fira mendongak dan menemukan wajah yang baru saja beberapa detik yang lalu berusaha dienyahkannya dari pikiran. Well yah, lain kali mungkin ia tidak perlu mengingat orang ini jika tidak siap didatangi betulan. Tapi memangnya kenapa dia tidak siap? Entahlah, hanya senyum samar yang bisa diberikannya saat ini. Respon datar membuat Iqbal hanya menjajari langkah Fira dalam diam.
“Lo ngapain ngikutin gue?”, tanya Fira tanpa sedikitpun berniat menoleh atau memperlambat langkah. Cuaca makin panas, pipinya juga memanas.
“Aku ga boleh anterin kamu pulang?”
“Ada yang mau lo omongin sama gue?”, tanya Fira tembak langsung. Sudah tiga bulan ia tidak pernah melakukan kebiasan rutin ini dan sampai sekarang belum terbiasa. Ia tidak yakin tiba-tiba Iqbal begitu saja ingin mengantarnya pulang jalan kaki seperti jika tidak ada yang ingin dibicarakan. Apalagi sebenarnya arah tujuan mereka berbeda.
“Aku ga mau berantem, Fir”. Iqbal menahan lengan Fira untuk berhenti sejenak tepat di bawah pohon rindang yang sedang mereka lalui. Ia ingin bicara, tapi tidak tau tentang apa. Mungkin ia hanya ingin berada di sisi Fira seperti biasa, tapi sepertinya cewek itu sedang tidak dalam mood yang bagus hari ini. Atau memang itu cara Fira memperlakukannya sekarang?
“Gue juga nggak”, jawab Fira sekenanya. Ia ingin melanjutkan langkah tapi jemari Iqbal masih menahan lembut lengannya dan rasanya tidak sopan jika ia berusaha melepaskan. Atau ia tidak ingin dilepaskan? Tunggu! Gagasan seperti apa itu? Tidak tidak tidak. Pikirannya seketika menolak gagasan itu.
Sejak kejadian itu, ia tidak pernah lagi tersenyum. Tepatnya tidak pernah lagi tersenyum seperti itu untukku. Jangankan mengobrol seperti biasa, bertegur sapapun kami enggan. Entah mengapa rasanya sulit untuk sekedar menyapanya. Mungkin karena kenangan selama hampir dua tahun bersama yang menjadikanku canggung untuk bicara padanya mengingat status kami sudah tidak lagi sama seperti beberapa waktu yang lalu.
Tepukan kecil dipundak membuyarkan lamunanku. “Woy, Bal! Yee ngelamun aja. Ngeliatin apa lo?”, ujar Badai yang langsung duduk disebelahku dan dengan lahapnya menyendok mie yang baru dipesannya.
“Lo ngagetin gue aja”
Seraya melihat ke arah pandanganku, Badai tersenyum. “Iqbal...Iqbal. Kalo lo masih sayang sama Fira, kenapa ga balikan aja?”, ujarnya sembari menyeruput es teh manis.
“Gak ah, gue gak mau”, jawabku pendek lalu menjejalkan mie kedalam mulut.
“Yaudah makanya lo lupain dia kalo gak mau balikan. Susah amat”
Itu masalahnya. Aku merasa ada banyak hal yang masih mengganjal dan perlu dibicarakan dengannya. Melupakan? Rasanya bukan ide yang bagus.
“Lo kenapa sih Fir? Gue tau lo sok-sok senyum aja daritadi. Pikiran lo kemana?”, ujar Aldi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Fira. Sahabat barunya ini sekarang jadi sering melamun dan menjadi sedikit pendiam. Tatapannya juga seringkali dingin dan kosong. Jika sudah seperti itu, harus ada yang menyadarkannya untuk sedikit tersenyum walaupun terlihat canggung.
“Gue baik-baik aja kok. Emangnya gue kenapa?”, jawab Fira sambil tersenyum kecut dan memainkan sedotannya. Jus mangganya baru seperempatnya diminum.
Aldi memilih diam daripada terus membahasnya. Ia tahu sedari tadi Fira sesekali mencuri perhatian pada Iqbal yang duduk di bangku paling sudut di kantin. Sejak putus dari Iqbal, Fira akan marah dan sensitif jika orang disekitarnya membicarakan tentang Iqbal. Ia akan melengos pergi atau berpura-pura tidak mendengar.
Saat hendak kembali ke kelasnya, Fira berhenti sejenak di koridor panjang lantai tiga yang sepi. Ia hanya berdiri menatap lapangan sepak bola tempat ia dulu sering berteriak dibawah panas matahari untuk mendukung Iqbal yang sedang bertanding. Tidak peduli tubuhnya sudah bau matahari dan rambutnya sudah berminyak atau tatapan aneh teman-teman yang lain karena ia berteriak seperti orang bodoh, ia hanya ingin menjadi satu-satunya orang yang dilihat Iqbal saat memasukkan bola ke gawang. Rasanya seperti baru kemarin.
“Sejak kapan kamu temenan sama Aldi?”
Fira tersentak dari lamunannya dan lebih terkejut lagi saat berbalik dan mendapati Iqbal sedang menatap lurus ke matanya. Itu kalimat pertama yang diucapkan Iqbal secara langsung padanya sejak mereka putus.
“Kenapa?”, jawabnya pendek sembari mengalihkan pandangan.
“Seinget aku kamu gak pernah segitu deketnya sama dia. Jangan bilang kalo...”
“Lo cemburu?”, tanya Fira memotong ucapan Iqbal yang belum selesai.
Iqbal mengalihkan pandangan, “Nggak. Buat apa?”
Fira tersenyum sinis dan menatap tajam mata lawan bicaranya, “Kalo lo gak punya alasan yang jelas mendingan gak usah komentar”. Itu kata-kata paling sinis yang pernah diucapkan Fira padanya.
“Sejak kapan kamu...”
“Kalo gak ada hal penting yang mau dibicarain lagi gue masuk kelas dulu”, ucap Fira sekali lagi tanpa mempedulikan kalimat Iqbal yang belum selesai. Ia berjalan perlahan tanpa menoleh, lalu hilang di balik lorong. Meninggalkan Iqbal yang hanya bisa menatap punggungnya. Hanya seperti itu? Hanya seperti itu saja percakapan pertamanya dengan Fira setelah tiga bulan? Bahkan tidak sedikitpun Fira menanyakan kabarnya? Yah, walaupun dia yang terlebih dahulu menanyakan tentang Aldi tapi apa salahnya dijawab baik-baik? Pikiran-pikiran itu berkelebat di benaknya.
Matahari siang tidak bisa lebih terik lagi. Fira berjalan terseok-seok menyusuri trotoar menuju rumahnya yang hnya berjarak satu kilometer dari sekolah. Biasanya kalau tidak diantar Iqbal, dia lebih suka berjalan kaki seperti ini. Lho? Kenapa dia jadi mikirin Iqbal lagi? Ah sudahlah, toh laki-laki itu juga belum tentu juga memikirkannya.
Tepukan halus di pundak menyadarkan lamunannya, “Hei”. Fira mendongak dan menemukan wajah yang baru saja beberapa detik yang lalu berusaha dienyahkannya dari pikiran. Well yah, lain kali mungkin ia tidak perlu mengingat orang ini jika tidak siap didatangi betulan. Tapi memangnya kenapa dia tidak siap? Entahlah, hanya senyum samar yang bisa diberikannya saat ini. Respon datar membuat Iqbal hanya menjajari langkah Fira dalam diam.
“Lo ngapain ngikutin gue?”, tanya Fira tanpa sedikitpun berniat menoleh atau memperlambat langkah. Cuaca makin panas, pipinya juga memanas.
“Aku ga boleh anterin kamu pulang?”
“Ada yang mau lo omongin sama gue?”, tanya Fira tembak langsung. Sudah tiga bulan ia tidak pernah melakukan kebiasan rutin ini dan sampai sekarang belum terbiasa. Ia tidak yakin tiba-tiba Iqbal begitu saja ingin mengantarnya pulang jalan kaki seperti jika tidak ada yang ingin dibicarakan. Apalagi sebenarnya arah tujuan mereka berbeda.
“Aku ga mau berantem, Fir”. Iqbal menahan lengan Fira untuk berhenti sejenak tepat di bawah pohon rindang yang sedang mereka lalui. Ia ingin bicara, tapi tidak tau tentang apa. Mungkin ia hanya ingin berada di sisi Fira seperti biasa, tapi sepertinya cewek itu sedang tidak dalam mood yang bagus hari ini. Atau memang itu cara Fira memperlakukannya sekarang?
“Gue juga nggak”, jawab Fira sekenanya. Ia ingin melanjutkan langkah tapi jemari Iqbal masih menahan lembut lengannya dan rasanya tidak sopan jika ia berusaha melepaskan. Atau ia tidak ingin dilepaskan? Tunggu! Gagasan seperti apa itu? Tidak tidak tidak. Pikirannya seketika menolak gagasan itu.
to be continued...
Subscribe to:
Posts (Atom)