Monday, February 6, 2012

Lihat Aku, Mama.. (cerpen)

Aku tak peduli seberapa lama Tuhan memberikan sisa waktu
Bagiku ada mama disini sudah cukup..



Teriknya matahari siang mengerutkan keningku. Panas sekali disini! Belum lagi aku harus berjalan kaki pulang ke rumah. Memang tidak terlalu jauh tapi tetap saja lima belas menit. Ku tendang terus menerus kaleng bekas minuman ringan itu. Mood-ku sedang jelek. Sepertinya memang selalu. Aku benci mengapa mama tidak mengizinkanku membawa kendaraan ke sekolah, padahal motor dirumah tidak pernah dipakai. Anak laki-laki dijemput sepulang sekolah? Kedengarannya terlalu...manja.

Aku tau jelas alasan mama melakukan ini. Mama melarang keras untuk aku melakukan apapun yang berbahaya baginya. Yang bisa membuatku terluka. Bahkan aku tidak pernah mengikuti praktek olahraga di sekolah. Mama melarangku dan mengatakan bahwa itu terlalu beresiko. Sayangnya ini tidak bisa dijelaskan dengan mudah pada teman-teman di sekolah dan aku tetap saja seorang anak laki-laki manja yang bahkan fisiknya tidak kuat untuk sekedar bermain basket atau sepak bola. Padahal bukan seperti itu. Hah..sudahlah.

Akhirnya sampai juga!, teriakku dalam hati. Mama sedang membaca tabloid gosip saat aku memasuki ruang tengah. Sengaja tidak ku tegur, karena memang biasanya mama tidak akrab padaku ataupun papa. "Kenapa kamu jalan kaki? Mama kan udah bilang naek taksi aja. Kalo ada apa-apa gimana?", ujarnya seraya menoleh. Aku menjawab sekenanya, "Males ah. Toh juga ngabisin duit. Naek taksi kan mahal".
"Tapi kan mama khawatir, Rio! Sudahlah jangan bantah mama lagi. Pokoknya sekarang ganti baju kamu dan makan siang, setelah itu kita berangkat ke rumah sakit", kata mama. Nadanya acuh. Sama sekali tidak terdengar se-khawatir itu. Sama sekali tidak seperti itu. Seolah itu hanya kewajiban untuk mengatakannya.

Ah, ya. Mama memang seperti itu. Terkadang aku bingung sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya. Ia bukan tipe orang yang lembut dan berkata halus teratur. Ia selalu mengekspresikan kekhawatirannya padaku dengan kata-kata bernada tinggi. Rasanya sakit sekali. Tapi mengingat aku anak laki-laki, kadang kutelan saja pahitnya.
Di perjalanan pulang dari rumah sakit yang membosankan, aku menulis status terbaru di twitter. Hari ini jadi vampir lagi!, tulisku seperti itu. Seminggu sekali aku menulis seperti ini, kadang teman-temanku bingung sendiri lalu menanyakan. Tapi aku akan berpura-pura tertawa dan berkata bahwa itu hanya kalimat iseng pencari perhatian.

"Kamu tunggu disini, mama ada urusan sebentar. Jangan keluar mobil, Rio. Kamu ngerti?", kata mama setelah memarkirkan mobil di depan sebuah perusahaan besar. Aku mengangguk malas tanpa mengalihkan pandangan dari handphone.
Lalu ketika mulai merasa bosan, aku mencari kegiata lain sampai kutemukan agenda kecil yang selalu dibawa zmama kemana-mana, terselip diantara jok yang didudukinya tadi. Mengintip sedikit boleh kan? Ah, pasti boleh. Apa yang sih yang disembunyikan mama dariku? Pasti ini hanya daftar belanja bulanan dan jadwalnya mengikuti kelas yoga dan arisan ibu-ibu satu komplek. Tentu aku boleh lebih daripada sekedar mengintip.

Benar saja, catatan khas ibu-ibu seperti biasanya. Tapi aku tertegun ketika di halaman tengah bagian notes, mama menulis tentangku dan menyelipkan fotoku disana.

Maafkan mama, Rio..
Mungkin beginilah cara mama menyayangimu, dengan menjauhkanmu dari segala hal yang bisa membahayakanmu. Mungkin cara mama salah karena memperlakukanmu seperti anak TK dimana kenyataannya kamu sudah duduk di bangku SMA. Mama tau kamu malu, tapi ini semua untuk kebaikan kamu. Mama gak mau kehilangan kamu.. mama ingin memberikan waktu sebanyak-banyaknya agar mama bisa terus bersama kamu.
Kamu tau ini salah mama, Rio.. dan beginilah cara mama menebusnya.

Namaku Rio. Sejak lahir aku menderita penyakit keturunan bernama Hemofilia. Penyakit terkutuk yang hanya bisa dimiliki oleh laki-laki. Penyakit dimana penderitanya tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka di tubuh hingga pendarahan terus terjadi. Ini yang kusebut dengan menjadi vampir, karena aku harus menerima transfusi darah ketika tubuhku hanya tergores sedikit, darah akan mengucur deras dari bagian tubuhku yang terluka itu lalu akan lama berhenti. Melebihi luka seseorang yang mengalami kecelakaan. Tubuhku sering memar kebiruan hanya karena benturan kecil. Rasanya sakit sekali. Sekarang kalian tahu mengapa mama tidak pernah mengizinkanku mengikuti pelajaran olahraga.

Ini juga alasan mengapa aku terlahir sebagai anak tunggal. Aku seharusnya punya adik, tetapi bayi perempuan yang memiliki hemofilia tidak akan pernah bisa terlahir ke dunia. Ia akan meninggal saat masih menjadi janin sebelum dilahirkan. Anak laki-laki yang terlahir sebagai pengidap hemofilia pun tidak pernah ada bersejarah memiliki umur panjang. Itulah juga alasan mengapa mama menyalahkan dirinya sendiri untuk penyakit mengerikan ini. Karena ialah yang berperan sebagai pembawa penyakit ini sedangkan papa adalah laki-laki normal tanpa penyakit keturunan. Satu-satunya alasan mengapa ia merasa bersalah.

Tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin peduli lagi. Aku hanya ingin bersama mama, orang yang mungkin paling menyayangiku diseluruh dunia. Aku tidak ingin mama menebus kesalahan apapun, karena Tuhan memang sudah menggariskan seperti ini. Aku bahagia, karena aku adalah bagian dari diri mama.
Aku tak peduli seberapa lama Tuhan memberikan sisa waktu
Bagiku ada mama disini sudah cukup..

Monday, January 30, 2012

Tenang Saja, Aku Bisa Menjadi Kamu.. (cerpen)

Hanya kesetiaan dan pengorbanan kecil ini yang bisa kuberi
Aku bisa menjadi kamu...




Aku bosan berada disini. Aku tampak seperti laki-laki lemah yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Aku malu dengan perempuan kecil itu, yang sudah ku janjikan untuk hidup bahagia nantinya bersamaku. Tapi sekarang? Rumah sakit inilah tempat tinggalku. Ah, aku sudah merasa begitu lelah berada disini. Kadang aku menangis dalam doa malam, apakah jantungku yang lemah ini akan mengakhiri janjiku padanya? Dia yang begitu setia berada disisiku sejak dulu.

"Kamu ngelamun terus hari ini. Kenapa?". Suaranya yang lembut menyadarkanku. Disebelahku ia duduk dengan kedua tangan di dagu, sejak tadi memandangiku. Ah... dia ini. Apa jadinya aku tanpanya? Harusnya aku bersyukur masih diberikan cukup umur untuk bertahan hidup oleh Tuhan. Harusnya aku tidak boleh mengeluh dan berjuang untuk sembuh. Ku acak-acak rambutnya sambil tertawa kecil, hal yang sungguh ku suka karena selanjutnya dia pasti akan cemberut dan sibuk menata rambutnya kembali.

"Suka-suka aku dong. Aku lagi mikirin seseorang....", jawabku seiring tersenyum jahil. Perlahan raut wajahnya berubah, "Pasti aku ya? Iya kan?", tanya-nya ceria. Ya. Dia selalu ceria walaupun sebenarnya mudah tersentuh dan cenderung cengeng. Dia suka bercerita apa saja asalkan bisa terus berbicara. Saat tertawa, kedua ujung bibirnya akan terangkat lebar dan matanya akan menyipit. Aku suka sekali.

"Dih, pede aja. Pokoknya dia itu orang yang penting selain orang tua dan keluarga aku". Mendengar jawabanku dia berhenti bertanya. Aneh, biasanya dia akan tetap bertanya jika sudah terlanjur penasaran. Sudahlah, mungkin dia juga sudah tau.

Sudah lebih dari dua bulan aku berada di rumah sakit ini. Sebenarnya aku sudah menderita lemah jantung sejak kecil, tetapi tidak begitu ku hiraukan. Mama dan papa juga sudah pernah mengobatiku dahulu dan kelihatannya penyakit ini pergi begitu saja. Tapi seiring bertambahnya umur, kondisiku semakin tidak stabil saja. Kadang tiba-tiba dadaku sakit walaupun tidak sedang terkejut. Aku yang masih duduk di bangku SMA saat itu memberanikan diri menerima kertas hasil pemeriksaan di rumah sakit seorang diri. Aku tentu saja tidak ingin orangtuaku dan dia tau. Dokter berkata aku harus segera menjalan pengobatan intensif walaupun hanya rawat jalan.

Aku sudah bersamanya sejak sekitar lima tahun yang lalu. Saat kami berdua masih menganggap sebuah hubungan tidak untuk terlalu dipusingkan. Tapi hatiku memilihnya karena apapun yang ada pada dirinya sampai sekarang.

"Kamu inget nggak dulu kamu pernah nyelamatin aku waktu aku hampir ditabrak mobil?", pertanyaannya kembali membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum melihatnya. Tentu saja aku tidak pernah lupa. Saat itu aku meninggalkannya sebentar untuk membeli es krim kesukaannya. Dia yang tidak bisa diam itu pergi menyusul ke sebrang jalan dengan wajah polos, tanpa menyadari sebuah mobil sedan melaju kencang tepat ke arahnya. Jantungku rasanya ingin meledak. Cepat aku berlari tanpa mempedulikan panggilan si tukang es dan jantungku yang mulai terasa tertusuk. Yang ada di benakku hanya sosoknya dan jarak mobil itu yang sudah semakin dekat. Saat aku berhasil menyelamatkannya, ia menangis dan tanpa henti meminta maaf.

"Aku nggak akan pernah lupa. Dasar ceroboh", ujarku membelai rambutnya. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Aku mau kali ini kamu nyelamatin nyawa kamu sendiri. Dokter udah bilang kan kalo kamu bisa transplantasi jantung secepatnya?". Ah ya, tadi pagi dokterku mengatakan itu. Sontak aku mengangguk, aku ingin secepatnya pulih dan melanjutkan mimpi dan hidupku. Ia tertawa senang dengan bulir air mata yang hampir menetes.

Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang operasi ini cukup lama tanpa boleh ditemani oleh satu anggota keluargapun. Rasanya tentu saja tegang dan takut, tapi keinginanku untuk sembuh mengalahkan segalanya. Entah sudah berapa jam aku tidak sadarkan diri. Saat pertama kami kubuka mata, yang terlihat adalah mama, lalu disusul oleh papa serta adik dan kakakku bergantian karena aku hanya diperbolehkan dijengok oleh satu orang. Mama terlihat senang sekali sampai menangis bahagia setelah tau bahwa operasiku berjalan lancar dan aku akan segera pulih.

Lalu saat aku sudah bisa duduk sendiri, mama memberiku surat itu. Ia bilang dari perempuan kecilku. Kemana dia? Tidak taukah dia semangatku ini karenanya? Ku baca kata demi katanya..



...
Aku tau kamu pasti akan sembuh secepatnya

Bukankah aku sudah berkata kamu akan menyelamatkan nyawamu sendiri?
Aku bahagia melihatmu... Aku bahagia dari tempatku sekarang berada

Awalnya aku bingung bagaimana aku bisa berguna bagimu, lalu akhirnya aku tau apa yang bisa ku lakukan. Maaf jika aku menyembunyikan kanker pankreas ini sejak lama. Aku hanya ingin menjadi aku yang biasanya di hadapanmu tanpa perlu terbebani dengan beberapa bulan sisa hidupku. Nyatanya aku bahagia jika kau bahagia.

Dengan jantungku yang ada padamu sekarang, aku tau selamanya kau akan mencintaiku. Selamanya kau akan merasakan cintaku dan pengorbanan kecil ini. Jantungku ini tidak akan membuatmu sakit. Aku tidak akan membuatmu sakit..

Jadi hiduplah, hiduplah dengan bahagia. Karena mulai sekarang aku juga akan merasakan apa yang kau rasa di jantungmu itu. Hiduplah dengan rasa cintaku ini..

Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku akan selalu menjagamu. Jadi teruskanlah mimpimu walaupun dengan orang lain. Hanya kesetiaan dan pengorbanan kecil ini yang bisa kuberi. Aku bisa menjadi kamu...

Wednesday, December 21, 2011

Untuk Ibu, dengan Seluruh Cinta (cerpen)

Dering ponsel membangunkanku di pagi itu. Jarum jam masih bertengger di angka tujuh saat sejenak kulirik. Dengan malas aku yang begitu kelelahan dan masih merasakan kantuk akibat lembur semalam, menggerakkan tangan mencoba menjangkau meja kecil di sebelah tempat tidur. Ah, ternyata adikku yang paling bungsu itu.

"Halo...", ujarku dengan suara serak.

"Assalamualaikum, Mbak. Aku tebak mbak pasti belum bangun kan? Ayo dong mbak udah kepala dua juga!", teriaknya ceria seperti biasanya. Dengan pelan aku menyeret tubuhku sendiri untuk duduk bersandar. Masih pusing sekali rasanya. Ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan menjelang akhir tahun.

"Aduh kamu ini ngapain sih pagi-pagi gini nelepon Mbak? Masih ngantuk nih, pake bawa-bawa umur lagi!", keluhku.

"Hehe iseng aja sih. Mbak kapan pulang ke Surabaya? Aku sama ibu udah kangen loh. Ini kan udah mau tahun baru. Kata Ibu semalem mbak gak ngangkat telepon dari ibu ya? Sampe beberapa kali lho ibu nelepon."

"Duh, Tan. Mbak gak tau nih bisa pulang atau nggak tahun ini. Kamu tahu kan ini baru tahun-tahun pertama Mbak kerja di Kedubes, kerjaan mbak masih belum bisa ditinggal. Numpuk! Semalem aja mbak lembur sampe larut, makanya telepon ibu gak sempat mbak angkat", jelasku sambil berjalan ke arah dapur. Sudah hilang rasa kantuk yang sekarang berganti menjadi lapar.

"Ya aku ngerti sih, Mbak. Tapi masa gak ada waktu sama sekali sih? Paling nggak buat ngunjungin ibu lah. Mas Anton yang kerja di Kalimantan sana aja udah pasti bisa pulang minggu depan, masa mbak yang cuma di Jakarta aja gak bisa pulang barang sehari?", terdengar nadanya yang lumayan kecewa atas jawabanku. Aku diam sejenak sambil meneguk susu.

"Pokoknya ntar kalo ada waktu luang mbak kabarin lagi deh. Eh udah dulu ya, Tan. Mbak mau mandi, ada janji soalnya. Thanks for made me awake anyway. Assalamualaikum", ku tutup telepon sebelum mendengar jawabannya.

Namaku Prisil, masih berumur 24 tahun. Sejak lulus SMA aku sudah hidup mandiri di Jakarta. Meninggalkan ibu dan adikku yang berada di kota Surabaya karena Ayah sudah lama meninggal dan anak tertua di keluarga kami sudah bekerja di Kalimantan. Membiayai separuh biaya kuliahku di jurusan Hubungan Internasional dengan hasil jerih payah mengajar kursus bahasa Inggris untuk sebuah bimbingan belajar. Sebenarnya kiriman uang dari ibu di setiap bulannya lebih dari cukup untuk biaya hidupku di Jakarta, tapi rasanya lebih puas jika bisa mencoba membiayai kuliah dengan usaha sendiri. Kini aku sudah bekerja di kantor kedutaan besar untuk Australia di Jakarta dengan gaji berkali-kali lipat daripada saat aku mengajar dulu.

Jalanan di sekitar apartemen masih terlihat sepi saat aku mengedarkan pandangan sambil menyetir. Minggu pagi seperti jalan-jalan utama Jakarta pasti di tutup karena ada program Car Free Day tiap minggunya. Aku membelokkan arah ke jalanan yang tidak terlalu besar lalu menuju ke toko buku kecil yang bernuansa klasik di ujung jalannya. Walaupun tidak berada di kawasan pertokoan, tetapi toko buku ini cukup terkenal dan lengkap.

Ketika akan berjalan ke arah pintu masuk, aku terhenyak melihat seorang ibu berpakaian lusuh duduk di depan sebuah ruko disebelah toko buku. Ia mengelus rambut anak perempuannya yang masih lelap tertidur. Tubuh mereka sama kurusnya, dengan beberapa bagian yang sobek di kaus lusuhnya. Pasti mereka tidak punya tempat tinggal, pikirku. Memandangi mereka begitu menarik, bagaimana keterbatasan masih membuat dua orang tetap bersama.

Setelah mendapat beberapa buku yang ku inginkan, aku menjalankan mobil kembali ke arah apartemen. Pikiranku masih melayang pada percakapanku tadi dengan adikku, dan pemandangan ibu dan anak yang kulihat barusan. Saat lampu lalu lintas berwarna merah, aku kembali tercenung melihat seorang nenek tua menyebrangi jalan dengan kaki rapuhnya. Entah mau kemana dengan tas besar di lengan kirinya.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada...Ibu.
Sudah lama sekali aku tidak pulang menjenguk Ibu, sekedar tahu bagaiman kondisi ibu. Menelepon pun sudah begitu jarang. Lalu aku teringat pada masakan ibu, sentuhan ibu, dan belaian lembut ibu saat aku aku lelah tertidur. Ibu yang merawatku dengan penuh kasih sayang saat aku sakit, yang begitu repotnya mengurus segala kebutuhan kami.

Ibu jarang sekali terlihat sedih atau menangis di depan kami, sampai saat aku memergokinya sedang tersedu dalam doa malamnya. Terdengar namaku disebut. Ibu memohon agar aku bis sesukses ayah dulu. Lalu aku teringat pengorbanan ibu. Ibu bekerja untuk membiayai kebutuhan kami sampai kuliah.
Kemudian pikiranku melayang lebih jauh lagi ke masa-masa kecil kami. Ibu yang setiap hari mengantarku ke sekolah, yang begitu bangga saat aku mendapat juara kelas. Ibu dengan mukenahnya.

Air mataku menetes lalu semakin deras mengucur saat membayangkan jika mungkin saja disana ibu sedang sakit, terbaring lemah dan menangis memanggil namaku. Aku terisak dan terus meminta maaf dalam hati. Berharap Ibu mendengarkanku dari sana.

Deru klakson menyadarkanku. Cepat ku hapus airmata dan kembali menjalankan mobil. Aku ingin segera memesan tiket pesawat ke Surabaya, tidak peduli besok bekerja atau tidak. Aku hanya ingin bertemu dan memeluk ibu.
Aku merindukan Ibu.

-----

NB: Selamat Hari Ibu, Mama. Terima kasih untuk apapun selama tujuh belas tahun ini. You are my everything. I love you :")

Monday, December 19, 2011

We never that understand

Apa yang kita lakukan jika sedang merasa sedih? Menangis? Berteriak? Atau hanya diam membisu membiarkan emosi itu meluap dengan sendirinya dalam hati? Disimpan dan dikubur sampai akhirnya benar-benar mati. Kebanyakan orang memilih untuk berbicara. Bicara, komunikasi paling jelas walaupun belum tentu terucap yang sebenarnya. Cukup cari siapa saja yang bersedia mendengarkan dan menampung keluh kesah. Tapi apakah hanya sebatas didengarkan lalu cukup? Tak perlukah kita dimengerti?

Masing-masing orang pasti pernah jadi pendengar seperti itu. Dan kebanyakan juga berkata, "Sabar ya...". 
Well, kita memang tidak pernah benar-benar mengertiMengerti bagaimana sakit itu menerpa diri seseorang, mengerti bagaimana rasa tertusuk itu, mengerti benar apa yang dirasakannya. Kita hanya mencoba memaklumi, berpura-pura merasakan. Pretend to understand. Karena kita memang tidak benar-benar berada di posisinya.

Atau lebih singkatnya, hidup akan terus berjalan tanpa pernah peduli seberapa badai itu menerpa kita. Orang-orang mungkin akan menoleh atau melirik, tapi tidak benar-benar mempedulikan. Manusia akan terus berjalan lurus ke arah jalannya masing-masing.

Saturday, May 7, 2011

Gemblong VS Sushi

Hello ya! As usual, my another unimportant post huhu. Sebenernya ini udah sejak libur panjang anak kelas 3 UN kemaren tapi yaaa karena banyak kendala bla bla bla jadi postingnya pending huhu. Ini sebenernya kerjaan waktu kurang kerjaan (bingung?) ya ceritanya lagi gak ada kerjaan gitu pas liburan jadinya bosen dan si papa tiba-tiba nyuruh bikin gemblong. Hoo aya-aya wae si papa mah. Sok atuh pas sorenya urang bikin gemblong *sundanya keluar* Anyway ada yang masih bertanya-tanya apa itu gemblong yang daritadi gue sebutin? Apakah gemblong itu wadah aer? Itu maksudnya gentong. Maap garing. Awkward. Gemblong itu makanan tradisional yang terbuat dari ubi yang isinya gula merah cair gitu.

Dan inilah kursus masak ala saya,
Bahan :
  • Ubi kuning
  • Gula merah
  • Sedikit tepung terigu supaya adonannya gak lengket

Is it just me atau ini rasanya kayak blog kumpulan resep ya?

Cara bikinnya itu pertama-tama ubinya direbus dulu, terus diancurin. Kalo gak mau repot bisa di-mixer aja. Next, bikin adonan dari ubi yang udah diancurin tadi pake tambahan sedikit tepung, dibulet-buletin terus diisi pake gula merah yang gak cair. Gula merahnya di gerus halus aja. Next, goreng di api yang lumayan gede. Sering-sering di bolak-balik soalnya kalo gak entar matengnya gak rata.



belom digoreng


sering dibolah balik yaaa, tapi pelan aja


taraaaaa! jadi dah


Nah kalo warnanya udah coklat keemasan gitu tinggal diangkat deh. Kalo dipotong atau digigit, dari dalemnya bakal keluar gula merah cair. Then malemnya pengen makan sushi. Restoran sushi langganan gue itu yang di deket hotel Grand Zuri.








pake wasabi enaaak :9


Salmon Maki


So which one do you like the most? Kalo gue sih sama-sama enak, tapi agak kurang suka makanan yang terlalu manis kayak gemblong. Kalopun makan itu juga paling banyak cuma dua biji.