Friday, April 26, 2013

Affair



Dia sangat cantik.
Di depan mataku dia terlihat begitu cantik bahkan ketika sedang mengunyah dengan mulut penuh seperti itu. Kesederhanaannya yang membuatku jatuh cinta. Pemandangan di depanku ini seketika mengingatkanku pada momen pertama kali kami bertemu. Ya, disini. Saat itu aku, laki-laki yang perfeksionis sedang menggerutu sambil terus mengelap kemeja licinku yang tidak sengaja ditumpahi jus tomat. Bagaimana tidak, sebentar lagi aku harus menghadiri meeting penting bersama para investor. Yah walaupun aku dengan mudah bisa meminta sekretarisku untuk mengambil kemeja cadangan yang berada di lemari kantor, tapi tetap saja aku benci kecerobohan. Walaupun hal itu disebabkan oleh kekasihku sendiri. Saat itu perempuan yang sedang berada di hadapanku ini masih berwujud orang asing yang belum ku kenal. Ia duduk tepat di belakangku, sedang menikmati makan siang bersama teman sekantornya. Masih tergambar jelas di otakku bagaimana dia menertawai tingkah laku-ku yang menurutnya kekanak-kanakan dengan menyalahkan kekasihku yang pada saat itu tidak sengaja menjatuhkan segelas jus tomatnya.
         “Laki-laki kok repotnya melebihi perempuan..”, ujarnya di sela-sela tawa kecil. Aku ingat pada saat itu langsung refleks memutar kepalaku, menatapnya lekat dengan sorot mata yang tajamnya melebihi belati. Beraninya dia berbicara seperti itu. Saat itu yang terpikir di benakku hanyalah bagaimana mungkin ada perempuan yang penampilannya bisa berbanding terbalik dengan derajat kesopanannya. Dalam sekali pandang, orang lain bisa melihat kalau perempuan ini memiliki paras yang bisa dikatakan cantik dan penampilan yang modis. Namun aku bukanlah laki-laki yang bisa dengan mudah terpikat pada penampilan luar. Aku suka perempuan yang memiliki tata krama tinggi walau bukan berasal dari keluarga ningrat. Aku suka perempuan yang anggun dengan menjaga tutur kata serta pembawaannya.
Tapi...perempuan ini berbeda. Pertemuan pertama itu belum juga menyadarkanku bahwa ia nantinya akan menjadi orang yang penting bagiku. Pertemuan kami dilanjutkan dengan hubungan kerja antara perusahaan yang kupimpin dengan perusahaannya. Aku yang begitu logis tidak menganggapnya sebagai kebetulan, maka dari itu ku simpulkan bahwa memang Tuhan sudah menggariskan jalan bagi kami berdua untuk bertemu kembali. Nah, lalu siapa yang menyangka bahwa perempuan yang menurutmu begitu menyebalkan pada awal pertemuan akan menjadi istrimu di masa yang akan datang? Satu tahun sejak pertemuan pertama itu, cincin berlian dariku telah melingkar indah di jari manisnya. Kami jatuh cinta dengan cepat, merasakan bahagia dengan cepat, lalu kehilangan debar-debar itu dengan cepat pula. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa rasakanlah bahagia pelan-pelan, maka jika suatu saat ia hilang dan berganti kesedihan, kau tidak akan jatuh terhempas terlalu kuat.
        Mungkin kesalahan terletak padaku yang tidak bisa mentolerir perbedaan kami. Atau mungkin pada pribadi kami yang terlalu bertolak belakang. Adanya perbedaan justru akan memperindah ikatan suami-istri, bukan? Tapi tidak pada kami. Begitu banyak perbedaan yang kami tekan saat memutuskan untuk menikah –dengan harapan agar hubungan ini malah semakin langgeng dengan perbedaan- malah menjadi bumerang bagi kami sendiri.

         “Aku gak bisa jadi perempuan yang diem aja di rumah. Aku harus kerja!”     

Begitulah katanya saat aku protes ketika jam kerjanya bahkan melebihi aku yang notabene seorang diretur sebuah perusahaan besar. Aku paham bahwa pekerjaannya sebagai creative director sebuah perusahaan penyedia jasa periklanan begitu menyita waktu. Ia juga tipe perempuan yang mandiri dan kuat, namun harga diriku sebagai suami sedikit terhina saat aku sampai di rumah lebih dulu darinya walaupun hari sudah larut malam. Istri macam apa yang tidak menyambut kedatangan suaminya dengan segelas kopi atau pijatan hangat?
 
          “Aku belum siap dengan komitmen untuk jadi seorang ibu”

      Ini yang paling tidak masuk akal. Bukankah tujuan menikah adalah membina rumah tangga dan membesarkan keturunan? Setidaknya begitulah yang diajarkan kedua orangtuaku. Mungkin disanalah letak sisi negatif kemandiriannya. Ia begitu mencintai karir yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Begitu cintanya hingga rela mengorbankan tahun-tahun pertama pernikahan kami tanpa seorang anak yang begitu ku idam-idamkan. Sekali lagi, aku merasa harga diriku sebagai suami tercoreng. Ini jelas keinginan sepihak.
      Tiba-tiba aku tersentak dari lamunan saat sepasang matanya menatapku tajam. Pertengkaran hebat terjadi lagi. Debat kecil yang kemudian berubah menjadi teriakan-teriakan penuh amarah. Ah, aku sudah begitu muak padanya. Di hadapanku dia tidak lagi se-memesona dulu. Tidak ada lagi debaran kecil saat kugenggam tangannya. Tidak ada lagi kecupan hangat menjelang tidur. Ia sudah bukan perempuan manis yang sapaannya kutunggu tiap pagi. Setiap kali bertengkar hebat, ego kami melesak kuat hingga entah sudah berapa banyak kata-kata kasar keluar dari mulutku. Ku katakan saja, aku sudah tidak membutuhkannya. Siapa yang butuh seorang istri egois yang bahkan bisa dihitung berapa kali menyiapkan sarapan untuk suaminya? Lagipula aku bisa mendapatkan apapun yang ku mau seperti halnya dia. Kami dua sosok sama namun begitu berbeda.
         Teriakannya membangunkanku dari mimpi. Menyadarkanku pada kenyataan. Sialan! Apa sebegitu kuatnya sosok perempuan itu hingga akhir-akhir ini sering menjadi tokoh utama dalam mimpi burukku?

          “Mas, kamu kenapa? Mimpi buruk?”

     Kepalaku menoleh cepat pada perempuan yang berada dalam selimut yang sama denganku sekarang.
          Simpananku.

Tuesday, April 9, 2013

Hello Goodbye

Bukan. Ini bukan postingan review film semi Indonesia-Korea dengan judul diatas, bukan juga postingan galau karena gue bukan anak galauan. Seems like I'm bored doing nothing (padahal tugas lagi banyak-banyaknya), jadinya mending ada yang ditulis aja. Well actually it isn't topic that I used to post here. Instead of posting my 19th birthday moment as I wish, gue pengen cerita tentang pengalaman temen gue yang kisah cintanya udah kayak Cinta Fitri episode ke-574 (Iya, gue juga gak tau itu episode yang mana). Dia ini temen SMA gue dulu yang sampe sekarang masih suka kontak-kontakan walaupun kita udah kuliah di kota yang beda. Karena gue cuma dapet izin untuk mempublikasikan ceritanya, bukan orangnya, maka kita sebut saja dia Bunga. Gak mau tau, pokoknya sebut aja gitu.

Mungkin latar belakangnya dulu aja ya. Bunga ini orangnya ramah dan easy going. Dia pinter banget bergaul sama siapapun. I mean, siapa aja. Dia bisa dengan mudah akrab dengan orang lain meskipun baru kenal. Saking gaulnya, coba aja lo jalan ke mall sama dia. Lo bakal liat bukti ke-gaulannya waktu dia ketemu sama kenalannya yang sangat banyak sekali banget. Segitu banyaknya sampe mungkin setiap jarak 5 meter bakal ada yang ngenalin dia -bisa jadi adik kelas, temen satu sekolah, mantan, mantan gebetan, sampe kenalan di dunia maya yang biasa kontak lewat jejaring sosial- semua ada. Mungkin karena keramahannya itu juga banyak cowok yang salah mengartikan perhatian yang dia kasih. Kalo bahasa sekarangnya itu, ngerasa di-PHP-in. Pemberi Harapan Palsu, konsep yang sampe sekarang masih gue anggap ambigu. Apa indikator pengukur seseorang bisa dibilang tukang PHP? Mungkin letak kesalahannya bukan pelaku yang menebar harapan, tapi si korban yang terlalu berharap.

Okay, back to our main  point. Si Bunga ini cerita sama gue kalo ada banyak cowok yang ngedeketin dia dengan motif yang macem-macem mulai dari temenan biasa, temen tapi demen, temen dunia maya, modus kakak-adek tapi sayang-sayangan, sampe yang to the point pengen jadi pacar. Tapi si bunga ini orangnya gak mau dikekang. Menurut dia, pacaran cuma bakal bikin hidup jadi gak tenang karena harus ngurusin hal-hal perintilan khas pacaran, seperti: harus kabarin pacar setiap saat, harus laporan lagi dimana-ngapain-sama siapa, harus jaga perasaan biar gak salah paham, dan sebagainya. Nah karena anggapan ini, si Bunga ini jadi males pacaran dan memperlakukan setiap cowok dengan perlakuan yang sama. Baik. Perhatian. Penyayang. Pokoknya sikapnya manis banget kayak gula buatan.

Tapi semua berubah saat... (awas aja kalo dijawab 'negara api menyerang') akhirnya dia menemukan orang yang tepat. Sebut saja dia Jono. Oke, nama 'Bunga' dan 'Jono' memang kurang matching, tapi its okay-lah kalo tampangnya kayak Taylor Lautner. Kenapa gue sebut tepat? Karena cuma sama Jono, dia bisa jadi dirinya sendiri. Karena cuma di diri Jono, Bunga menemukan motif pertemanan yang tulus tanpa embel-embel harus jadi gebetan. Menurutnya Jono itu batu paling bersih diantara batu-batu lain yang dibaliknya ada udang. Mereka dulunya teman satu kelas di SMP dan Bunga mulai berpikir mungkin, di hati Jono-lah dia harus berhenti. Berhenti mencari dan mulai memberikan porsi sayang yang lebih besar untuk satu laki-laki, bukan memperlakukan mereka semua dengan sama.
Nah, waktu Bunga galau apakah bakalan jujur tentang perasaanya ini ke Jono, dia curhat ke gue. Waktu itu gue ketawa sambil bilang, "Rasain lo! Akhirnya mentok juga kan". Tapi si Bunga malah makin galau. Di satu sisi dia pengen jujur tentang perasaannya ke Jono, disisi lain dia takut kalau Jono bukan 'the one' dan rasa itu cuma peluru salah sasaran yang kebetulan nancep di hatinya. Liat temen gue yang galaunya udah akut gitu, gue coba kasih saran untuk yah..seenggaknya kasih kode.

Cowok memang spesies paling gak peka. Gue bilang ke Bunga kalo dengan cara diem gak bisa bikin dia sadar, then you should make a move. Well mungkin agak anti-mainstream kalo cewek duluan yang bikin first move, tapi gue bilang ke dia kalau walaupun kemungkinan terburuknya adalah ditolak, dia bisa ngerasa lega karena beban perasaan yang udah dia simpen selama ini bisa terangkat sedikit. Cinta dipendam kan bisa jadi jerawat.
Akhirnya Bunga mutusin buat ngaku kalo dia sayang sama Jono karena dia yakin banget kalo Jono punya rasa yang sama. Dan respon Jono adalah...pergi menjauh. Tanpa kabar. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tanpa salam berpamitan. Di hari Bunga ngungkapin perasaannya, Jono cuma bilang, "Makasih. Tapi aku gak bisa". Setelah itu si Bunga nelpon gue sambil nangis sesunggukan. Dia benci jatuh cinta. Dia ngerasa bodoh karena ngikutin hati untuk ngungkapin perasaan. Dia ngerasa rugi. Kalah.

Disinilah menurut gue dia salah.
Rasa cinta itu anugerah yang diberikan Tuhan. Apapun bentuknya, pada siapapun, dan bagaimanapun hasilnya -entah happy atau sad ending-, cinta tidak pernah salah. Mungkin disini yang salah adalah pelakunya. Mungkin Jono gegabah karena gak bisa menolak dengan cara yang tepat. Mungkin juga Bunga yang gak bisa ngebaca tanda-tanda apakah cinta bakal berpihak sama dia. Atau mungkin waktu bergulir di situasi yang salah? Entahlah. Yang jelas menurut gue bukan cinta yang salah.
Dari Bunga gue belajar kalau Hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai keinginan. 

Saturday, March 23, 2013

Music Review, Bruno Mars - Talking to The Moon



How do we know that a song is good enough for us? Everyone has their own way. And in my case, how do I know? Salah satu indikatornya adalah saat gue cuma denger beberapa penggal liriknya dan langsung mikir, what a song!. Beberapa potong lirik yang baru didengar itu langsung bikin gue pengen download lagunya and when it happens, lagu itu udah ada di list song dan selalu diputar. I mean, selalu. After having this song in my list, I cannot stop to sing it, mention the lyrics over and over again. That’s how I love a song by understanding the meaning and sing it many times. Actually I’m not a big fan of Bruno Mars but I’m officially addicted to some of his songs. Salah satunya ya lagu ini, Talking to The Moon. Gue udah lupa the very first moment when I heard this song  but what I remember is at that time I was just having a little part of this song. And here is my review:

  1. Lyrics
Salah satu faktor pemicu gue bisa jatuh cinta sama lagu ini adalah bagaimana liriknya merepresentasikan apa yang ingin disampaikan penyanyi. Gue pernah berdebat sama temen satu kelas di SMA, Bontio namanya. Waktu itu kita lagi dengerin lagunya Judika dan gue setuju improvisasinya di lagu itu udah bisa dibilang tingkat dewa. Tapi waktu dengerin lagu Judika yang lain –yang tanpa improvisasi terlalu banyak-, justru gue pikir lagu yang satu ini yang lebih bagus. Alasan gue adalah lirik yang lebih berkesan bakalan ngebawa sebuah lagu lebih bisa dikhayati walaupun tanpa teknik vokal yang kerennya gila-gilaan. Nah, Bontio malah punya pendapat sebaliknya  bahwa dengan kemampuan vokal penyanyi yang baik, sebuah lirik sederhana pun bakal jauh lebih bagus daripada kelihatannya. Dan dengan adanya lagu ini, gue pikir gak seharusnya kita berdua waktu itu berdebat untuk nentuin mana yang lebih penting antara lirik atau teknik vokal karena Bruno Mars punya dua-duanya di lagu ini. Bicara sama bulan mungkin hal paling bodoh di mata orang lain, tapi lirik-lirik di lagu ini merepresentasikan bagaimana seseorang begitu rindu dan berharap bahwa dengan berbicara pada bulan, orang yang dirindukan juga berada di seberang sana, walau di belahan bumi manapun, juga sedang menatap bulan yang sama.
And  here is the lyrics:




I know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back, I want you back
My neighbors think I'm crazy
But they don't understand
You're all I had, You're all I had

[Chorus:]
At night when the stars Light up my room
I sit by myself
Talking to the moon., trying to get to you
In hopes you're on the other side
Talking to me too, or am I a fool
Who sits alone talking to the moon?


I'm feeling like I'm famous
The talk of the town
They say I've gone mad
Yeah, I've gone mad
But they don't know What I know
Cause when the Sun goes down
Someone's talking back
Yeah, They're talking back

[Chorus:]
At night when the stars light up my room,
I sit by myself
Talking to the moon., trying to get to you
In hopes you're on the other side
Talking to me too, or am I a fool
Who sits alone talking to the moon?

Do you ever hear me calling

'Cause every night I'm talking to the moon
Still trying to get to you
In hopes you're on the other side
Talking to me too, or am I a fool
Who sits alone talking to the moon?

I know you're somewhere out there
Somewhere far away ...



  1. Music and Chords
Talk about its music, lagu ini lumayan cocok buat sarana pengantar tidur. Well actually ini tergantung sama selera masing-masing orang. From my point of view, lagu ini gak terlalu berpengaruh untuk bikin gue ngantuk karena gue lebih suka classical instrument atau full accoustic. Tapi gue suka dengerin lagu ini disela-sela belum ngantuk dan pengen tidur. Understand what I mean? Neither did I haha. Masalah chords, gue kurang terlalu ngerti sama pengaplikasian chord lagu ini di alat musik yang pas, dalam hal ini gitar. Jadi untuk keperluan observasi, gue minta tolong sama temen gue Haikal untuk nyanyiin lagu ini pake gitar. For your information, skill gitarnya Haikal ini menurut gue ada di kelas menengah. Yah pokoknya jauh lah dibanding gue yang terpaksa maen gitar waktu mau ujian seni musik di SMA. Dalam percobaan pertama  alias pertama kali mainin lagu ini dengan bantuan chord dari internet, dia langsung bisa tapi gak terlalu hapal. Selang beberapa hari (gue gak tau apa dia mainin lagu ini terus apa gak), gue minta dia nyanyiin lagu ini lagi dan voila, udah hapal mati. Entah dia yang rajin atau chord-nya yang terlalu gampang. Overall, musiknya bagus terutama di bagian chorus menurut gue.

  1. Music video
Untuk yang satu ini, gue gak bisa review banyak karena emang gue gak nemu official music video lagu ini tapi banyak orang yang bikin cover video klip lagu ini pake kreasi mereka masing-masing, yah semacam fan made-lah. Salah satu cover video klip yang menurut gue lucu bisa diliat disini


Overall, lirik dan musik-nya lah yang bisa bikin gue suka sama lagu ini karena most of all gue emang ngerasa kombinasi antara keduanya lah yang bikin lagu ini jadi gak sederhana. For the score, I’d like to give 4 out of 5.

Thursday, March 21, 2013

How I Really Want to Have a Twin

Iseng-iseng buka facebook yang udah gak  ngerti lagi berapa banyak sarang laba-labanya, gue nemu cerpen yang dulu gue tulis pas zaman kelas 1 SMA dan di posting di note facebook. Ceritanya kurang lebih tentang saudara kembar. Jadi ketawa sendiri kalo baca ulang cerpen ini wondering how I really wish that I could have a twin. Cannot image how amazing it would be. Have no idea whether I've already post it here or not. So just enjoy!


---



‘Vani! Lo tuh gimana sih? Itu kan jatah kue gue? Kok malah dimakan?’, teriak Vini kesal.

’Lo pelit amat sama gue sih, Vin? Gue ini sodara lo. Kembar lagi.’, jawab Vani. Vani dan Vini memang saudara kembar. Wajah, tinggi, dan postur tubuh mereka nyaris sama. Yang membedakan hanya suara dan cara bicara Vani yang terdengar lebih dewasa dan tenang dapada Vini yang cenderung masih kekanakan, Vini memang adik Vani.

Kembar bukan berarti selalu sama. Setidaknya itu prinsip Vini. Menurutnya Vani selalu menyebalkan dan mereka sering bertengkar karena sifat Vani yang egois.
‘Bukan itu masalahnya. Lo makan kue gue tapi nggak ngomong dulu sama gue. Baru gue tinggal pergi ke supermarket depan bentar lo udah maen comot aja. Itu kan gak sopan! Iya kan, pa?’, Vini meminta dukungan papanya yang sedang asyik sendiri dengan koran yang menutupi sebagian wajahnya.

’Udahlah, Vini. Kamu kok ribut banget sih. Cuma masalah kue aja’, komentar papa.
‘Kan tadi udah Vini bilang, pa. Yang jadi masalah itu bukan kuenya, tapi cara kak Vani yang langsung ngambil aja. Padahal Vini udah bilang sama bibi, jangan ada yang makan kue Vini!’, Vini tetap kekeuh.
’Vini, kamu kok gitu sama aku ?’, ucap Vani lembut.
Huh! Mulai deh kalo di depan mama sama papa, topengnya tebel banget! Dasar muka dua! Awas aja lo kalo udah di kamar entar!’, ucap Vini dalam hati.

’Kamu tuh kayak anak kecil banget sih, Vin. Masa sama saudara kamu sendiri perhitungan. Mama nggak suka ah!’, kali ini mama yang angkat bicara.

’Tapi, ma.....’, Vini ingin menjawab lagi tapi kata-kata papa membuatnya berhenti bicara.

’Kamu nggak boleh kekanak-kanakan gitu dong, Vin....’.
Hah? Papa yang paling sayang sama gue juga belain dia? Arrrgh !

Vini sudah habis sabar. Bukan hanya sekali ini ia merasa diperlakukan tidak adil. Selalu. Selalu hanya Vani yang didahulukan. Selalu hanya Vani yang jadi prioritas utama. Vini yang terlanjur kesal langsung beranjak dari tepat duduknya dan menaiki tangga menuju kamar. Dilihatnya senyum samar dai Vani, senyum kemenangan menurutnya. Begitu masuk kamar, Vini langsung menghempaskan tubuhnya di ranjangnya yang hanya berjarak satu meter dari ranjang Vani. Dulu Vini sempat protes pada papanya, ia ingin kamar yang berbeda dengan Vani. Masa udah kelas 2 SMA masih saja tidur sekamar? Tapi Vini masih ingat kata-kata papa, mama, dan Vani waktu itu.
’Kalian kan kembar. Kan lebih bagus kalo sekamar? Bisa saling curhat kan?’, ujar papa.

’Kamu tuh sok dewasa banget, masih kecil juga’, yang ini kata mama.

’Lo nggak mau sekamar sama gue?’, kata Vani sambil memasang tampang sedihnya di depan mama dan papa. Padahal Vini masih ingat betul ucapan Vani pada malam pertama mereka menempati kamar baru itu.

’Apes banget sih gue mesti disuruh sekamar sama lo, Vin. Kayak nggak ada kamar laen aja’.

Vini meraih sebuah foto berbingkai yang ada di meja yang menjadi pembatas antara tempat tidurnya dengan tempat tidur Vani. Foto saat mereka merayakan ulang tahun mereka yang ke enam. Saat itu semuanya masih tampak biasa dan wajar bagi Vini. Sampai saat mereka masuk ke sekolah dan kelas yang sama saat Sekolah Dasar. Vini yang pintar, dan Vani yang selalu lebih pintar dari Vini. Vani yang lebih rapi daripada Vini yang suka bermain sampai bajunya kotor. Semuanya berlanjut sampai mereka sudah SMA. Vani yang lebih pintar, lebih anggun, dan lebih dipuja karena kesopanannya pada guru dan teman-teman daripada Vini yang dikenal karena keceriaan dan kejahilannya di sekolah.

Terkadang Vini letih dibedakan begitu jelas dengan kakaknya, begitu kontras. Bukan dalam hal fisik atau penampilan, tapi terletak pada cara orang lain memandang mereka. Vini mulai menangis. Lagi-lagi ia merasakan perasaan ini. Perasaan terkucil oleh kakak kembarnya sendiri. Padahal ia ingin sekali curhat dan berbagi dengan saudara seperti orang lainnya. Tapi jika teringat wajah Vani yang acuh dan terkesan tidak mempedulikannya, segera ia buang jauh-jauh niat itu.
Lelah menangis, Vini tertidur dengan foto masih di tangannya.

Vini meneguk susu cokelatnya sedikit dan mencium tangan dan pipi mama papanya.
’Vini berangkat, ma, pa’

’Lho, Vin? Kamu nggak makan nasi gorengnya? Kan mama bikinin karena kamu suka, Sayang...’

’Iya, Vin. Enak lho.’, komentar Vani dengan mulut yang penuh sambil mengunyah.

’Aku kenyang, ma. Entar malah jadi muntah. Aku berangkat yah’, ujar Vini lalu bernjak ke arah parkiran.

’Vin! Tunggu dong, kan gue yang nyetir’, Vani cepat mengunyah makanannya, lalu mencium tangan papa mamanya. Vini sudah siap di dalam mobil. Setelah mobil mereka memasuki areal parkir sekolah, barulah Vani membuka suara.

’Kenapa harus gue yang selalu nyetirin lo? Emangnya gue supir pribadi lo?’, tanyanya pada Vini.
Tuh kan ? keluar aslinya !, omel Vini dalam hati.

’Gue nggak mau nyusahin lo. Papa mama yang nggak ngebolehin gue.’, jawab Vini tanpa menoleh.

’Terus lo terima aja? Ngomong dong, Vin! Jangan bisanya cuma nyusahin gue!’, balas Vani.

’Lo kenapa sih? Di depan mama papa lo sok baik banget sama gue. Lo selalu nunjukkin kalo gue yang jadi penghalang lo. Gimana gue bisa ngomong sama mama papa kalo omongan lo terus yang dianggap bener?’, ujar Vini sambil membanting pintu mobil dan segera berjalan cepat ke arah kelasnya.

Vani jahat!’, begitu terus ulangnya dalam hati.
Pagi ini mereka datang terlalu pagi, Vini yang kesal langsung saja berjalan cepat ke arah kelasnya sambil menunduk dan menekuk wajah.
Mendingan gue naek taksi tadi !, omelnya dalam hati. Dan, ’Bruk !!’. Karena tidak memperhatikan jalan di sekitarnya, Vini jadi menabrak seseorang sampai jatuh. Badannya yang keril tidak kuat menahan tubuh orang yang di tabraknya.
’Aduuuh, sakit nih !’, ujarnya sambil menggosok-gosok pinggangnya. Dan begitu ia mendongak untuk melihat wajah orang yang menabraknya,

Wau, ganteng banget nih cowok! makhluk dari mana nih? Kayaknya gue belom pernah liat.., Vini terperangah. Tapi selang beberapa detik ia langsung merubah ekspresi wajah. Enak aja, mentang-mentang dia ganteng, terus bisa seenaknya aja nabrak orang?.

’Duh, sori deh. Lo gak papa?’, tanya cowok itu. Badannya tinggi dan atletis. Rambutnya hitam cepak dengan kulit putih dan mata cokelat.

’Gak papa gimana? Pinggang gue sakit nih! Lo kok jalan gak liat-liat sih?’, omel Vini.

Cowok itu tersenyum, ’Bukannya lo yang jalan gak liat-liat? Nunduk gitu?’

’Yah, lo kan tau kalo gue lagi nunduk. Otomatis gue gak liat lo, tapi lo masih aja nabrak gue.’

‘Iya deh, maaf maaf. Lo siapa?’, tanya cowok itu.

‘Hah?’

‘Nama lo?’

‘Oh, Vini.’, jawab Vini. Ngapain juga gue pakek nyebutin nama? Jaim dikit dong, Vin!

’Gue Kevin, murid baru. Kelas gue di 2 IPA 2. Kalo lo?’

‘Gue di 2 IPA 3’

‘Wah, sebelahan dong? Kapan-kapan boleh yah gue maen ke kelas lo? Gue belom punya temen sama sekali disini.’, ujarnya sambil tersenyum. Manis banget bagi Vini.

’Oh, iya. Eh, gue masuk kelas dulu ya?’, jawab Vini. Cowok itu mengangguk dan berjalan ke arah ruang guru. 
Ternyata dateng kepagian dan kena tabrak itu not bad, hehe. Tapi tunggu! 2 IPA 2 itu kan kelasnya Vani? Aduh, bisa keduluan nih gue! Gimana kalo si Kevin sukanya sama cewek yang kayak Vani?

Sampai di rumah, benar saja. Vani langsung curhat on the spot dengan Vini. Tumben.
‘Vin, lo tau nggak? Di kelas gue ada murid baru loh, ganteng! Ramah lagi.’

‘Oh’, jawab Vini datar. Benar dugaannya.

’Lo gak usah sok gak tau gitu deh. Lo udah kenal kan sama dia?’, todong Vani.

’Kok lo tau? Ngapain juga lo nanya’

’Si Kevin tadi ngajak ngobrol gue. Katanya, ’Vin, lo bilang tadi lo kelas 2 IPA 3? Kok ada disini?’

‘Terus?’

‘Ya, gue bilang aja kalo gue ini Vani. Vini itu kembaran gue. Kenalan deh!’, ujar Vani ceria.

Vini malas mendengarkan kata-katanya lagi. Pasti sebentar lagi Vani bakal menjadikan Kevin sebagai targetnya yang kesekian. Vani memang gak pernah gonta ganti pacar terlalu ekstrim. Tapi dia itu gila pujian dan sanjungan. Dia hanya ingin banyak orang menyayanginya. Dan setelah  tujuannya tercapai, orang itu akan di tinggal begitu saja.
‘Terus? Lo mau jadiin si Kevin sebagai target lo yang kesekian gitu?’, tanya Vini to the point. Memang cuma ia yang tahu semua tentang Vani.

’Ye, terserah gue dong!’, balas Vani cuek.

’Emang semuanya terserah lo, kak. Lo selalu menang.’, jawab Vini lirih dan keluar dari kamar. Vani tertegun. Gak biasanya Vini pasrah dan gak ngomel, dan gak biasanya Vini memanggilnya kakak. Malas berpikir, Vani hanya mengangkat bahu.

Vini berjalan sambil menunduk mengelilingi kompleks perumahannya. Gak peduli kemana aja, yang penting tidak melihat wajah kemenangan Vani.
Gue ini kalo di bilang bodoh mungkin terlalu bodoh ya? Selama gue hidup, mati-matian gue berjuang buat nunjukkin kelebihan gue, kalo gue beda dan bisa dipandang orang lain tanpa bayang-bayang Vani. Tapi ternyata gak bisa. Susah payah gue berusaha supaya di akui, tapi ternyata orang lain cuma bisa ngeliat gue sebagai tiruannya Vani. Barang imitasi. Harusnya gue tau itu dari awal.

Hari sudah beranjak malam, Vini belum juga pulang ke rumah. Papa dan mamanya sudah cemas tak karuan di rumah. Vani yang terakhir kali bersama Vini pun tidak tau adiknya dimana. Mamanya sibuk menelepon teman-teman Vini, dan papanya malah sibuk mondar-mandir.

’Pa, tenang aja. Bentar lagi Vini pasti pulang kok. Dia kan emang gitu, suka bandel. Paling dia cuma ngambek bentar.’, ujar Vani. Mamanya kini duduk pasrah karena tidak ada satu orang pun yang tau dimana Vini.

’Kamu tuh gimana sih? Ini udah jam 9 malem, Van. Kamu gak khawatir sama adik kamu?’, balas papa, 

’Papa harus cari Vini’, lanjutnya sambil mengambil kunci mobil dan bergegas keluar rumah.

’Mama ikut, pa!’. Vani pun mau tak mau harus ikut.

Di mobil, Vani sibuk mengomel.
‘Mama sama papa tuh terlalu manjain Vini tau nggak. Nanti dia bisa jadi tambah bandel’

’Bandel apanya sih, Van? Papa nggak ngerasa kalo Vini bandel. Dia suka iseng karena nggak punya temen di rumah. Kamu sih, gak mau perhatiin dia. Heran papa sama kalian, kembar kok gak akur.’, jawab papa. Makin kesal saja hati Vani. Awas lo kalo ketemu ntar !
Hari mulai mendung dan hujan, tapi Vini belum juga ditemukan. Mamanya sudah mulai menangis dan menyangka Vini diculik. Akhirnya mereka berhenti di sebuah taman yang bisa di kunjungi Vini. Ternyata benar, Vini ada di sana sambil duduk menangis.

’Vini!’, teriak mamanya lalu segera menghampiri dan memeluk Vini. Vini yang masih menangis sesunggukan membuat mamanya bingung.

’Kamu kenapa, Sayang?’, tanya papa lembut. Vini mendongak dan meliahat papa dan Vani juga ada disana. Tatapan mata Vani yang dingin dan sama sekali tak terlihat sedang mencemaskannya.

’Lo kenapa sih, Vin? Bikin susah orang aja. Kita capek nyariin lo!’, ujar Vani. Vini berdiri. Amarahnya sudah memuncak. Vini lelah menghadapi sikap Vani yang gak pernah bersahabat, bahkan pada adik kandungnya sendiri.

‘Kalo gitu gak usah cariin Vini!’, teriaknya di bawah hujan deras. Mama dan papanya terkejut. Selama ini walaupun sering protes dan bertengkar denagn kakaknya, Vini tak pernah sekalipun berteriak seperti itu.

‘Kamu kenapa, Sayang? Kalo ada masalah cerita sama mama..’, bujuk mamanya. Tapi kesabaran Vini sudah habis.

‘Kenapa mama sama papa selalu lebih sayang Vani daripada Vini? Kenapa selalu Vani yang di belain padahal Vini juga gak salah? Kenapa harus selalu Vini yang ngalah? Kenapa semua orang cuma ngeliat Vani, perhatiin Vani, dan gak pernah nganggep Vini? Padahal Vini udah berusaha jadi yang terbaik buat semuanya, padahal Vini gak pernah mau berantem sama Vani. Vini cuma mau punya kakak kayak orang-orang yang lain! Vini mau di sayang sama seperti kakak Vini, ma, pa....’, teriak Vini sambil menangis. Mama, papa, dan Vani tertegun. Bagitu berat beban yang harus Vini tanggung selama ini. Dibanding-bandingkan, bahkan Vini merasa kurang kasih sayang.

’Vini cuma mau papa, mama, dan Vani sayang sama Vini....’, ujar Vini lirih dan kemudian terjatuh. Vini pingsan.


Mata Vini mengerjap membiasakan dengan cahaya. Semalam dia pingsan dan baru sadar sekarang. Sudah siang, ternyata.

’Vini? Kamu sudah sadar, Sayang?’, kata-kata lembut mama semakin menyadarkan Vini. Vini hanya mengangguk. Ia melihat sekeliling dan tidak melihat papa maupun Vani. Mungkin papa ada di kantor atau Vani ada di sekolah.
Hah, kalaupun ada di rumah mana mungkin Vani mau perhatian sama gue, begitu pikir Vini.

’Semalem mama sama papa kaget denger kamu bicara kayak gitu’, ujar mama sambil menyuapi Vini. Vini tertegun dan ingat semua yang dikatakannya semalam. Emosinya sudah benar-benar memuncak dan Vini gak tau lagi harus berbuat apa.

’Maaf, ma’, ujar Vini lirih. Ia sempat melihat mamanya menagis semalam.

’Gak papa, Sayang. Mama ngerti, mama juga yang salah. Nanti kalo kamu udah sembuh, kita bicarain ini sama-sama ya?’, kata mama sambil tersenyum. Vini mengangguk. Pintu diketuk, Vani masuk. Mama tersenyum dan mengedipkan mata ke arah Vini lalu keluar kamar. Vini mengerenyitkan dahi tanda ia tidak mengerti. Vani duduk di samping tempat tidur Vini.

’Lo gimana?’, tanya Vani.

‘Gue gak papa’, jawab Vini pendek. Tumben Vini menanyakan keadaannya.

‘Gue mau minta maaf. Selama ini gue pasti jahat sama lo. Sampe lo ngerasa gak punya kakak. Maafin gue, Vin.’, ujar Vani lembut. Vini tak percaya apa yang di dengarnya barusan, ia hanya diam.

‘Lo salah. Bukan lo yang selalu kalah. Gue yang gak pernah ngerasa puas. Gue pengen terus di sayangi tanpa mikirin perasaan lo. Gue pengen jadi yang terbaik di mata semua orang, dan tanpa sadar gue jadi pake topeng. Gue janji, gue gak bakal kayak gitu lagi. Maafin gue, Vin. Gue sayang lo. Lo satu-satunya sodara yang gue punya...’, ujar Vani sambil menangis. Vini tersenyum lalu mengusap air mata kakaknya.

’Udahlah, kak. Gue gak papa. Maafin gue juga kalo gue suka bikin lo kesel. Gue sayang sama lo’, balas Vini. Vani lalu memeluk adiknya erat sambil tersenyum.

’Oh, iya. Tadi si Kevin tanya ke gue kenapa lo gak masuk. Dia titip salam buat lo. Katanya cepet sembuh. Kayaknya dia naksir deh sama lo, Vin. Ciye..’, ujar Vani sambil tertawa.
‘Kakak apaan sih?!’, Vini terseyum malu lalu menimpuk Vani dengan bantal. Tawa Vani makin menjadi.
Terima kasih Tuhan, ucap Vini dalam hati.